
Sinful Angel Bab 148
Di sebuah restoran mewah yang berlokasi tak jauh dari Agra Prime, Markus terlihat sudah datang dan duduk lebih dulu pada meja yang sudah direservasi oleh mitra bisnisnya, yang diinfokan kepada sekretarisnya.
Raut wajah Markus semringah luar biasa. Bagaimana dia tidak senang, pagi ini Markus mendapat info bocoran bahwa mertuanya sedang menimbang memberikan hadiah untuknya jika akhir tahun ini semua kerjasama perusahaan berjalan lancar. Juga karena tahun ini dirinya telah berhasil melebarkan sayap perusahaan milik mertuanya itu dengan bermitra dan bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan ternama.
Biasanya ayah mertuanya itu akan membebaskan anak dan menantunya meminta apa saja saat kesempatan reward semacam ini diberikan, dan Markus berniat hendak meminta beberapa persen saham perusahaan atas nama pribadinya, karena selama ini istrinya lah pemilik saham yang lebih besar daripada dirinya pada perusahaan yang dikelolanya. Mengingat Markus hanya menantu.
Tak berselang lama, sosok yang ditunggu Markus akhirnya datang. Bisma yang didampingi Poppy dan salah satu staf Agra Prime menghampiri meja. Poppy dan si staf undur diri, bergabung pada meja di mana sekretaris Markus berada, meninggalkan para bos di meja ekslusif yang sudah disediakan.
“Selamat sore, Pak Bisma. Bagaimana kabar Anda hari ini?”
“Selamat sore juga, Pak Markus. Kabar saya baik. Silakan dipesan dulu minumannya sebelum kita berbincang lebih lanjut. Saya harap minuman yang Anda pesan bukan yang beralkohol. Seperti yang Anda ketahui, saya tidak minum dan jujur saja saya kurang nyaman jika ada jenis minuman itu tersaji di meja saya meskipun saya tidak meminumnya.”
Bisma sengaja mengultimatum. Sebab pada pertemuan terakhir sebelum hari ini, Markus mendadak memesan minuman beralkohol saat mereka janji bertemu, sementara Bisma keberatan jika minuman semacam itu tersaji di mejanya walaupun dia tak mencicipi.
"Saya sangat senang mendapat undangan bertemu dari Anda di sore hari ini walaupun terbilang darurat. Tapi saya selalu bersemangat jika Anda yang mengundang. Karena setiap kali sehabis kita bertemu, jalinan kerjasama perusahaan kita biasanya semakin erat saja.” Markus menyapa akrab setelah Bisma duduk sempurna berhadapan dengannya.
Bisma mengulas senyum sekilas. “Terima kasih sudah meluangkan waktu Anda untuk memenuhi janji pertemuan darurat ini, Pak Markus,” kata Bisma dengan nada formal seperti biasa. “Ini saya lakukan sebab ada hal penting yang ingin segera saya bicarakan dengan Anda.”
“Dengan senang hati, Pak Bisma. Entah kenapa saya selalu mencium aroma kesuksesan setiap kali kita berbincang terkait pekerjaan. Biar saya tebak hal penting yang akan menjadi topik sore ini. Pasti tidak jauh dengan obrolan bisnis di pertemuan terakhir kita kan? Pasti Agra Prime ingin menambah pasokan air mineral untuk bahan baku lebih banyak seperti terkahir kali iya kan?” ujarnya antusias, bertutur penuh semangat disusul tawa renyah.
Jika tebakannya benar, maka akan sangat menguntungkan baginya baik secara pribadi maupun untuk perusahaan yang dikelolanya. Juga jika benar, maka mertuanya akan semakin menaruh kepercayaan besar padanya. Berharap nantinya orang tua Resya memberikan salah satu perusahaan menjadi miliknya jika pencapaian kerjanya terus merangkak naik.
Walaupun dalam setiap kerjasama yang terjalin setelah Markus menduduki kursi jabatan presdir di dua tahun terakhir ini, tidak semuanya didapat melalui jalur bersih. Markus banyak menghalalkan berbagai macam cara agar kerjasama dengan perusahaan lain terjalin cepat supaya citra dirinya semakin naik pamornya di hadapan mertuanya. Demi membangun image berprestasi juga berbakat dalam mengelola perusahaan.
Bisma menyandarkan punggung, menyilangkan kaki juga bersedekap. “Sayangnya tebakan Anda kali ini kurang tepat, Pak. Saya mengajak bertemu bukan untuk menambah permintaan pasokan, tapi saya ingin membatalkan kerjasama perusahaan kita,” kata Bisma menyampaikan niatannya dengan lugas.
Markus yang sejak tadi tersenyum lebar mendadak mematung. Tawa semringahnya pun surut. Lantas punggungnya menegang saat mencoba mencerna kalimat yang baru saja dikatakan Bisma.
“Tunggu, ini… ini pasti cuma bercanda bukan? Ahahaha, Anda ini ternyata pandai melawak juga rupanya,” ujar Markus, masih jumawa meskipun mulai resah lantaran Bisma tidak ikut tertawa sebagaimana lumrahnya sebuah candaan.
