Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 108



Sinful Angel Bab 108


Bersimpuh di atas sajadah itulah yang Tya lakukan. Menjerit memohon ampun dalam sedu sedannya. Menumpahkan kesedihan. Menuang segala keluh kesah kekalutan. Dengan kedua tangan menengadah, ia melangitkan do’a meminta pada sebaik-baiknya tempat meminta pertolongan.


Kekalutan masih membungkusnya hebat. Sakitnya Viona sungguh membuatnya merasa bersalah, merasa telah menjadi sumber penyebabnya. Menandakan bahwa mertuanya kecewa berat padanya sehingga kabar gembira tentang kehamilannya pun belum berani diberitahukannya pada siapapun termasuk pada Bisma.


Tya takut, dirinya dianggap tidak pantas mengandung anak Bisma oleh keluarga Bisma. Takut akan penerimaan terkait kehamilannya tidak disambut dan diinginkan.


“Kenapa aku jadi pengecut sekarang? Andai aku tahu jatuh cinta membuatku jadi memiliki banyak ketakutan, seharusnya orang sepertiku jangan pernah berani untuk mencintai,” isaknya nelangsa.


Sungguh, Tya didera gamang juga bimbang. Merasa jadi duri penyebab perpecahan ibu dan anak. Entah langkah apa yang harus diambilnya. Entah solusi seperti apa yang bisa menjadi jalan keluar agar Bisma dan Viona kembali sejalan seirama, tidak mungkin hanya dengan berpangku tangan semua permasalahan bisa terselesaikan. Jika hanya diam saja Tya makin merasa tak berguna.


“Jika aku pergi dari hidup Mas Bisma, mungkinkah bunda dan Mas Bisma bisa kembali harmonis? Tapi aku harus pergi ke mana dalam kondisi berbadan dua begini?” lirihnya bingung.


Kalau hanya tentang dirinya sendiri, Tya tidak pernah takut hidup susah dan terlunta-lunta. Meskipun saat membayangkan harus berpisah dari Bisma jantungnya sakit tiada tara. Seperti diremas jari-jari kasar berkuku tajam tak kasat mata.


Namun, ketika mengingat kini ia tak sendiri lagi, ada bayi di dalam rahimnya, Tya merasa kian bersalah jika anaknya harus ikut hidup sengsara. Pasti anaknya merasa tak adil andai si jabang bayi tahu ibunya tidak ikut berjuang meyakinkan neneknya bersama sang ayah dan malah memilih menjadi pecundang.


Posisi Tya diimpit kesulitan menyesakkan saat ini. Bahkan untuk bernapas pun rasanya nyeri. Berusaha keras menjaga kewarasannya dalam mengambil keputusan di situasi yang serba salah ini. Menjaga telinga dan hatinya dari embusan bisikan menyesatkan yang terus memerintahkannya untuk menyerah.


“Haruskah aku menemui bunda, bicara dan memohon padanya? Bukankah sebagai seorang istri aku juga harus membantu meringankan beban suamiku? Terlebih lagi semua permasalahan pelik ini terjadi karena kehadiran mendadakku dalam keluarga ini."


Tak ingin hanya terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri yang tak kunjung menemui titik terang, Tya bangkit dari sajadahnya dan menyambar ponselnya. Menekan sambungan telepon pada nomor seseorang yang terlintas di benaknya. Seseorang yang dirasa tepat dan yakin bisa diajak bicara secara terbuka sekaligus hendak meminta saran dan nasihat.


“Assalamualaikum, halo Ustadzah Farhana.”


*****


“Beberapa hari ke depan kemungkinan aku bakal pulang malam lagi. Minta saja Teh Erna menginap untuk satu minggu, supaya kamu ada teman di rumah.” Bisma yang sedang memakai sepatunya pagi ini berkata pada Tya yang berdiri di hadapannya.


“Kerjaan kantor lagi sibuk banget ya, Mas?” tanya Tya seolah tak tahu menahu tentang permasalahan yang membuat Bisma lebih sibuk dari biasanya. Padahal, ia sudah tahu penyebab keterlambatan pulang suaminya itu terkait persoalan dengan ibu mertuanya.


