
Sinful Angel Bab 26
Hari minggu siang Bisma sampai di kediamannya di Kota Bandung. Pagi-pagi dia sudah bertolak pulang dari Jakarta. Semalam selepas mengantar wanita yang disewanya ke rumah sakit, Bisma lagi-lagi tak bisa tidur meskipun tubuhnya lelah luar biasa, dilanda resah gelisah yang tak terbaca alasannya.
Dia pun bertanya-tanya, mungkin rasa tak nyamannya pengaruh dari tempat tidur atau mungkin karena udara panas Jakarta Bisma pun tak paham. Padahal malam sebelumnya dia bisa tidur dengan baik. Tempat tidur di kamar hotel yang disewanya berkualitas terbaik, tak kalah bagus dengan miliknya di rumah, juga tentang udara sudah tersedia pendingin ruangan, tinggal mengatur suhunya sesuai dengan yang diinginkan.
“Mang Eko. Kalau ada tamu, bilang saja saya kurang enak badan. Enggak terima tamu dulu sampai sore. Saya butuh istirahat tanpa gangguan, badan juga pegal-pegal semua.”
Bisma berpesan pada Mang Eko sebelum masuk ke kamarnya. Dia benar-benar butuh istirahat supaya Senin besok staminanya kembali prima. Mengingat setumpuk pekerjaan sudah menunggunya untuk dijamah esok hari.
“Siap, Den. Mau panggil tukang pijat tidak? Biar pegel-pegelnya berkurang,” tawar Mang Eko.
“Enggak usah, Mang. Saya cuma butuh tidur.”
Membanting tubuh lelahnya ke atas kasur, Bisma akhirnya betul-betul terlelap sekarang. Rebah sembarang tak beraturan, tak butuh lama masuk ke alam lelap, mendengkur halus. Telinganya tuli saat ponselnya berbunyi beberapa kali, saking nyenyaknya. Dering panggilan berhenti setelah muncul notifikasi pesan.
Malam harinya Vero berkunjung ke rumah Bisma. Datang sendiri mengendarai motor, terlihat terburu-buru.
“Mang, mas dudanya ada? Saya ada keperluan darurat!” cerocos Vero tanpa permisi pada Mang Eko yang sedang membukakan pagar depan.
“Ada, Den. Di gazebo belakang, lagi ngopi. Masuk saja.
“Oh iya, Mang. Bisma beneran sudah menikah lagi? Sudah punya istri lagi?” cecarnya, kentara sangat penasaran.
“Hah? Menikah lagi?” Mang Eko tercengang, membeo tak paham. “Punya istri lagi bagaimana? Setahu mamang pacar saja tidak punya.”
Tak mendapat jawaban dari Mang Eko yang malah menggaruk-garuk kepalanya tak gatal, Vero memarkirkan motornya serampangan, bergegas menuju taman belakang melalui area luar sisi kiri rumah yang langsung bersambung ke area belakang. Sudah tak sabar ingin menagih penjelasan dari temannya yang masih betah menduda ini, tetapi mendadak mengenalkan sosok istri di pesta mantan istri.
“Tukang Teh! Jelaskan padaku, sejak kapan kamu punya istri lagi!” semburnya tanpa berbasa-basi. Menuntut penjelasan mirip orang yang diduakan cintanya. Berdiri berkacak pinggang di depan Bisma.
“Kamu bilang cuma mau cari wanita bayaran buat dijadikan kekasih palsu. Tapi semalam kamu malah bawa cewek cantik yang dikenalkan sebagai istri pada Prita. Kamu bikin aku kerepotan karena Rona terus bertanya tentang fakta dari ucapanmu!” seru Vero tak kalah kesal.
“Terus, kamu bilang apa sama istrimu?” tanya Bisma penasaran.
“Mau bagaimana lagi. Aku enggak ada pilihan selain menjawab kalau kamu memang benar sudah menikah lagi tapi memang sengaja tidak dipublikasikan. Karena Prita pasti bakal menghubungi istriku untuk menanyakan kebenaran dari pernyataanmu di pestanya!”
Bisma memijat pelipisnya yang berdenyut pusing. “Sebenarnya itu di luar rencana. Aku terpeleset lidahku sendiri. Efek dari emosi yang masih sering mendominasi saat aku bertemu muka lagi dengan mantan istriku dan mantan sahabatku.”
Bisma menceritakan panjang lebar akan fakta tentang pernyataannya. Semuanya, tanpa kecuali. Lagi pula ditutupi pun percuma, sebab Vero satu-satunya orang yang mengetahui niatannya yang hendak mencari wanita bayaran sebelum menghadiri undangan sang mantan.
Bisma masuk ke ruang kerjanya setelah Vero undur diri. Menyiapkan beberapa hal yang diperlukan untuk pekerjaannya esok hari. Juga minggu ini dia berencana menyurvei lahan di daerah Kabupaten Bogor. Bersemoga harganya cocok dan lahannya sesuai untuk ditanami teh yang sesuai standarnya.
Di sela-sela menyiapkan keperluan kerja. Kegiatannya terhenti saat teringat kalimat Vero sebelum berpamitan pulang tadi. Kalimat Vero cukup mengganggu, tetapi jika dipikirkan dengan saksama memang ada benarnya.
Sebaiknya kamu bersiap-siap dengan serangan susulan yang pasti akan mendatangimu pasca pernyataan mencengangkanmu itu. Seperti yang kamu ketahui, Prita itu bukan tipe yang mudah percaya dan dikelabui. Apalagi dari keteranganmu, mantan istrimu sampai membuntutimu pulang dari pesta. Itu artinya Prita menaruh curiga dan dari perkiraanku, dia tidak akan berhenti hanya sampai di situ saja. Mantan istrimu itu kan memang suka mengusik ketenanganmu. Juga, apakah kamu memikirkan bagaimana efeknya kalau sampai bundamu mendengar hal ini? Sebaiknya mulai memikirkan rencana selanjutnya, bila perlu segeralah menikah sungguhan. Supaya hidupmu lebih aman dan tentram.
Mendudukkan dirinya pada kursi kerja, Bisma mengusap wajahnya kasar. Pikirannya semrawut sekarang, runyam akibat ulahnya sendiri sebetulnya. Menggelengkan kepalanya berulang kali guna mengenyahkan keresahan. Memfokuskan kembali otaknya pada pekerjaan.
Teringat akan ponselnya, Bisma menuju kamar tidur. Belum sempat menyentuh gawainya lagi sejak sampai di rumah. Hendak memeriksa, mungkin saja ada beberapa pesan penting yang masuk terkait pekerjaan.
Benar saja, deretan pesan dan email memenuhi bar notifikasi di bagian atas ponsel. Hanya saja keningnya berkerut, saat mendapati sebuah pesan masuk dari kontak tanpa nama yang dikirim ke nomornya sekitar pukul satu siang.
Pak Bisma. Ini saya, Tya. Maaf mengganggu. Cincin pasangan yang semalam Anda minta saya pakai masih ada pada saya. Saya datang ke Hotel JW Marriott, tapi ternyata Anda sudah cek out. Ke mana saya harus mengembalikannya, Pak?
Bersambung.