Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 151



Sinful Angel Bab 151


Dua napas berderu memburu yang saling bersahutan berangsur-angsur mereda. Atmosfer kamar yang membara perlahan syahdu. Suasana penuh gelora meliar kembari mesra melembut.


Seperti biasa, setiap kali mereka usai memadu kasih, Bisma paling betah memeluk Tya dan memosisikan istrinya itu sedikit menelungkup di sisi tubuh gagahnya, saling bergesekkan kulit di bawah sehelai selimut yang sama.


Bisma memeluk mesra. Menggelamkan Tya di ceruk lehernya sembari mengusap-usap punggung lembab Tya yang berpeluh sehabis bercinta, menyusuri dengan sentuhan kasih sayang.


Tya yang juga balas memeluk raga tegap berotot liat yang mendekapnya posesif itu, membelai-belai dada bidang Bisma seirama dengan usapan Bisma di punggungnya, balas mengekspresikan rasa melalui sentuhan. Sembari menetralkan laju udara di paru-paru, keduanya setia saling membelai mesra tanpa kata untuk beberapa saat.


“Ternyata cerita Vero memang benar,” ucap Bisma membuka kata. Mencium puncak kepala Tya dalam-dalam. Mengukir senyum di wajah tampannya yang masih terlihat gurat lelahnya, kendati begitu kepuasan tercetak jelas di sana refleksi dari pemenuhan nafkah batin yang sama puasnya.


Tya mendongak bersamaan dengan Bisma yang menunduk. Tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus.


“Cerita apa?” Kening Tya terlipat memetakan tanya.


“Cerita tentang betapa seksi dan hotnya istri yang sedang hamil di atas ranjang. Dan ternyata itu benar, aku jadi ingin sering-sering hamilin kamu,” bisik Bisma menggoda penuh arti. Menciumi wajah Tya bertubi-tubi, bahkan telapak tangannya meraba nakal di bawah sana, meremas aset belakang sang istri yang makin hari semakin bulat berisi imbas dari kehamilan yang sedang berlangsung.


“Ey… obrolan para pria ternyata mesum!” Tya meninju perut berotot Bisma, kedua matanya memicing penuh tuduhan.


Bisma tergelak. “Bukan cerita mesum lah, Sayang. Cuma suatu kali Vero pernah memanas-manasi sewaktu aku pernah berkata tak berminat lagi punya istri. Kira-kira setahun pasca perceraianku dengan Prita. Dan sekarang aku bisa mempercayai ucapan Vero, ternyata memang fakta, ” kekehnya kemudian.


Pipi Tya merona malu bersama gema syukur berderai di dalam kalbu. Di saat Tya hendak membuka mulut lagi, gemuruh nyaring dari lambung si pria tercintanya menginterupsi.


“Ya ampun, Mas kan belum makan.” Tya menepuk jidat, buru-buru bangkit sembari memegang selimut erat-erat di depan tubuhnya yang polos tanpa pakaian.


“Abisnya ada yang lebih menggoda buat dimakan,” sahut Bisma yang malah hendak menarik Tya supaya berbaring lagi di sebelahnya.


“Ayo bangun dan kita turun, aku siapin makanannya. Aku takut nanti Mas sakit lambung!” tegas Tya yang berupaya untuk tidak luluh dengan rayuan suaminya yang jujur saja memang sangat sulit untuk ditolak. “Aku juga mendadak lapar, pingin makan puding coklat buatan bunda yang disajikan sebagai menu penutup pas makan malam tadi.”


Bisma serta merta menegakkan punggung saat bundanya disebut dalam kalimat Tya. Baru teringat sebelum naik tadi dia meminta bundanya membuatkan mie favoritnya, tetapi karena istrinya tersaji menggugah selera mengalahkan menu lezat yang pernah ada, Bisma sampai terlupa.


“Aku lupa, tadi minta bunda buatkan mie kesukaanku buat makan malam,” ujarnya seraya menyugar rambut.


“Hah, apa! Jadi sebelum Mas naik ke sini Mas minta bunda masakin makan malam? Duh, gimana kalau Bunda nunggu lama, terus gimana kalau tadi bunda naik ke sini dan mendengar suara-suara aneh kita!”


Tya menggigit bibirnya resah, tulang pipinya bersemburat merah karena malu membayangkan kemungkinan Viona mendengar ******* liarnya dengan Bisma saat bergumul di atas ranjang barusan. Untuk sejenak terlupa, bahwa ini adalah rumah ibu mertuanya.


