
Sinful Angel bab 22
Bisma menghabiskan sebotol air mineral sesampainya di kamar hotel yang disewanya begitu pula dengan Tya, sama-sama membasahi kerongkongannya yang kering kerontang selepas berkerja keras mengusir nyonya besar yang tak disangka hobi menguntit.
Ide Tya di parkiran tadi, bukan hanya semata-mata atas nama profesionalisme. Di otaknya terbersit ide gila tersebut sebab ia merasa terdesak. Jika mantan istri kliennya terus membuntuti, entah kapan ia bisa menyudahi pekerjaannya malam ini yang durasinya molor dari jadwal. Juga entah kapan ia bisa pulang dan pergi ke rumah sakit kalau drama ini tak kunjung usai.
Melirik penunjuk waktu yang menempel di dinding, Tya memutuskan bergegas. Ini sudah lewat tengah malam dan ia ingin segera melihat kondisi Caca, khawatir si gadis kecil penolongnya itu butuh sesuatu.
“Pak, Boleh saya numpang ke kamar mandi?” pinta Tya seraya mengutip baju pink yang terlipat di meja kaca depan sofa di mana Bisma tengah duduk. “Saya mau ganti baju.”
Bisma menegakkan punggung. Menatap Tya lekat. Untuk sesaat fokusnya mengabur, tanpa sadar tenggelam dalam riak pesona si wanita bermata sendu. Wujud Tya yang dalam tampilan acak-acakan disengaja amatlah sensual, mengundang sisi liar lelakinya yang sudah lama berhibernasi tiba-tiba membunyikan alarm dan itu berbahaya.
Bisma mendadak tak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini, jelas-jelas di depannya ini bukanlah wanita kriteria idamannya terutama dari segi jejak riwayat, tetapi entah mengapa jutsru meninggalkan kesan tak biasa.
Mungkinkah dirinya terpesona? Ah, itu tidak mungkin, ini cuma efek terlalu lama kesepian, gumam batinnya menyangkal.
Aksi mematung Bisma membuat Tya agak kesal juga. Ia sedang diburu waktu, tetapi klien di depannya ini malah menatapnya lurus tanpa kata.
“Pak, maaf, saya harus bergegas pergi dari sini dan Anda juga harus beristirahat. Jadi, saya memohon dengan sangat, tolong pinjamkan kamar mandinya supaya saya bisa berganti pakaian.”
Bisma sedikit terperanjat. Mengusap wajahnya kasar dan cepat-cepat menguasai diri. Air mukanya agak mengeras.
“Maksudnya, kamu mau mengganti bajumu dengan gaun yang dipakai sewaktu datang tadi sore? Yakin mau pakai gaun mencolok saat mengunjungi pasien di rumah sakit? Kamu serius mau berkeliaran memakai gaun model kemben untuk bepergian malam-malam begini?” cecar Bisma yang malah mencerocos sewot, membuat Tya melongo dan menggaruk kepalanya tak gatal.
“Ya, sebetulnya tidak yakin sih, Pak. Tapi, mau gimana lagi, Pak. Saya kan tidak bawa baju lain. Gaun hitam mewah ini juga bukan milik saya, ini kepunyaan Anda. Juga gaun pink yang saya pakai tadi harus dikembalikan besok, jadinya ya sekalian dipakai saja,” tutur Tya menjelaskan apa adanya.
Bisma bersedekap. “Begini, Tya. Gaun yang kamu pakai dan semua perintilannya itu sebenarnya saya kasih buat kamu, itu punya kamu sejak dipakai melekat di badanmu. Jadi, baju dan sepatu yang dibelikan bosmu itu dibawa saja pakai paper bag untuk dikembalikan ke markas tempat kerjamu besok. Tapi saya sarankan baju pink itu jangan dipakai pulang, bisa memicu masuk angin dipakai tengah malam begini. Saya berkata bebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan sesama manusia,” ujarnya beralasan, padahal bukan itu maksudnya. Bisma berusaha mengontrol nada bicaranya, hampir kelepasan bernada posesif.
