
Sinful Angel Bab 73
Tya nyaris menjatuhkan piring saji berisi udang goreng tepung yang baru saja matang. Tepat saat berbalik badan, ia dikejutkan dengan sosok Bisma yang ternyata sudah berada di dapur.
“Ya ampun, Mas! Bikin kaget deh,” protes Tya seraya mengelus dadanya sendiri.
“Bukan aku yang bikin kaget, tapi kamu yang terlalu serius dengan kompor dan wajan di depanmu sampai-sampai enggak mendengar suamimu sudah pulang bekerja,” kekeh Bisma yang tengah menyandarkan sisi kanan tubuhnya ke dinding dengan kedua lengan terlipat di depan.
“Su-suami?” Tya membeo, menelan ludah. “Ma-maaf, Mas. Tadi aku_”
“Masak apa?” potong Bisma dan otomatis Tya menghentikan kalimat tergagapnya.
Bisma tak memedulikan Tya yang mengerjap tak menentu, bahkan lidah Tya mendadak kelu saat ditanya menu apa yang dimasaknya. Bisma memangkas jarak menghampiri dan melihat isi piring yang sedang di pegang Tya. Mengambil satu potong udang goreng, menyumpalkannya ke dalam mulut.
“Mmm, enak. Renyah dan enggak terlalu asin. Aku suka,” puji Bisma santai saja, sedangkan jantung Tya berlompatan liar sekarang, antara senang juga kaget. Baru kali ini Tya memasak untuk Bisma tanpa campur tangan Teh Erna dan sama sekali tak menyangka Bisma akan memuji masakan perdananya.
“Eh, beneran enak?” tanya Tya penasaran. Kedua alisnya nyaris menyatu saat ia mengernyit.
“Iya, enak. Kamu masak sendiri? Mana Teh Erna?”
“Oh, itu ... Teh Erna kuminta pulang lebih awal. Sesekali, biar bisa menikmati oleh-oleh dari Bali secepatnya dengan keluarganya. Kalau pulang malam, cucu-cucunya pasti sudah pada tidur.” Tya berusaha untuk tidak menjawab tergagap lagi, meskipun kini debaran di balik rongga rusuknya berdegup tak aman.
“Gimana acara berkunjung ke rumah temanmu? Lancar?”
Tya mengangguk pelan. “Lancar, Mas.”
“Suka main di sana?” sambung Bisma lagi.
“Enggak lupa kontrol ke rumah sakit kan? Gimana kata dokter?” Tanpa sungkan Bisma terus bertanya dengan nyaman tentang hal-hal yang dilakukan Tya hari ini. Topik obrolan berisikan perhatian yang paling diimpikan para istri saat suaminya pulang bekerja.
“Kata dokter kondisi tulang patahku semakin membaik dan membaik dari waktu terakhir kali kontrol. Makanya aku ingin mencoba memasak sendiri sekalian melatih kekuatan tangan kananku lagi,” jawab Tya semringah.
“Mana coba kulihat bekas jahitannya,” pinta Bisma.
“Huh, bu-buat apa?” Tya agak ragu menunjukkan bekas sayatan operasi di lengan kanannya. Untuk itulah dia selalu memilih memakai baju berlengan panjang guna menutupi bekas luka jahitan tersebut, masih menyisakan jejak di permukaan kulit meski samar setelah rutin mengoleskan salep paten terbaik yang diresepkan dokter.
Tanpa menunggu persetujuan, Bisma menghela lembut tangan kanan Tya. Menggulung lengan baju Tya ke atas.
“Eh, Mas. Jangan dilihat!” Tya hendak menarik tangannya, tak percaya diri kalau sampai Bisma melihat bekas jahitan di bagian lengan sekitar lima senti di atas siku. “Aku malu!” pekik Tya tak menutupi lagi.
“Diamlah,” kata Bisma yang kini mengamati bekas jahitan tersebut, menggulirkan jemarinya di atas bekas luka. Tya sampai menahan napas saat Bisma membelai selembut sentuhan kapas.
Tya lantas menengadah sedangkan Bisma lebih menunduk lantaran selisih tinggi badan mereka lumayan signifikan. Mempertemukan tatapan keduanya dalam satu garis lurus. Bergulir saling menyelami netra masing-masing.
“Kenapa mesti malu? Aku bahkan sudah melihat kulitmu secara keseluruhan bukan?” Bisma berucap penuh arti dengan sebelah alis terangkat naik.
"Hah?" Tya malah melongo, dibuat salah tingkah dengan sikap Bisma yang kelewat manis dari biasanya.
Bisma mengukir senyum tampannya kemudian mendaratkan kecupan tepat di atas bekas sayatan operasi di lengan Tya.
“Itu obat tambahan dariku. Supaya lekas sembuh. Aku mau mandi dulu, nanti kita makan malam sama-sama,” ujarnya yang kemudian mengusap puncak kepala Tya sambil lalu. Pergi ke kamarnya meninggalkan Tya yang terpaku dengan pipi merona merah.
Bersambung.