
Sinful Angel Bab 8
Pesta anniversary yang dihelat Prita di adakan di Hotel The Ritz Carlton Jakarta. Prita dan Radikha pindah tempat tinggal juga memindahkan kantor utama Sinar Abadi ke Ibukota negara setelah mereka berdua resmi menikah.
Hari berganti begitu cepat berlalu dari awal pekan. Tak terasa sudah Kamis saja. Bisma pulang lebih cepat hari ini. Jam lima sore dia sudah berada di rumah, tak seperti biasanya yang selalu di atas jam tujuh atau jam delapan malam. Berencana berangkat malam ini ke Jakarta, banyak hal yang hendak dipersiapkannya sebelum menghadiri pesta si mantan istri Sabtu malam nanti.
“Apa tidak sebaiknya Aden berangkat besok subuh saja? Tidak capek langsung ke Jakarta selepas Isya?” Mang Eko yang sedang membantu mengepak beberapa barang yang akan dibawa Bisma berkomentar.
“Capek sih, Mang. Tapi aku harus mengurus beberapa hal penting besok pagi di Jakarta. Kalau berangkat Subuh berasa diburu-buru waktu karena arus lalu lintas tak bisa diprediksi dengan pasti. Terutama situasi tol dalam kota. Di saat sedang lancar pun terkadang mendadak macet,” jelasnya sembari memasukkan sebuah kotak perhiasan berwarna merah ke dalam koper.
Kegiatan mengepak selesai ketika adzan Maghrib berkumandang. Baik Mang Eko juga Bisma, keduanya bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan tiga rakaat Maghrib.
Pukul delapan malam Bisma bertolak dari Bandung dengan tujuan Jakarta. Menghindari makan malam berlebihan sebelum berangkat dan hanya mengisi perut ala kadarnya, khawatir dihinggapi kantuk selama mengemudi. Tumbler tahan panas berisi kopi espresso menemani perjalanannya, meneguknya setiap kali ada kesempatan guna mengusir rasa ingin memejamkan mata yang terkadang datang tiba-tiba.
Pukul dua belas malam Bisma akhirnya tiba di kota tujuan. Perjalanannya terbilang lancar dan hanya terjebak kepadatan dalam kota yang tidak terlalu parah, masih dalam tahap wajar mengingat akitivitas Ibukota seakan tak pernah tidur.
“Akhirnya, sampai juga,” desahnya lega saat sudah berada di dalam kamar. Memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri juga meregangkan punggungnya yang terasa pegal setelah mengemudi beberapa jam.
Tak membuang waktu, Bisma langsung bersiap-siap beristirahat. Sebelum memejamkan mata, dia membuka aplikasi berwarna hijau di ponselnya, mengetikkan pesan yang dikirimkan ke akun Date House. Meralat janji bertemu yang semula sudah disepakati Jum’at sore jadi dipindah ke waktu sarapan.
Saya tunggu besok pukul delapan pagi di JW Eat Out Restaurant untuk negosiasi dan deal. Saya akan membayar kompensasi terkait perubahan jadwal janji pertemuan. Terima kasih.
Sementara itu di sebuah rumah sakit di pinggiran kota Jakarta di larut malam ini. Seorang wanita berparas ayu bermata teduh tengah terkantuk-kantuk memeluk tas kanvas di bangku tunggu selasar rumah sakit. Berdempetan di bangku sempit itu dengan penunggu pasien yang lainnya. Saking mengantuknya ia nyaris tak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya, hampir tersungkur ke depan.
Ponsel android di saku celana jeansnya berbunyi. Sebuah gambar pesan masuk muncul di bar notifikasi. Menutup mulutnya yang menguap mengunakan sebelah telapak tangan, dengan malas wanita itu membuka isi pesan.
Tya, janji bertemu dengan klien berubah jadwal. Besok pagi jam tujuh kamu sudah harus berada di markas kita. Jangan lupa dandan yang cantik.
Bersambung.