Bisma mendongak. “Iya, Sayang. Sangat sibuk, ada pekerjaan tambahan. Tapi aku usahakan ini cuma sementara. Sabar ya.”


Bangkit dari duduknya, Bisma merangkul Tya dan mencium ubun-ubun sang istri penuh cinta.


“Yang penting Mas jaga kesehatan. Aku bikin wedang penjaga stamina yang kumasukkan ke dalam tumbler tahan panas, sudah kutaruh di mobil. Jangan lupa diminum ya,” cicit Tya sembari tetap memasang senyum cantiknya.


“Makasih banyak, Sayang. Untuk wedang penuh cintanya,” ucap Bisma senang. Diperhatikan dan dilayani begitu detail setiap hari membuat Bisma makin cinta pada sosok wanita di pelukannya. "Gimana lambungnya, sudah enakan? Mau ke rumah sakit?"


Bisma bertanya tentang hal itu lantaran tadi pagi Tya mendadak muntah-muntah lagi saat bangun pagi walaupun tidak parah. Dan mualnya mereda dengan cara yang agak aneh bagi Bisma, reda setelah Tya meminum kopi hitam di cangkirnya satu tegukan saja. Padahal, biasanya Tya tidak begitu menyukai kopi pahit, lebih suka yang manis.


"Udah enakan, Mas. Enggak usah ke rumah sakit. Paling cuma efek masuk angin lagi. Mungkin karena akhir-akhir ini cuaca Bandung dingin terus. Tapi, nanti siang aku pingin ke rumah Khalisa boleh enggak? Ada perlu, mau les privat jadi istri binangkit,” ujar Tya, mengekeh pelan.


“Boleh, tapi perginya diantar Mang Eko. Jangan naik kendaraan umum. Aku selalu punya firasat enggak enak kalau membiarkanmu pergi sendiri. Apalagi daya tahan tubuhmu rentan akhir-akhir ini.”


“Siap, Bos,” jawab Tya sembari membentuk hurup ‘o’ menggunakan telunjuk dan ibu jari.


*****


Nara keluar dari ruang perawatan Viona saat Sita datang bersama tamu yang katanya ingin menjenguk Viona. Rupanya Khalisa yang datang ke rumah sakit, menjenguk di waktu menjelang siang ini dengan membawa sekeranjang besar parsel buah.


“Maaf ya, Bundanya lagi tidur,” kata Nara dengan volume rendah, bicara pelan-pelan.


“Tidak masalah, Bu Nara. Namanya orang sakit butuh istirahat ekstra,” sahut Khalisa penuh pemakluman.


“Duh, jadi ngerepotin sampai datang ke sini segala. Makasih banyak ya, Nyonya Yudhis.”


“Sama sekali tidak merepotkan. Semoga berkenan menerima buah tangan sederhana ini.”


Nara mengungkapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya atas kedatangan salah satu customer VIPnya yang mendadak menjenguk sang bunda. Menaruh parsel buah yang dibawa Khalisa sebelum mempersilakan Khalisa duduk.


Sita yang datang bersamaan dengan Khalisa bersiap kembali ke butik setelah menyerahkan beberapa laporan penting terkait VN yang beberapa hari ini ditanganinya. Undur diri berpamitan dari sana.


Khalisa merupakan salah satu customer tetap VN Fashion dan sudah tentu mengenal baik Nara dan Viona juga. Khalisa memutuskan menjenguk begitu mendengar Sita hendak ke rumah sakit.


“Tadi saya ke butik yang di TRP, bermaksud menambah pesanan lain. Saya ingin bikin baju muslim seragam buat saya dan ibu mertua sekeluarga, mau ada acara penting bulan depan. Tapi kata Manager Sita, Bu Nara lagi di rumah sakit nunggu Nyonya Viona. Jadinya saya mampir ke sini sekalian ingin ikut menjenguk. Semoga Nyonya Viona lekas sembuh kembali,” jelas Khalisa sembari tersenyum hangat.


“Aamiin, makasih atas perhatian dan do’anya ya. Maaf sekali karena saya sedang tidak di tempat. Tapi untuk pemesanan, Nyonya Yudhis bisa menjabarkan detail gaun yang diinginkan sekarang juga, karena jika acaranya bulan depan maka harus disegerakan. Akan saya coba buatkan beberapa desain yang disesuaikan dengan keinginan Anda dalam dua hari dan akan saya kirimkan melalui email supaya Anda bisa memilih.”


