Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 96



Sinful Angel bab 96


Bisma dan Tya bersantai menonton televisi setelah Viona pulang dari kediaman mereka. Berbaring saling berpelukan di sofa panjang di living room.


“Mas, apakah pesta pernikahan itu perlu?” cicit Tya pelan saat teringat kembali kalimat ibu mertuanya yang ingin menggelar pesta untuknya dan Bisma. Tya sebetulnya kerap kurang percaya diri berada di antara keramaian berbaur dengan kalangan terhormat, rasa kecil dan rendah diri itu masih sering mengerubutinya.


“Sebetulnya bukan suatu keharusan karena yang terpenting adalah sahnya. Tapi Bunda ada benarnya juga, kabar pernikahan itu memang sebaiknya diumumkan dan disiarkan ke khalayak umum agar tidak berembus fitnah nantinya,” jawab Bisma sembari mengusap-usap punggung Tya lembut teratur.


“Apakah itu artinya Bunda menerima aku jadi pendamping Mas? Apakah itu artinya restu Bunda sudah diberikan kepada kita meski bukan melalui ucapan gamblang?” Tya mencecar penasaran. Mengungkapkan apa yang berkecamuk di pikirannya.


Bisma menurunkan pandangan dan mengecup kening Tya mesra. “Bisa dibilang begitu,” sahutnya semringah.


Tya membasahi bibir, tampak menimbang-nimbang saat hendak melontarkan tanya berikutnya.


“Apakah semalam, Bunda bertanya tentang aku?” Tya menelan ludahnya resah, harap-harap cemas menanti jawaban.


Sungguh, Tya dibuat was-was dan ingin tahu apa saja yang diceritakan Bisma pada Viona. Kepada Bisma, Tya mampu berterus terang dengan gamblang tanpa merasa perlu menutupi apapun. Akan tetapi terhadap Viona yang notabene ibunya Bisma, Tya tak memiliki keberanian serupa, merasa ada perasaan yang harus dijaga.


Masa lalunya mungkin tak masalah bagi Bisma, tetapi bagi Viona belum tentu sama. Orang tua memiliki pandangan berbeda dan Tya pun tak menyangkal realita. Ibu manapun di dunia ini pasti inginnya putranya menikah dengan wanita baik-baik, bukan mantan kupu-kupu malam.


Tak dipungkiri, Tya mulai ketergantungan pada Bisma, Tya takut kehilangan Bisma suatu hari nanti disebabkan asal-usulnya, Tya takut sandarannya berpaling darinya di saat getar hati telah tumbuh dan menancapkan akar bernama cinta di kalbunya.


“Ya, Bunda bertanya banyak hal terutama tentang bagaimana ceritanya kita bisa berakhir menikah. Bunda mengomeliku dan menjitakku karena katanya aku jahat, memanfaatkanmu yang sebatang kara untuk kepentinganku. Tapi, untuk bagian masa lalumu aku enggak bilang apapun.” Bisma bertutur hati-hati, tak ingin melukai perasaan Tya dengan pembahasan kisah kelam di masa lampau.


“Kenapa?” Tya terdengar penasaran akan alasan Bisma yang memilih menutupi catatan gelapnya di depan Viona.


“Karena aku rasa itu enggak perlu. Aku hanya ingin memikirkan masa depan yang akan diarungi daripada yang sudah terlewati. Juga, sebagai suami tugasku adalah melindungimu. Andai aku hendak menceritakannya pada Bunda pun, aku perlu persetujuanmu.”


Tya menempelkan pipinya di dada bidang sang suami. Mendesah lega mendengar kalimat Bisma. “Makasih banyak, Mas. Rasanya belum siap membuka tabir diri ini seutuhnya di depan Bunda untuk sekarang.”


“Sudah tugasku sebagai suamimu. Aib yang sudah lalu sebaiknya dikubur saja dalam-dalam. Bertaubat lebih utama. Apalagi kamu memiliki kegigihan untuk memperbaiki diri. Cintya yang bertemu denganku adalah Cintya yang sedang berjuang bertahan hidup dan sedang berusaha ingin menjadi manusia yang lebih baik. Enggak perlu lagi disangkut pautkan dengan yang telah lalu.”


Tya mengukir senyum haru, beringsut lebih naik. Mengecup sayang pipi Bisma dan menatap pahatan tampan pria yang telah banyak membawa perubahan dalam hidupnya itu dari jarak yang sangat dekat.


“Dari ceritamu sewaktu dalam perjalanan pulang dari Puncak yakni tentang bagaimana bisa terjebak di dunia hitam dulu, itu sudah cukup bagiku untuk tahu seperti apa tekad dan niatmu ingin terlepas dari jeratan laknat di masa lalu. Terlebih itu bukan maumu, suatu keharusan dan tak diberi pilihan. Saat mencoba mencari secercah asa perlindungan kamu malah dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibu kandungmu yang ternyata telah berpulang juga merupakan kupu-kupu malam. Pasti enggak mudah, menghadapi semua kenyataan pahit itu sendirian,” tutur Bisma melanjutkan kalimat.


Ya, Tya, sempat mencari orang tua kandungnya satu bulan pasca Bu Martha orang yang mengurus panti asuhan tempatnya tumbuh menyerahkannya pada Jordan sebagai balas budi. Tya mencuri-curi kesempatan mencari meski sulit dan akhirnya dia dipertemukan dengan wanita paruh baya yang menjadi petugas kebersihan di base camp di mana Jordan memenjarakan para bunga malamnya.