Bisma menggangguk pelan. “Ehm, ya buat kamu,” jawabnya cepat.
Senyum Tya merekah lebar, kentara amat senang, lantas tak lama mengerjap terlihat kebingungan.
“Tapi, Pak. Jika saya keluar dari sini pakai gaun hitam ini, juga bukan pilihan bagus. Bagaimana kalau mendadak saya berpapasan dengan mantan istri Anda di luar sana? Apa yang harus saya lakukan? Tidak ada yang bisa menjamin dia benar-benar sudah pulang. Dia pasti akan mencecar saya dan hal itu mengancam terbongkarnya sandiwara kita, Pak!” seloroh Tya, yang mendadak merasa horor seketika.
Perkataan Tya ada benarnya. Bisma tak ingat sampai ke sana. Hanya berpikir bahwa Tya sebaiknya tak memakai baju terbuka untuk dipakai pulang. Bisma memutar otak mencari solusi, dia sungguh tak ingin Tya pulang memakai gaun pink binal mengundang syahwat, tetapi juga tak mungkin membiarkan Tya pulang memakai gaun hitam yang dipakai ke pesta.
“Karena ini tengah malam dan situasinya darurat, saya berikan satu stel trening olahraga untuk kamu pakai. Masih baru, tadi siang saya membelinya sewaktu berjalan-jalan ke PI. Walaupun ukurannya sudah pasti besar di badanmu, tapi tentu lebih baik daripada pakai baju terbuka. Tunggu sebentar.”
Bisma melangkah lebar dan membuka koper di sudut kamar dekat ranjang, mengambil satu buah kantung belanja berisi satu stel trening olahraga yang masih baru. Dia juga membuka tas hitam berisi barang-barang pentingnya. Mengambil satu buah kartu ATM berwarna biru, meraih pulpen dan menulis kombinasi angka di bagian belakang kartu tersebut.
“Duh, saya jadi tidak enak banyak ngerepotin Anda.” Tya mengusap tengkuk, raut wajahnya jelas tak enak hati, tetapi ia juga tak punya solusi.
“Tapi saya juga banyak ngerepotin kamu malam ini. Jadi kita impas. Terima kasih, sudah bersedia bersandiwara di luar area pesta dengan maksimal. Gantilah bajumu dengan setelan trening ini, setelahnya saya antar ke rumah sakit. Dan ini kartu buat kamu, kompensasi tambahan yang saya janjikan.” Bisma menyerahkan kantung belanja beserta kartu ATM pada Tya.
“I-ini, kartu ATM kan? Kenapa Anda menyerahkan kartu ATM pada saya?” ujar Tya bingung.
“Ya, itu ATM. Di dalamnya ada sejumlah uang dan nomor pinnya sudah saya tulis di belakang. Saya sedang tidak memegang uang tunai banyak-banyak dan tadi ke ATM pun cuma ambil sepuluh juta yang sudah saya berikan sama kamu. Karena kamu tidak punya rekening, jadi ATM ini dan isinya saya kasih buat kamu. Semoga nominalnya berkenan.”
Tya membolak-balik kartu di tangannya beberapa jenak. Tampak sedang menimbang-nimbang, entah apa yang dipikirkannya. Sejurus kemudian ia tersenyum lembut, menyodorkan kembali kartu ATM tersebut pada Bisma.
“Tidak usah, Pak. Ini, saya kembalikan. Malam ini Anda sudah banyak memberi saya kompensasi, bahkan membelikan saya makanan enak. Rasanya tak tau diri kalau saya juga menerima tambahan ini. Saya memang butuh uang, tapi saya juga tidak mau jadi serakah. Tentang sandiwara di luar area pesta, anggap saja itu bonus dari saya, bukankah Anda bilang kita impas? Jadi tak perlu lagi ada kompensasi.”
Bersambung.