
Sinful Angel Bab 102
Makan malam terbungkus kehangatan keluarga sesungguhnya merupakan pengalaman pertama bagi Tya. Sepanjang perjalanan pulang Tya tak henti mengukir lengkung bulan sabit, cerminan hatinya yang juga ikut mengukir senyuman bahagia.
“Bunda itu keren banget ya. Selain pintar dan sukses, Bunda juga berprestasi. Sosok ibu dan wanita hebat,” cicit Tya terkagum-kagum sembari menyisir rambut sepunggungnya di depan cermin. Baru selesai dengan rutinitas ritual bersih-bersih sebelum naik peraduan.
Bisma yang sedang mengganti handuknya dengan celana boxer dan kaos polo hitam yang disiapkan Tya di atas kasur, menghampiri Tya dengan bagian atas belum berpakaian memamerkan otot liat dan dada bidangnya, baru celana boxer saja yang melekat di raga atletisnya. Membungkuk dan memeluk Tya yang sedang duduk di kursi meja rias. Mempertemukan pandangan melalui cermin.
“Bunda memang keren, makanya almarhum ayahku bucin enggak ketulungan. Ayah dan Bunda sempat bercerai dulu sebelum aku lahir, tapi akhirnya takdir membawa mereka kembali bersatu dan lahirlah aku. Kata ayahku, Bunda itu enggak tergantikan,” tutur Bisma bangga.
“Bunda benar-benar panutan,” tukas Tya setuju dengan pernyataan sang suami. “Pantesan aja anaknya juga keren.” Tya mengerling menggoda yang dihadiahi Bisma dengan kecupan gemas di ubun-ubunnya.
Di tengah-tengah acara makan malam, Viona mendapat kabar baik jika salah satu gaun rancangannya mendapat penghargaan dari sebuah ajang kontes fashion di Malaysia dan diminta menghadiri acara penyerahan Award besok sore di Kuala Lumpur.
Viona tak membuang waktu. Gegas bersiap terbang ke Negeri Jiran selepas makan malam usai ditemani Sita yang sudah bekerja padanya sedari muda. Bahkan tak sempat menghiraukan si amplop coklat di ruang kerjanya.
Bukan hanya Nara sekeluarga, Bisma dan Tya pun ikut mengantar Viona ke Bandara. Mengantar Bunda mereka bersama-sama penuh rasa bangga.
Tya bangkit dari duduknya dan menuntun Bisma ke sisi ranjang, mengambil si kaos polo hitam yang masih terlipat rapi dan membantu Bisma memakainya.
“Mas. Besok Khalisa katanya mau main ke sini. Sekalian Khalisa mau bawakan buku-buku yang ingin kupinjam, buku-buku materi paket C. Aku sudah pernah cerita kan? Strata pendidikan formalku sangat minim disebabkan tidak adanya kesempatan dan masa mudaku yang terenggut paksa. Sejak tujuh belas tahun sudah harus terjun ke dunia kelam yang tak kuinginkan. Jadi, mumpung sekarang banyak waktu luang, aku ingin menambah pengetahuanku."
Bola mata Bisma bergulir, memaku pandangan pada Tya. Sorotnya melembut penuh kasih sayang juga maaf. Terlupa belum pernah bertanya tentang impian-impian si belahan jiwanya selama ini.
“Mau ikut kelas kesetaraan paket C lagi secara legal? Kalau mau, aku bisa aturkan home schooling, tentu dengan metode pembelajaran intensif secara privat. Kemampuan belajarmu termasuk cepat. Otakmu lumayan encer dipadukan semangat tinggi. Terbukti kamu sudah belajar mengaji sampai di Iqro 6 dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan.”
“Bolehkah?” Bola mata Tya berbinar antusias. “Terus, kalau udah selesai paket C, semisal aku ingin lanjut kuliah kayak Khalisa apakah boleh juga?” tanya Tya mengerjap lugu.
“Tentu boleh, Sayang. Sangat boleh, tentang waktunya bisa diatur,” jawab Bisma sembari merapikan rambut Tya.
“Makasih banyak, Mas. Aku mau, mau banget.” Tya menubruk dada Bisma, memeluk di sana mencurahkan buncahan gembira. Seumpama anak kecil yang mendapat hadiah permen setelah sembuh dari sakit gigi.
"Sama-sama, Cintaku."
"Oh iya, Mas. Hari Senin jadwal kontrol bulananku. Kemarin Dokter Ambar memintaku tetap datang ke rumah sakit di hari Senin karena pemeriksaan yang dilakukan di kantor kemarin hanya penanganan darurat,” kata Tya setelah memastikan Bisma memakai kausnya dengan benar.
Ia masih bungkam perihal kemungkinan kehamilannya walaupun desakan dalam dadanya menggebu ingin bicara.
“Senin ya? Jam berapa?” Bisma balas bertanya setelah memadamkan lampu utama dan menyisakan lampu tidur temaram sebagai pencahayaan kamar. Menyingkap selimut yang membungkus kasur dan naik ke atas peraduan diikuti Tya kemudian.
“Sore, sekitar jam setengah empat,” sahut Tya begitu kepalanya menyentuh bantal.
Bisma yang sedang menutupkan kembali selimut supaya membungkus mereka berdua mendesah frustrasi.