Bisma mengecup pipi Tya. “Jangan cemas begitu. Aku yakin bunda juga paham, sama-sama pernah muda. Kalau kamu juga lapar, sebaiknya sekarang kita bersih-bersih dulu terus wudhu sebelum turun. Mandi junubnya nanti saja sebelum Subuh. Ini sudah hampir jam dua belas malam.”


Di meja makan, mereka menemukan kertas memo yang berisikan tulisan tangan sang bunda.


Bunda sudah buatkan saus lengkap dengan seafodnya di wajan yang diletakkan di atas kompor. Sudah Bunda bumbui, tinggal kamu masukkan mie kuning dan sayurannya yang Bunda taruh di atas meja buat dimasak sebentar, dimakan ya. Juga, jangan terlalu memforsir istrimu, kendalikan darah panasmu itu!


Bisma mengukir senyum bahagia. Bundanya memang sungguh pengertian. Sedangkan Tya terus saja menepuk-nepuk pipinya sendiri yang memanas setelah ikut membaca catatan tersebut. Malu sekali rasanya, pasti mertuanya benar-benar mendengar ******* mereka.


“Duh, gimana ini? Bunda pasti denger suara-suara kita tadi,” cicit Tya gundah. Menjitak kepalanya sendiri.


“Sudah, jangan dipikirin. Sekarang kamu duduk saja, biar aku ambilkan puding yang kamu mau. Bunda selalu punya stok puding coklat di kulkas. Sementara kamu makan, aku mau matangkan mieku dulu.” Bisma menghela bahu Tya lembut, menarik kursi makan dan hendak mendudukkan Tya di sana.


“Eh, jangan Mas. Biar aku yang matangkan mienya. Mas saja yang duduk. Seharian kerja pasti capek kan?”


“Iya sih, apalagi ditambah lembur dadakan barusan. Aku memang kelelahan.” Bisma menyengir kuda. Menjahili Tya yang malam ini mudah sekali merona menjadi pengobat penat tersendiri baginya.


“Siapa suruh malah ngajak lembur di kasur! Bukan aku yang mulai ya!” Tya bersungut tak mau kalah, gegas berderap ke dapur dengan bibir mengerucut lucu. Membawa semangkuk mie kuning juga sayurannya untuk dimatangkan bersama saus di wajan.


Bukannya duduk, Bisma malah mengekori. Mengikuti Tya serupa anak ayam yang membuntuti induknya. Memeluk Tya dari belakang. Menempeli istrinya yang sedang mengayunkan spatula sembari mengelusi gemas perut Tya yang menyembul.


*****


Sementara itu di kamar hotel di mana Radhika menggarap Cyra, Radhika tampak tertidur pulas dalam posisi serampangan. Lawan mainnya justru terjaga dan duduk pada sofa yang menghadap kaca besar tembus pandang. Gorden sengaja dibuka lebar-lebar, menyajikan kelap kelip semarak lampu kota di bawah sana.


Cyra yang hanya terbalut jubah mandi duduk santai di sana, mengisap rokoknya kuat-kuat, tersenyum miring saat melirik Radhika di atas ranjang.


“Cih, kalau bukan karena banyak duit dan gampang diporot, ogah banget gue main sama dia. Letoy begitu masih sok mau main beronde-ronde!”


Sedangkan di ibukota, Prita tengah uring-uringan. Beberapa jam yang lalu dia mendapat kabar buruk. Sinar Abadi terancam didiskualifikasi dari kandidat mitra sebagai pemasok minuman untuk resto salad yang sedang menjadi incaran banyak orang. Indikasi kecurangan menyogok orang dalam merupakan salah satu poin yang membuat perusahaan curiannya berada di posisi mengkhawatirkan.


Kekesalannya bertambah menumpuk saat suaminya masih tak kunjung mengabarinya terkait perkembangan misi mengintimidasi Bisma. Saat dihubungi balik, ponsel Radhika masih mati sejak tadi sore.


Prita juga berusaha menghubungi Markus, mungkin saja suaminya sedang bersama Markus. Hasilnya sama saja, nomor Markus sama-sama sulit dihubungi, karena tanpa Prita ketahui di Kota Kembang sana Markus memblokir nomor Prita setelah pertemuannya dengan Bisma usai.


“Erghh! Kenapa di zaman canggih begini semua ponsel malah enggak berguna!”


Bersambung.