
Sinful Angel Bab 153
Rasa penasaran Tya terpantik saat Bisma mengatakan bahwa mereka sengaja berlama-lama di sini karena sedang menunggu orang yang harus minta maaf juga minta ampun padanya.
Menggali ingatan dan memutar otak sampai kepala berdenyut pun Tya tak menemukan jawaban. Malah berakhir pusing sendiri.
Hati tulus penuh kasih sayang berpadu buncahan bahagia tak terkira yang kini menghujani dalam setiap hela napasnya, mengaburkan segala rasa sakit juga kemarahan di masa lalu. Seolah pahit dan perihnya tak lagi terasa, seakan tak lagi berjejak.
“Sebenarnya kita ini lagi nunggu siapa sih, Mas? Jangan bikin penasaran deh!” cerocos Tya, menuntut jawaban pasti. Mendesak Bisma untuk mengatakan terus terang siapa orang yang dimaksud.
“Pokoknya rahasia,” sahutnya sembari tersenyum lebar.
Meski Tya terus mencecar dengan pertanyaan yang sama dan merengek berulang kali, jawaban Bisma tetap sama yaitu menjawab dengan kata ‘rahasia’.
Malah asyik terus-menerus mengelus kepala juga perut Tya dengan sentuhan sayang. Hanya segaris senyum penuh misteri yang diberikan sebagai pelengkap jawaban dari pertanyaan bertubi-tubinya.
"Ish, Papa. Aku nanya serius." Tya menginterupsi.
“Nah, itu dia orangnya.”
Kalimat dan arah pandang Bisma menuntun Tya melakukan hal serupa. Serta merta dengan tak sabaran Tya terfokus ke arah yang sama dengan sang suami dan rasa penasarannya terjawab sudah. Sosok pria empat puluh tahunan yang dikenali Tya adalah orang yang muncul.
Tya membeliak saat melihat Markus lah yang datang. Sosok yang sangat dihindarinya. Sosok yang mengetahui masa lalunya dan baru-baru ini merecoki lembaran barunya yang ingin meninggalkan jejak kelamnya di masa silam.
“Bu-bukannya itu Pak Markus?” Tya menatap suaminya penuh tanya. “Mau apa dia ke sini dan buat apa Mas janjian sama dia sementara ada aku di sini? Aku beneran enggak nyaman ketemu muka sama dia,” cecarnya yang jelas resah, khawatir juga takut menjadi satu saat langkah Markus semakin mendekat.
Bisma yang menyadari istrinya menegang dan takut, bergerak cepat meremas tangan Tya di bawah meja, memberi isyarat mata meminta Tya agar tetap tenang. Walaupun sepertinya hal itu tak bekerja dengan baik karena Tya malah memucat dengan telapak tangan yang berangsur sedingin es.
Sontak Tya menoleh lagi. “Hah? Mak-maksudnya gimana?” imbuh Tya linglung.
“Selamat malam, apa kabar Pak Bisma dan Nyonya? Maaf, saya agak terlambat. Jalanan sedang padat,” kata Markus yang kini berdiri di hadapan Bisma, menyapa formal dengan nada super sopan.
Tidak ada Markus yang mengangakat dagunya pongah setiap kali dia betemu dengan Tya. Tatapan kurang ajar jelalatannya juga lenyap, sejak tadi Markus hanya menjatuhkan pandangan ke lantai. Intimidasi meremehkannya pun lenyap, membuat Tya merasa heran.
“Silakan duduk, Pak Markus,” kata Bisma kemudian.
Tidak banyak drama, Markus sigap duduk pada kursi kosong yang tersedia di meja yang sudah Bisma booking. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Markus benar-benar patuh. Dan tindak tanduk Markus sekarang jatuhnya jadi aneh bin ajaib di mata Tya.
“Silakan dimulai, Pak Markus. Minta maaflah dengan benar pada istri saya sekarang juga, jangan membuang waktu. Ingatlah, Tya yang sekarang adalah istriku, simpan di dalam otak Anda dengan benar, kecuali Anda ingin mencari masalah serius dengan saya,” titah Bisma halus namun menusuk.
Tya baru paham sekarang. Hal ini dilakukan Bisma pasti demi membela kehormatannya sebagai wanita juga istri. Tya terenyuh, hatinya bergetar haru. Sebenarnya sebesar apa cinta Bisma pada dirinya yang jelas-jelas terbungkus jejak noda dosa sampai-sampai menyanjungnya dan meratukannya. Membuat Tya terkadang merasa tak pantas diperlakukan terlalu istimewa.
Akan tetapi, nasihat Ustadzah Farhana yang menyarankannya untuk memperbanyak syukur ketimbang merasa rendah diri, jauh lebih bermanfaat dan berfaedah. Dan barang siapa yang pandai bersyukur atas nikmat Allah SWT, maka akan kenikmatan yang sudah didapat akan ditambahkan lagi dan lagi.
Hal ini terjadi pasti karena Tya pernah curhat pada Bisma tentang Markus yang meremehkannya dan hampir melecehkannya hanya karena di masa lalu profesi Tya adalah seorang wanita penghibur. Merendahkan Tya di saat tak sengaja dipertemukan kembali, tak meneliti dulu di mana si wanita yang rapuh di luar tetapi kuat di dalam itu berpijak sekarang, terlalu gegabah.
Tanpa aba-aba Markus turun dari kursinya, bersimpuh di lantai dan menderaikan untaian maaf penuh sesal panjang lebar sembari menunduk. Tya merasa tak nyaman jika Markus sampai bersimpuh di lantai, hanya saja diminta bangun berkali-kali pun Markus tetap ingin duduk di sana. Tya benar-benar terheran-heran dengan reaksi Markus saat ini. Sungguh di luar dugaan.
“Saya sudah berbuat salah dan keliru kepada Anda. Semuanya sudah tentu akibat dari kebodohan saya. Mohon kiranya Anda sudi memaafkan atas segala salah dan hillap saya. Saya pastikan hal serupa tidak akan pernah terjadi lagi di masa depan, Nyonya Bisma.”
Bersambung.