Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 41



Sinful Angel Bab 41


“Teh Erna, temani dan jaga Tya baik-baik. Layani kebutuhannya. Ini ponsel baru siap pakai, kalau ada apa-apa dengan Tya, langsung hubungi aku.” Bisma menyerahkan sebuah ponsel android pada seorang wanita yang memakai gamis hijau dan bergo bunga-bunga berwarna senada. Mereka berbincang di depan pintu kamar rawat inap.


“Memangnya siapa yang sakit, Den Bisma? Karyawan kantor kah?” Mang Eko yang juga ikut datang mengantar Teh Erna bertanya penasaran. Teh Erna masih sepupu Mang Eko, usianya lima puluh tahunan, sempat bekerja sebagai ART di rumah Bisma ketika si tampan berdaksa tinggi tegap itu masih berumah tangga dengan Prita.


Bisma terdiam beberapa saat, tengah merangkai jawaban sebelum diucapkan lisan. Akan tetapi, ternyata sulit mencari padanan kata yang sesuai untuk menjabarkan siapa sosok di dalam sana.


“Namanya Cintya. Wanita yang akan kunikahi secepatnya,” jawab Bisma lugas.


Mang Eko dan Teh Erna terperangah. Mulut mereka menganga. Membolakan mata bersamaan.


“Hah? Ni-nikah, Den. Mak-maksudnya yang lagi sakit di dalam itu calon istri Den Bisma begitu?” seloroh Mang Eko mencerocos terdorong rasa kaget, sedangkan Teh Erna membekap mulutnya yang menganga, khawatir ada lalat lewat yang tiba-tiba mampir.


Anggukan kepala Bisma atas pertanyaannya membuat jiwa kepo Mang Eko meronta. Pasalnya sepengetahuan Mang Eko, pasca bercerai hingga beberapa hari yang lalu, majikannya itu tidak pernah terdeteksi memiliki kedekatan dengan wanita manapun. Bagaimana dirinya tidak keheranan dan terkejut, tidak ada angin tidak ada hujan Bisma mendadak menyatakan akan menikahi wanita yang sosoknya bahkan belum pernah dilihatnya.


“Iya, yang sedang sakit itu calon istriku, Mang. Dia mengalami kecelakaan dan tulang lengan kanannya patah. Dia dari Jakarta,” jelas Bisma singkat.


Inginnya Mang Eko mengetahui kronologi tentang bagaimana Bisma yang dingin pada wanita setelah rumah tangga dengan Prita bubar, memutuskan untuk menikah lagi secara mendadak. Namun, Mang Eko tahu posisinya, sama sekali bukan porsinya untuk ikut campur lebih dalam, kendati sangat ingin tahu siapa sosok yang akan dinikahi majikannya.


“Mulai hari ini dan seterusnya, bekerjalah lagi di rumahku. Untuk sekarang pekerjaan utama Teh Erna adalah menjaga Tya. Tolong ya,” titah Bisma tetap sopan, karena bagaimanapun Teh Erna ini orang tua meskipun dia adalah majikan.


Bisma melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, memeriksa penunjuk waktu.


"Tak terasa sebentar lagi Magrib. Untuk Mang Eko pulang lagi saja ke rumah, tata kediamanku lebih rapi lagi. Benahi kamar kosong yang bersebelahan dengan kamar utama, nanti malam Popy akan datang untuk mengantar barang-barang untuk Tya dan langsung saja masukan ke kamar itu. Aku harus pergi ke suatu tempat, ada hal penting yang harus kuurus secepatnya.”


“Eh, ba-baik, Den,” sahut Mang Eko tergagap, masih dilanda keterkejutan.


“Oh iya, satu lagi. Kabar ini jangan sampai ke telinga Bunda dulu. Biar nanti aku sendiri yang bicara pada Bunda di waktu yang tepat. Aku percaya Mang Eko bukan ember bocor.”


Adzan Magrib berkumandang. Bisma dan Mang Eko melaksanakan sholat di masjid yang masih terletak di area dalam rumah sakit sebelum pergi dari sana. Mang Eko berpamitan dan gegas pulang setelah solat berjamaah usai, begitu juga Bisma yang tancap gas dari sana, menuju kafe di mana dia membuat janji dengan Vero untuk membicarakan perihal pernikahan sirinya dengan Tya yang akan dilaksanakan segera.


Bersambung.


Halo teman-teman tersayang di manapun berada, terima kasih sudah selalu setia menanti kisah Mas Duda dan Tya. Terima kasih juga atas dukungan dan Cintanya. Jangan lupa juga vote dan giftnya cintah.


Chalenge: Kalau giftnya naik hari ini, kutambah up satu bab lagi. Jadi total tiga bab.


Stay safe and healthy di liburan panjang akhir tahun ini. Thank you 🥰💞.