
Sinful Angel Bab 91
Bisma dan Tya sampai di Bandung larut malam. Perjalanan pulang mereka terganggu kemacetan yang cukup lama, di mana diberlakukan sistem buka tutup. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurun tiga jam lebih, menghabiskan waktu dua kali lipatnya akibat terhambat oleh insiden truk pasir terguling kelebihan muatan di daerah sekitaran Rajamandala.
Mereka berdua langsung tertidur karena kelelahan. Bisma pun belum sempat memedulikan ponselnya yang kehabisan daya, terlupa sebab tengah terlena dimabuk asmara. Memilih gegas beristirahat sembari memeluk istrinya. Bahkan tak sempat menanyakan pemandangan berbeda di kamarnya yang kini terdapat barang-barang keperluan Tya. Cepat-cepat menyeret Tya ke tempat tidur, mendekapnya dan tak butuh waktu lama jatuh terlelap bersama.
Keesokan paginya Tya sudah berkutat di dapur pagi-pagi sekali. Meminta Teh Erna mengerjakan tugas lain saja sementara urusan menyiapkan sarapan ingin ditanganinya sendiri. Tya sudah cantik dan segar dalam balutan gaun kuning madu semata kaki bermotif bunga-bunga kecil. Rambutnya diikat rapi, agar tidak mengganggu kegiatan memasak.
Bisma keluar dari kamar dan menuju ke dapur kala semerbak aroma masakan menyeruak menyambangi hidungnya. Hari Sabtu ini dia tidak pergi ke kantor karena memang waktunya libur. Walaupun sebelumnya terlebih sewaktu menduda, Bisma sering menghabiskan hari liburnya dengan bekerja meski di akhir pekan.
Aroma dari perkedel kentang daging yang sedang dimasak Tya sungguh menggoda selera. Kian menguat menggoda penciuman saat kaki Bisma sampai di dapur.
“Wangi banget. Istriku yang cantik ini lagi masak apa, hmm? Bikin cacing-cacing di perutku menari-nari.” Bisma memeluk dari belakang dan melingkarkan lengan di perut ramping Tya, mengintip menu yang sedang dimasak.
“Bikin perkedel kentang daging sama oseng baby buncis telur asin. Udah laper ya? Tunggu sepuluh menitan lagi.”
“Bisa tolong buatkan kopi juga?” pinta Bisma yang mulai keluar sifat bermanjanya saat bersama wanita yang tulus di cinta.
“Tentu boleh, Sayangku,” sahut Tya sembari mengelus pipi Bisma sekilas. “Mas duduk dulu aja.”
“Enggak mau duduk. Mau begini saja.” Bisma tetep menempeli Tya yang sedang memasak.
Tya fokus menggoreng perkedel, terkikik kegelian saat Bisma mengecupi pipi dan lehernya. Iseng mengganggu. Love language Bisma melalui interaksi mesra lebih intim saat di rumah merupakan refleksi dari rasa bahagia juga bersyukurnya memiliki Tya.
"Ternyata kamu peka. Tanpa kuminta sudah memindahkan barangmu ke kamarku. Aku suka. Karena aku benci kalau harus pisah kamar dengan istriku sendiri."
Tya terkekeh pelan. "Sebetulnya itu terjadi tanpa rencana. Teh Erna memindahkan barangku di saat aku sedang linglung akibat kepikiran chat meriang dari seseorang!"
Bisma tergelak renyah. "Enggak kusangka, chat tes ombakku banyak faedahnya ya."
Mereka sarapan berdua di meja taman belakang. Menikmati segarnya udara pagi ditemani kuncup bunga bermekaran. Keduanya saling menyuapi, Teh Erna yang sekilas melihat senyum-senyum baper sendiri serta ikut berbahagia melihat tuannya kini tersenyum lagi.
“Nanti siang kita ke rumah Bunda. Sebentar lagi aku telepon Bunda dulu. Mudah-mudahan ada di rumah,” kata Bisma setelah sarapan usai.
Tya mengganguk pelan. Bukan tidak ingin pergi, tetapi lebih pada gugup. “Nanti, aku pakai baju yang mana ya, Mas? Bundanya Mas kan pakai jilbab, aku takut pakai baju yang malah terkesan enggak sopan,” cicit Tya resah.
“Mau beli baju baru? Sekalian membeli perlengkapan belajar mengaji untuk pemula?” tawar Bisma yang mengambil selembar tisu dan menyeka mulut Tya. “Barangkali mau mencoba pakai baju muslimah juga kayak bunda dan kakakku.”
Bisma mengusulkan terselubung menasehati. Mulai sadar akan tugasnya sebagai imam yang harus membimbing makmumnya. Akan tetapi caranya halus, tidak menyinggung. Berkaca dari pengalamannya dulu. Karena saat membahas hal serupa dengan Prita secara gamblang malah berujung pertengkaran. Meski begitu, Prita dan Tya tentu merupakan pribadi berbeda.
“Asyik. Aku mau kita mulai belajar mengaji malam ini juga. Tapi, beneran aku boleh pakai baju muslimah? Orang kayak aku boleh pakai hijab gitu?” Tya mengerjap antusias.
“Tentu saja boleh. Kata siapa enggak boleh. Memangnya kamu orang kayak apa, hmm?”
Tya membuang napas berat, menunduk menatap jemarinya sendiri yang saling bertaut. “Dulu, aku pernah tertarik ingin membeli baju muslimah seperangkat dengan jilbabnya yang dipajang di sebuah manekin pas lagi anter Mami Marsha beli gaun buat para agen. Tapi Mami Marsha bilang, orang kotor kayak aku itu enggak pantes make pakaian suci begitu,” tutur Tya, mengulum senyum perih.
