
Sinful Angel Bab 144
Sudah lima hari berlalu sejak Prita dan Radhika kembali lagi ke Jakarta. Keduanya sampai menginap dua malam di Kota Kembang demi bisa kembali keesokan harinya ke rumah Bisma, berharap sasaran utama mereka pulang lebih cepat dari liburannya lantaran sasaran yang satunya lagi jelas gagal dijinakkan.
Namun nihil. Bisma masih belum pulang dan entah pergi liburan ke mana sebab tak ada secuil pun informasi yang membocorkan ke mana Bisma dan Tya pergi liburan. Hanya pengusiran serupa dari Mang Eko saat keduanya mengunjungi lagi rumah Bisma.
Saking penuhnya otak Prita dengan ambisi menjinakkan si mantan suami, ia sampai luput mengamati keanehan suaminya sendiri yang sewaktu datang ke hotel tempat mereka menginap di Bandung Radhika datang memakai kemeja yang berbeda. Bahkan Prita juga belum menyadari ada aliran dana besar yang keluar dari rekening perusahaan untuk keperluan yang tidak diketahuinya.
“Ta, hari Jum’at besok Pak Markus mengajak bertemu lagi terkait pengiriman perdana air mineral ke pabrik pengolahan teh kita yang akan dimulai di awal bulan depan. Tapi, Pak Markus mengajakku bertemu di Bandung, sedangkan besok sudah ada agenda janji penting dengan salah satu restoran salad kekinian yang sedang hits akhir-akhir ini, yang cabangnya tersebar di seluruh pulau Jawa dan Kalimantan. Kalau bisa, kita harus menembus sebagai pemasok minumannya karena Agra Prime juga kabarnya ikut bersaing. Dua-duanya sama penting, bagaimana solusinya?” jelas Radhika sembari mendesah bingung. Duduk di tepian ranjang sembari memijat kepalanya.
Prita yang baru selesai mandi sebelum naik ke peraduan, duduk di sebelah Radhika sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil. Kedua matanya berbinar serakah seperti biasanya.
“Ya sudah. Gini aja, Mas. Biar aku dan sekretarismu yang menghadiri pertemuan di resto salad dan Mas berangkat ke Bandung saja. Kalau bisa, pastikan Pak Markus langsung memasok dalam jumlah yang banyak. Tapi Mas enggak apa-apa kan pergi tanpa aku dan sekretarismu?” kata Prita mengutarakan usulan.
“Kamu serius mau menghandle pekerjaan Sinar Abadi dengan si resto salad tanpa aku?” Bola mata Radhika berkilat senang saat Prita memintanya pergi tanpa didampingi. Itu artinya dia punya waktu bebas lebih banyak. Selain mengurusi pekerjaan, dia juga bisa membuat janji bertemu dengan Cyra lagi.
“Serius lah, Mas. Kita berbagi tugas saja. Yang pasti kita enggak boleh kalah dari Agra Prime. Dan satu lagi, jangan lupa mampir ke kantor Bisma untuk memprovokasinya. Mantan ibu mertuaku sudah tak bisa dijadikan harapan, tapi Bisma masih bisa jadi celah peluang kita. Memakai masa lalu buruk istrinya untuk memerasnya. Kalau Bunda mungkin masih bisa bersikap angkuh, tapi Bisma itu kalau sudah cinta biasanya jadi bodoh, rela melakukan segalanya untuk wanita yang dicintainya. Kita manfaatkan kelemahan perasaannya itu untuk kepentingan kita.”
Bukan tanpa alasan Prita berasumsi demikian, karena memang begitulah sikap Bisma terhadap orang yang dikasihinya. Selalu mencintai setulus hati, sepenuh jiwa raga. Hanya saja Prita tak tahu, Bisma yang sekarang tak sama dengan yang dulu lagi, pengalaman pahit mengajarkan banyak hal.
Radhika merangkul pinggang Prita dan menyeringai lebar. “Kamu benar. Hampir saja aku lupa dengan rencana yang tertunda itu,” ujar Radhika penuh ambisi.
Prita ikut tergelak puas. “Kali ini pastikan kamu harus berhasil, Mas! Kerahkan kemampuanmu, Suamiku. Kamu pasti sangat mengenal pribadi Bisma. Rela berkorban banyak hal demi wanita yang dicinta.”
Bisma sudah kembali berkutat dengan segudang kesibukannya. Selepas liburan satu minggu penuh, pekerjaanya menggunung mengalahkan tingginya menara Eiffel. Akan tetapi, Bisma menjalaninya penuh sukacita. Efek hati gembira, pekerjaan sepadat apa pun terasa mudah dan ringan dijalani.
“Pak, perwakilan kita sudah berangkat ke Jakarta tadi pagi untuk menghadiri pertemuan dengan resto salad kekinian yang sedang viral itu. Semoga hasilnya sesuai harapan.” Poppy melapor pada sang bos saat Bisma baru selesai memimpin rapat.
“Minta dia terus melapor secara berkala. Semoga kita terpilih jadi mitra mereka.”
“Baik, Pak. Dan untuk acara Jum’at berkah perdana hari ini, konsumsinya akan siap sebelum jam sebelas siang. Saya sudah menugaskan dua orang staf untuk membagikan. Semua sudah diatur seperti yang Bu Tya minta,” lapor Poppy lagi.
“Bagus, pastikan semuanya sesuai dengan keinginan Tya, jangan sampai ada yang kurang.”
Percakapan mereka terhenti saat Suri menghubungi Poppy bahwa ada tamu tak diundang yang memaksa ingin menemui sang bos. Poppy mengerjap waspada saat Suri menyebutkan satu nama.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Bisma saat menangkap air muka Poppy penuh antisipasi.
“Pak, ada tamu tak diundang yang memaksa ingin bertemu dengan Anda sekarang juga. Katanya ada hal penting, dia kukuh menunggu di lobi. Tapi saya tidak yakin Anda mau menemuinya.”
Bisma menaruh pulpen yang sedang dipegangnya dengan kening berkerut. “Siapa memangnya?”
Untuk sejenak Poppy tampak sungkan menyampaikan, membuang napas dalam sebelum kemudian berkata. “Mantan sahabat Anda, Pak. Pak Radhika.”
Bersambung.