“Jangan diganti. Aku malu sama Bunda kalau apa-apa harus dengan Mas. Bunda saja yang sudah enggak muda lagi masih bisa mandiri, masa aku enggak bisa mentang-mentang punya suami super yang sayangnya tumpah-tumpah ini,” puji Tya, mengecup pipi Bisma mesra. “Mas fokus saja sama kerjaan, biar aku pergi ke rumah sakit sama Mang Eko, bila perlu aku ajak Teh Erna biar Mas enggak khawatir.”
“Aku tahu, dulu kamu terbiasa hidup mandiri, sangat-sangat mandiri malah. Tapi aku enggak suka kalau kamu terlalu mandiri sekarang, karena kamu adalah Istriku. Aku ingin kamu bergantung padaku, menjadikan suamimu ini tempat pertama berbagi suka duka. Aku bahagia dijadikan tempatmu bersandar sepenuhnya. Dan jujur saja aku takut kamu mencari sandaran lain,” rajuk Bisma dengan raut wajah serius.
Seseorang yang pernah dikhianati cintanya seperti Bisma, cenderung memiliki ketakutan akan terulangnya kejadian pahit yang sama dan goresan trauma itu masih meninggalkan jejaknya di jiwa Bisma.
Bisma menyelipkan sebelah lengannya ke belakang leher Tya menjadikannya sebagai bantal untuk sang istri, lantas merengkuh Tya merapat ke dalam pelukannya.
Tya membelai sayang sisi wajah tampan suaminya yang sedang cemberut. Mengembangkan senyum bak sekuntum mawar merekah.
“Mana mungkin aku nyari sandaran lain. Cuma wanita bodoh yang meninggalkan sandaran kokoh bercor beton edisi terbatas. Kira-kira begitulah Mas buatku. Tapi sebagai istri dari suami yang super sibuk. Tentu aku harus berupaya menjadi istri yang pengertian. Minimal paham situasi dan timing yang tepat kapan harus mandiri dan kapan waktunya bermanja," tutur Tya memberi pengertian.
Sorot mata masukulin Bisma memancar kagum pada sosok cantik bermata teduh yang kini selalu berada dalam dekapannya setiap malam.
“Nyonya Bisma memang terbaik. Penuh pengertian dan paling memahamiku dalam berbagai aspek. Istri idaman,” pujinya manis.
Keduanya mengekeh pelan hingga kening mereka saling bertemu dengan raga saling memeluk rapat. Kemudian saling mengecup dan memagut lembut. Mencicipi manisnya madu cinta.
“Pujian Mas kali ini kayaknya memang tepat. Aku bahkan sangat paham bahwa saat ini ada yang sedang meronta ingin berkunjung padaku.” Tya menatap sayu, menggigit bibir basahnya sensual, menggesekkan lututnya nakal di bawah sana, menyentuh sesuatu yang menegang.
“Akh. Jangan memprovokasiku, Sayang. Kamu kan baru baikan. Sudah kubilang kamu harus banyak-banyak istirahat dulu.” Bisma menahan lutut yang menggoda di balik selimut dan mengecup hidung istrinya gemas.
“Aku enggak mincing-mancing kok, beneran. Cuma nyapa yang baperan,” goda Tya menyengir iseng, membuat Bisma kian gemas dibuatnya, menghunjani wajah Tya dengan kecupan.
“Dia memang begitu, gampang baper kalau dekat-dekat kamu. Tapi aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak menggaulimu dulu selama beberapa malam, walaupun jujur saja aku ingin. Sebaiknya kita tidur, ini sudah mau jam sebelas. Ayo, tutup matamu.”
Kecupan sayang berlabuh di kening Tya. Bisma mengeratkan pelukan. Deru napasnya berangsur nyaring dan berat. Pertanda tengah berusaha keras meredam gejolak panas dalam dirinya.
“Yakin Mas bisa tidur?” bisik Tya serak dan seksi.
Suara serak Tya selalu berhasil membuat Bisma berdesir dari ujung kepala hingga kaki. Dan kini semakin dahsyat desirannya saat sebentuk tangan halus berjemari lentik menyelinap ke dalam boxernya. Menyengatnya dengan sentuhan yang melonjakan hasrat.
Bisma melonggarkan pelukan, menunduk lalu memicing dengan mata berkabut dan jakun naik turun. “Tanganmu nakal!” desisnya setengah mendesah.
“Kalau gitu, hukumlah tangan nakal ini, Mas,” bisik Tya manja. “Aku ingin kamu,” pintanya penuh harap dengan napas mulai terengah.
Bukan bualan, Tya memang sedang ingin dicumbu mesra. Desakan dalam dirinya tak biasa, entah disebabkan pengaruh apa yang pasti saat ini Tya sedang ingin disentuh penuh sayang oleh suaminya.
Niat Bisma libur melebur akhirnya runtuh sudah. Disuguhi tatapan sayu, bibir ranum, raga hangat terbalut gaun tidur tipis berpadu rayuan ratu hatinya sungguh tak mampu ditolaknya. Dengan penuh puja dan gelora Bisma memberikan apa yang Tya mau, mempersembahkan yang diminta penuh cinta, sebelum meraih tuntutan ragawinya hingga nafkah batin keduanya terpenuhi.
Bersambung.