Sorot mata Bisma menyendu. Jalan Tya yang ternyata memang sudah memiliki niat memperbaiki diri sejak lama bahkan jauh sebelum bertemu dengannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tya tertatih sendiri demi menuju jalan yang diridhoi ilahi tanpa ada yang membimbing dan mendukung penuh.
Bukankah sudah tugas sesama muslim untuk mendukung saat ada saudaranya yang ingin menjemput hidayah? Namun sayang, kebanyakan di luar sana lebih sering meremehkan tekad orang-orang yang memiliki masa lalu seperti Tya ini. Menghakimi, bukannya mengayomi.
“Eh, enggak usah banyak-banyak, Mas. Lagian aku juga belum terbiasa dan belum mahir pakai kerudungnya. Beli secukupnya saja, bertahap,” sahut Tya cepat.
Bisma tampak menimbang-nimbang. “Baiklah, sesuai pesanan Anda, Bu Bos,” canda Bisma menghibur. Mengusir sendu yang bergelayut di wajah istrinya.
*****
Sebelum tengah hari, Bisma dan Tya sudah kembali ke rumah dari acara berbelanja dadakannya. Tiga set baju muslim, mukena dan sajadah baru serta satu set buku Iqro lengkap dengan panduan digitalnya adalah belanjaan mereka hari ini.
Bisma sendiri yang membawa semua barang belanjaan langsung masuk ke dalam kamar terutama paper bag berisi perlengkapan belajar mengaji untuk pemula. Tidak ingin baik Teh Erna maupun Mang Eko bertanya-tanya jika melihat isi belanjaan yang satu ini meski hanya dalam benak. Menjaga marwah Tya sebagai seorang istri, khawatir kemungkinan Tya merasa malu jika orang lain selain dirinya mengetahui hal ini.
“Mas, kita jadi ke rumah bunda abis Dzuhur kan? Aku mau mandi dulu, mau siap-siap.”
“Tadinya begitu, sekalian beli makan siang di restoran kesukaan bunda buat dibungkus dan dimakan sama-sama di sana. Tapi dari tadi Bunda enggak angkat teleponku. Terus pas tadi aku nyalain ponsel ada beberapa panggilan masuk dari Bunda kemarin, Pas kita masih di Puncak.” Bisma sedang duduk di tepian tempat tidur sembari mengotak-atik ponsel di tangan.
“Aduh, jangan-jangan ada hal darurat, Mas.” Tya mendadak panik.
“Tenang dulu. Aku telepon ke nomor rumah Bunda.”
Tya duduk di sebelah Bisma saat suaminya itu sedang menyambungkan panggilan yang kebetulan diangkat nomor yang dituju.
“Jadi gimana?” tanya Tya tak sabaran saat Bisma menaruh ponselnya.
“Bunda lagi di Jakarta. Kata ART di rumah bunda, jadwal pulang kembali ke Bandung baru nanti malam. Pantas saja bunda enggak angkat teleponku. Pasti lagi sibuk dengan pekerjaan. Sepertinya rencana berkunjung ke rumah bundaku harus tertunda sampai besok.”
*****
Tya sudah menunggu di ambang pintu masih mengenakan mukena lengkap. Ia baru selesai menunaikan solat Magrib dan menunggu Bisma kembali dari masjid. Bisma sudah berjanji akan mengajarinya mengaji mulai malam ini dan Tya amat besemangat. Mirip anak kecil di hari pertama sekolahnya.
Senyum Tya merekah saat melihat Bisma bersama Mang Eko memasuki gerbang pagar rumah. Bisma yang tahu dirinya sedang ditunggu, mempercepat langkah menghampiri Tya.
“Nungguin aku kayaknya ini?” goda Bisma yang merasa lucu melihat tingkah Tya.
Tya mengangguk cepat. “Memang iya. Ayo, Mas. Aku sudah enggak sabar.”
Bisma dan Tya kini duduk berhadapan di atas hamparan sajadah. Bisma memilih mengajari Tya di kamar utama agar Tya tidak merasa malu dan sungkan. Lebih terjaga privasinya.
Tya benar-benar serius ingin bisa membaca mushaf kalamullah. Bisma yang mengajarinya pun ikut bersemangat karena yang diajari bersungguh-sungguh. Hingga tak terasa waktu Isya pun datang dan mereka melanjutkan dengan solat berjamaah bersama.
Sungguh, nikmat ketenangan batin yang begitu baru dirasakan Bisma selama dirinya pernah berumah tangga. Tya yang notabene bermasa lalu kelam, tak disangka justru membawanya lebih dekat lagi dengan Sang Khalik melalui cara tak biasa. Karena sebaik-baiknya ilmu adalah yang dipelajari kemudian diamalkan dan diajarkan kepada yang lain.
Tya mencium punggung tangan Bisma begitu solat Isya usai. Lantas memeluk suaminya itu dan mengucap kata terima kasih berulang kali. Bisma membalas dengan mengusap sayang kepala Tya dan mengecup kening Tya lembut.
Namun, suasana syahdu yang sedang melingkupi mereka diinterupasi kegaduhan di luar sana. Terdengar suara Mang Eko dan Teh Erna juga. Bisma keluar dari kamarnya disusul Tya mengekor di belakangnya untuk memeriksa keributan apa yang terjadi. Dan alangkah terkejutnya Bisma ketika melihat sosok yang menjadi sumber kegaduhan, menghunuskan tatapan berang padanya disusul sebuah teriakan murka menggema.
“Bisma Putra Prasetyo, apakah kamu mengganggap bundamu ini sudah mati!”
Bersambung.