Wanita tersebut ternyata adalah rekan ibu kandung Tya. Langsung mengenali Tya karena katanya wajah Tya sangat mirip dengan temannya. Dia juga mengetahui tanda lahir di punggung Tya, karena ternyata dia pun ikut membantu saat Tya dilahirkan di parkiran belakang kelab malam dan langsung diberikan ke panti asuhan yang tak jauh dari sana karena ibunya tak ingin memiliki anak, menghambat profesinya. Dari keterangan wanita tersebut, ibunya meninggal dunia sepuluh tahun kemudian akibat sakit keras.


“Tapi, bagaimana kalau ternyata kisah tentang masa lalu yang kuceritakan pada Mas itu bohong belaka?” ucap Tya yang mengerjap menanti reaksi Bisma.


“Kamu itu enggak pandai mengarang cerita, terlalu blak-blakan malah. Saat kuberi sebuket bunga mawar pun kamu malah bilang lebih suka seikat kangkung.” Bisma menjitak pelan dahi Tya seraya terkekeh. “Lagi pula sejak pernah dikhianati, intuisiku lebih tajam dari sebelumnya. Lumayan mudah untuk menebak saat seseorang sedang berbohong atau tidak.”


Tya ikut terkikik, teringat kembali dengan si bunga mawar yang pernah diberikan Bisma padanya secara dadakan. Mereka kembali berpelukan. Tya menggulirkan telunjuknya di dada Bisma. Menggerakannya sembarang saat sebuah ketakutan terlintas di benaknya.


“Ada apa? Ada yang masih ingin kamu katakan?” Bisma yang peka dengan bahasa tubuh Tya kembali bersuara.


Tya menghela napas panjang. Tampak berat untuk mengucap rangkaian kalimat yang tertahan di ujung lidah.


“Mas, andai suatu hari nanti Bunda tahu tentang asal-usulku dan enggak bisa menerimaku, apakah… apakah kita akan berpisah,” lirih Tya serak, tercekat, lantas memeluk Bisma lebih erat.


Bisma meraih dagu Tya. Ditatapnya dalam-dalam mata Tya yang berkaca-kaca. Bisma menunduk semakin turun dan melabuhkan kecupan sayang yang menyalurkan kekuatan, memagut bibir yang sedikit bergetar itu penuh perasaan.


“Apakah menurutmu aku sepengecut itu? Mudah pergi begitu saja di saat rintangan menghadang?”


Tya menggeleng, mulai terisak. “Enggak. Aku sama sekali enggak menganggap Mas begitu.”


Bisma menghujani Tya dengan kecupan sayang. Mengelus pipi halus Tya dan menyeka air mata yang meluruh di sana.


“Jangan mudah terseret pikiran-pikiran buruk. Tetaplah berpikir positif agar hatimu tenang. Semua manusia yang hidup di dunia memang diberi ujian, yang terpenting kita harus selalu saling berpegangan tangan dan berusaha menyelesaikannya bersama di kala masalah menghadang.”


*****


“Apa!” Nara memekik terkejut dan otomatis membekap mulut saat bundanya selesai bertutur. “Anak itu benar-benar nekad ya!” kesalnya.


Nara alias Narayana Putri Prasetyo adalah kakaknya Bisma. Dia sedang berbincang dengan Viona di taman samping dekat kolam ikan Koi.


“Bunda juga terkejut. Sama kayak kamu saat mengetahui Bisma ternyata sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan kita. Tapi di sisi lain Bunda bersyukur dan bernapas lega karena Bisma lebih dulu menikahnya sebelum membawa gadis itu ke rumahnya. Bagaimanapun juga Bisma itu laki-laki normal, sudah lama menduda lagi, apalagi Tya itu sangat cantik dan bodynya bagus. Bunda takut Bisma khilaf."


“Syukurlah. Terus apa rencana Bunda selanjutnya? Kita tentu harus mengenalkan istri Bisma pada keluarga besar kita secepatnya demi kebaikan bersama,” usul wanita cantik yang parasnya serupa dengan Viona itu, hanya berbeda dari perawakan. Viona berperawakan mungil sedangkan Nara tinggi semampai.


“Secepatnya. Makanya Bunda minta kamu datang ke rumah buat bantu Bunda menyiapkan pesta resepsi dalam waktu singkat. Bisma meminta pesta sederhana dan Bunda setuju. Mengundang keluarga dan kolega dekat saja. Inginnya tiga minggu dari sekarang atau akhir bulan ini sebelum Bunda mengurus pekerjaan di luar pulau lagi,” jelas Viona pada si sulung yang mengangguk-angguk, membuat pashmina warna milo yang dipakai Nara berkibar tertiup angin sepoi.


Pesta sederhana untuk keluarga terpandang seperti Viona tentu saja bukan sederhana dalam artian umum. Melainkan sederhana versi mereka adalah acara mewah bagi kalangan biasa.


“Oke, nanti aku minta Mas Arkana ikut membantu. Tapi, istrinya Bisma itu orang mana, Bun? Biar konsep pesta yang akan diusung disesuaikan dengan adat kedua mempelai.”


“Dari keterangan Bisma sama-sama orang Sunda. Tapi, Bunda sebetulnya butuh bantuan lain lagi. Bunda ingin mencari sendiri informasi lengkap tentang Tya, bukan hanya sebatas informasi dari Bisma. Jangan sampai kecolongan kayak dulu akibat Bunda kurang hati-hati. Bunda hanya tidak ingin, Bisma terluka untuk yang kedua kali.”


Bersambung.