Sontak Markus bangkit dari duduknya hingga kaki kursi yang didudukinya berderit kencang bergesekkan dengan lantai, imnasy dari yang duduk di sana serta merta berdiri sekaligus tanpa ancang-ancang.
“Tidak, Anda tidak bisa dan tidak boleh seenaknya memutus kerjasama secara sepihak. Harus jelas alasannya dan tidak etis mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan! Kalau begini Anda akan dianggap tidak professional sebagai pengusaha Pak Bisma, saya bisa saja menyebarkan ketidakprofesionalan Anda ini di komunitas para pebisnis tanah air dan citra Anda sebagai pengusaha pasti dicap buruk!”
Markus berteriak tak terima, wajahnya merah padam terbakar kemarahan juga kecemasan luar biasa karena ikan besar seperti Agra Prime malah ingin menyudahi kerjasama. Sudah pasti berpengaruh pada reputasi perusahaan juga reputasinya sendiri. Dipastikan menimbulkan banyak tanya di luaran jika Agra Prime mendadak tak lagi bermitra dengannya. Juga, jika dia dicopot dari posisi jabatan tingginya akibat performa kerja yang buruk, maka dipastikan mengancam gaya hidup hura-huranya yang tersembunyi rapi di balik image berbakatnya.
“Tentu saja saya bisa. Profesional atau tidak, saya rasa Anda pun tidak seprofesional itu Pak Markus. Banyak pengajuan kerjasama yang lolos karena Anda menggelontorkan pelicin jalan belakang. Tidak usah mengelak, beberapa pengusaha membicarakan kinerja Anda di belakang punggung Anda walaupun saya tidak ikut menimbrung. Bahkan kabarnya, Anda mencarikan para pengusaha-pengusaha itu wanita simpanan sebagai bentuk fee. Entah bagaimana reaksi mertua Anda andai mengertahui kinerja kotor menantu yang dipercaya memimpin perusahaan mereka,” tutur Bisma santai saja dengan senyum tersungging, menderaikan kalimatnya tanpa emosi.
Markus tak mampu menyangkal karena hal itu benar adanya. Dia dilanda panik sekarang, tak disangka Bisma yang terlihat kalem ternyata memiliki informasi valid tentang kebusukannya padahal sudah ditutupi serapi mungkin, bertambah panik saat Bisma ikut mengangkat topik tentang mertuanya.
Sial! Umpatnya dalam hati.
“Jangan macam-macam dengan menyinggung perihal mertuaku! Cukup di antara kita saja. Oke, kita akhiri kerjasama ini. Tapi kompensasinya tiga kali lipat dari yang sudah disepakati karena Anda lah yang melanggar perjanjian!” seru Markus yang kini menyeringai miring.
Setidaknya kemarahannya mendapat asupan gizi saat menemukan wadah pelampiasan, yaitu pada biaya pinalti yang harus dibayarkan Bisma. Akan dipakainya untuk berhura-hura guna mengenyahkan sedikit saja kemarahan tertahannya hari ini.
Bisma mencondongkan tubuh. Senyumnya semakin lebar. “Sayangnya tidak ada biaya kompensasi yang akan saya bayarkan walaupun cuma secuil, Pak Markus. Apalagi tiga kali lipat. Saya mendadak ingin mengajak Resya bertemu dan memberi sedikit bocoran tentang keliaran suaminya di luaran. Tentang kegemaran Anda bermain wanita juga beberapa kali menggelapkan dana perusahaan, pasti seru bukan? Juga, bagaimana jika putra yang Anda sayangi mengetahui tabiat busuk ayahnya sejak dini? Padahal dia sangat bangga pada ayahnya. Dibenci oleh orang lain itu biasa, tapi dibenci anak sendiri bukankah itu neraka dunia?”
Wajah Markus pias saat Bisma menyebut perihal putra sulung kesayangannya. Sebejat-bejatnya Markus, dia tetap menyayangi putranya yang kini sudah memasuki bangku sekolah dasar.
"Kenapa... kenapa Anda melakukan ini pada saya, Pak Bisma? Bukankah Anda selalu menegaskan bahwa urusan kita hanya terkait bisnis? Kenapa sekarang merembet dan disangkut pautkan pada hal-hal pribadi!" desis Markus dengan laju napas cepat tak beraturan.
Dia tahu betul pengaruh keluarga Bisma sekuat apa, bahkan keluarga mertuanya pun masih jauh pamornya di bawah pengaruh almarhum Bima dan Viona. Bukan lawan sebanding jika dia nekat mengibarkan peperangan.
"Awalnya memang begitu. Tapi Anda sendiri yang memulai. Anda yang lebih dulu mengusik ranah pribadi saya, yaitu mengusik ketenangan hidup istri saya dan mengancamnya menggunakan titik lemah masa lalunya. Dulu, mungkin Tya bisa Anda intimidasi sesuka hati. Tapi sekarang dia adalah istri saya, wanita yang sangat saya hormati dan saya sanjung. Jadi, ingat baik-baik, Tya yang sekarang adalah Nyonya Bisma, sedangkan Tya yang lama sudah tidak ada lagi. Paham!"
Bersambung.