Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 13



Sinful Angel Bab 13


Sebuah percekcokan terjadi di salah satu kamar tipe presiden suit di Hotel The Ritz Carlton. Adu mulut kecil pasangan suami istri terjadi di waktu petang ini. Tidak lain dan tidak bukan mereka adalah tuan dan nyonya pemilik pesta yang akan merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke satu tahun.


“Ta, padahal gaun yang sebelumnya terlihat lebih baik dipakai, kenapa sekarang mendadak malah membeli baju jadi dari butik? Gaun yang tadi dibuat satu bulan lamanya, sudah disesuaikan dengan setelan jasku untuk pesta kita nanti, sama-sama berwarna merah marun, masa tiba-tiba kamu pingin ganti di waktu-waktu mepet begini?” Radhika melayangkan protes saat Prita memutuskan menanggalkan baju yang mereka pesan bersama. Mendadak memesan gaun baru tanpa berdiskusi terlebih dahulu.


“Duh, Mas. Pengertian dikit bisa gak sih!” Prita mendelik kesal. “Kan barusan aku sudah bilang apa alasanku mendadak beli gaun baru. Gaun yang kita pesan itu tadi ternyata enggak nyaman pas aku pakai. Bikin sesak di perutku yang lagi isi ini. Mas mau bayi kita di dalam perutku kena sesak napas karena bajunya kesempitan?” serunya marah.


“Masa sih? Kemarin sewaktu fitting aku lihat baik-baik saja pas kamu pakai. Lagian kamu baru hamil dua bulan lebih, gaun yang tadi pasti masih muat dipakai.”


Nada bicara Radhika yang terselip keraguan di dalamnya membuat Prita meradang. “Yang hamil itu aku! Yang ngerasain sesak dan enggaknya itu aku, bukan Mas!” Prita membentak dengan nada meninggi, tak terima dengan respons Radhika yang sama-sama keras kepala.


Prita membanting pengering rambut yang tergeletak di atas meja hingga menimbulkan bunyi gaduh, mengangetkan MUA yang baru saja datang untuk meriasnya.


Sesak dan kesempitan sebetulnya hanya alasan Prita saja. Dia mendadak membeli gaun baru dari butik langganannya setelah mendengar dari istri Vero bahwa Bisma benar-benar akan datang ke pestanya kali ini. Memilih gaun warna hitam yang warnanya merupakan favorit Bisma, ingin menebar pesona dan memporak-porandakan perasaan si mantan suaminya yang dulu sangat memujanya di pestanya nanti.


Undangan pesta dimulai pukul delapan malam. Bisma meminta Tya untuk datang minimal satu jam sebelumnya ke hotel tempatnya menginap. Supaya mereka bisa briefing sebentar sebelum berangkat bersama k tempat pesta.


Seorang wanita bergaun fusia semata kaki berbahan dasar kain satin murah dengan kilap menusuk mata yang amat norak, berdiri di depan pintu salah satu kamar hotel di lantai enam JW Marriot. Wanita berkulit kuning langsat itu tampak risi juga tak nyaman. Gaun model kemben yang dipakainya sesekali agak melorot sehingga ia harus terus membetulkan letaknya serta memeganginya. Mulutnya terlihat komat-kamit, entah sedang membaca do’a, atau mungkin sedang memaki.


“Dasar nenek lampir lintah darat! Bisa-bisanya akomodasi yang diminta pada klien lima juta, tapi sepatu dan baju yang dibelikannya ini paling totalnya cuma empat ratus ribu. Kenapa juga bajunya kudu model kemben ribet begini sih! Terus ini sepatunya juga licin! Arghhh!” Tya menggerutu sembari memijat tengkuknya yang berdenyut sakit tersulut emosi.


Omelannya terhenti kala pintu yang belnya tadi ditekan kini dibuka. Wujud yang membukakan pintu membuat Tya membelalak dengan mulut ternganga, hampir membuatnya terkena serangan jantung. Bukan karena horor, melainkan terpukau. Saat sesosok pria dengan otot terbentuk sempurna dalam balutan setelan hitam 'Rogatis' yang membungkus gagah daksa tinggi tegapnya berdiri di ambang pintu yang terbuka sempurna.


Bersambung.