“Tidak perlu sekarang, Bu Nara. Nanti mengganggu. Setelah Nyonya Viona membaik, kita bisa membahas tentang pesanan saya.”


Nara menggeleng perlahan. “Jangan khawatir, sama sekali tidak mengganggu. Sambil nunggu Bunda, saya bisa sambil berkarya membuat desain dan saya suka itu,” tuturnya sungguh-sungguh.


Obrolan mereka berlanjut pada desain yang diinginkan Khalisa. Khalisa menerangkan garis besarnya saja lantaran tak ingin menyita waktu Nara terlalu lama terlebih lagi ini di rumah sakit.


Setelah hampir rampung, tiba-tiba saja Nara teringat terkait Khalisa yang konon katanya merupakan teman baik Tya sejak lama. Nara menimbang-nimbang ingin menggali informasi secara langsung tentang sosok Tya selain dari hasil penyelidikan yang tertuang pada lembaran kertas.


“Nyonya Yudhis, maaf out of topik. Barangkali berkenan, saya punya hal penting yang ingin ditanyakan kepada Anda,” ucap Nara.


“Silakan, Bu Nara. Ada yang bisa saya bantu?” balas Khalisa antusias.


Nara membasahi bibir, merangkai kata sebelum berucap, sempat ragu untuk sejenak, tetapi kemudian hatinya mantap untuk bertanya. Bukan hanya sekadar ingin mengorek informasi, Nara melakukan ini berharap ada titik terang untuk memberi pengertian pada bundanya tentang sosok Tya, menggali informasi dari seseorang yang dekat dengan Tya sejak lama.


“Begini, ini tentang Tya. Adik ipar saya. Mungkin ini agak lancang. Tapi saya ingin bertanya tentang pribadi Tya dari sudut pandang Anda. Juga, apakah benar Tya adalah mantan kupu-kupu malam?”


Khalisa cukup dibuat terhenyak dan keterkejutan di wajahnya terbaca cepat oleh Nara.


“Maaf, kalau pertanyaan ini membuat Anda kaget, tapi saya bertanya pun karena ada alasan kuat yang mendasari, demi meredam gejolak yang sedang terjadi antara Bunda dan adik saya. Saya harap Anda tidak salah paham,” sambung Nara menambahkan.


Khalisa mengangguk-angguk, mulai paham akan maksud pertanyaan Nara.


“Saya tidak tahu harus mulai bercerita dari mana. Yang jelas kami tumbuh di panti asuhan yang sama. Mbak Tya bagi saya adalah sosok yang memiliki hati penuh kasih secantik bidadari yang terpaksa terjebak di kubangan hitam. Semenjak dapat mengingat. Mbak Tya selalu menjadi pelindung dan penolong bagi adik-adiknya di panti asuhan dulu. Termasuk saya,” tutut Khalisa sembari menatap sendu jarinya sendiri yang bertaut di pangkuan.


“Maaf, saya tidak bermaksud mengungkit kenangan Anda,” ujar Nara tak enak hati saat mengetahui bahwa Khalisa juga berasal dari panti asuhan yang sama dengan Khalisa.


Khalisa tersenyum, mengisyaratkan pada Nara bahwa dirinya baik-baik saja. “Tidak hanya jadi pelindung di saat saya masih di panti, sewaktu saya bertemu kembali setelah dewasa dan saat itu saya sedang berada di fase terendah hampir terjerumus ke lembah hitam, Mbak Tya lah yang menjadi penolong saya. Pasang badan untuk saya, berdiri di garda terdepan, menyadarkan dan menyelamatkan saya dari hal buruk, merelakan dirinya menjadi tameng untuk saya.”


Nara makin dibuat tercengang ketika Khalisa bertutur semakin panjang. Semakin prihatin dengan nasib adik iparnya itu. Tanpa mereka berdua sadari, sudah sejak lima belas menit yang lalu Viona terbangun dan menyimak setiap kata demi kata yang dari kisah yang diceritakan Khalisa. Mendengarkan dengan saksama tanpa bersuara.


Bersambung.