
Sinful Angel Bab 110
“Bunda, sudah waktunya makan siang,” kata Nara pada Viona yang baru selesai menunaikan salat Dzuhur. Membantu melepas mukena sang bunda hati-hati supaya tidak mengganggu laju selang infus, melipat dan menaruhnya ke meja nakas.
“Bunda enggak selera makan,” sahut Viona yang terlihat masih muram.
“Tapi Bunda harus makan, supaya lekas sembuh. Di rumah sakit berlama-lama pasti engak nyaman kan? Aku sudah minta izin sama dokter buat beli delivery bubur Mang Haji Oyo kesukaan Bunda, karena aku tahu Bunda enggak suka bubur rumah sakit. Ini baru dateng lho, makan yuk, selagi hangat.” Nara membujuk sang bunda dengan sabar, duduk di tepi ranjang hendak membuka wadah kemasan bubur.
Viona menggelang pelan. Menunjukkan penolakan.
“Saat ini Bunda masih tidak berselera untuk makan apapun, Nara. Tenggorokan ini rasanya pahit setiap kali menelan. Kenyataan yang Bunda temukan masih terasa sulit diterima,” tuturnya dengan napas berat.
Percakapan pembahasan tentang Tya antara Nara dengan Khalisa jujur saja membuat hati Viona ikut tersentuh dengan kisah Tya.
Kendati begitu, kisah pilu yang didengarnya ternyata belum cukup menjadi penawar syok hebat yang dialaminya, masih menyisakan gerombolan kecewa. Walaupun kini yang tersisa adalah kekecewaan terkait kisah masa lalu yang menorehkan noda kelam, bukan tentang pribadi Tya secara personal.
Nara urung membuka kemasan bubur dan menaruhnya lagi ke atas meja nakas. Mengusap-usap sayang lengan sang bunda. Selalu berusaha memandang setiap permasalahan dari dua sisi sudut pandang. Dari sudut pandang Viona dan Bisma.
Nara paham, bagi seorang ibu kenyataan ini pastilah membuat syok, tetapi Nara yakin adiknya pun pasti tidak sembarangan menjatuhkan pilihan hati.
“Bun, menurut Bunda, Bisma terlihat lebih bahagia kan sekarang? Walaupun dia sudah tahu masa lalu istrinya sejak awal. Atau mungkin cuma perasaanku saja,” ucap Nara dengan intonasi rendah mendayu.
Viona tak menjawab. Diam seribu bahasa.
“Bisma juga sama sekali tidak terlihat ragu menjatuhkan pilihan pada Tya. Pasti karena ada yang spesial dari seorang Tya kan, Bun? Dan cerita yang kudengar dari seorang sumber terpercaya, sejak dulu Tya itu memang luar biasa berhati besar, memiliki kasih sayang yang begitu luas meski di saat posisinya sama-sama terjebak kesulitan, tetap berusaha keras menolong agar orang lain tak terjerumus ke dalam lumpur nista yang sama seperti dirinya,” sambung Nara melanjutkan tutur katanya dengan tenang.
Viona menghela napas panjang. Termenung beberapa saat tenggelam dalam pikirannya. Penuturan Nara memang fakta dan Viona pun tak menyangkal hal itu.
“Bunda tidak menampik dan sungguh ikut gembira saat melihat Bisma akhirnya tersenyum dan memiliki gairah hidup lagi. Bunda juga ikut senang mengetahui wanita yang dipilih Bisma berkepribadian dewasa, paham tanggung jawab seorang istri meski usianya enam tahun lebih muda dari Bisma dan dia juga menantu yang pandai menyenangkan hati orang tua. Tapi, kenapa sosok semanis Tya harus memiliki catatan buruk masa lalu yang begitu mencengangkan. Bagaimana caranya supaya hati ini sudi menerima dan memahami kenyataan sesulit ini,” tutur Viona penuh beban.
“Cara memahaminya adalah dengan cinta. Bunda adalah idolaku. Bunda yang kukenal adalah sosok yang memiliki hati penuh cinta serta kasih sayang. Bersedia menerima kekurangan dengan tangan terbuka tanpa penghakiman. Mengajariku untuk lebih banyak mengingat kelebihan seseorang dibandingkan dengan sisi kekurangannya, karena manusia tidak ada yang sempurna dan jika terus mengulik kekurangan maka takkan ada habisnya. Seperti halnya Bunda menerima dengan tangan terbuka dan penuh cinta segala kekurangan almarhum ayah dulu. Selama pribadinya mau berubah ke arah yang lebih baik, bukankah semua orang berhak diberi kesempatan kedua?"
Nara tetap mengembangkan senyum sepanjang bertutur kata dengan bundanya walaupun yang diajak bicara bermuram durja. Viona mengusap wajah saat mendiang sang suami ikut disebut oleh si sulung dalam percakapan berat ini. Meraba rasa juga hati yang masih didera gundah, membawanya pada kisah masa silam yang kini membuka lembar demi lembar buku kenangan dalam benak.
Obrolan mereka terjeda pintu yang diketuk. Nara gegas memeriksa siapa yang datang, lumayan terkejut dengan kemunculan wanita berkerudung hijau sage bernetra teduh yang kini berdiri di ambang pintu. Memeluk keranjang buah berisi berbagai macam buah anggur segar favorit bundanya.
“Tya?” cicit Nara sembari mengerjap kaget. Pasalnya, setahunya Bisma sempat mengatakan padanya bahwa Tya belum diberitahu mengenai sakitnya Viona, sebab Tya pun masih dalam masa pemulihan.
“Assalamualaikum, Kak. Aku ke sini pingin jenguk Bunda. Bolehkah?” pinta Tya agak sungkan. “Juga ada yang ingin dibicarakan sama Bunda, ada hal penting.”
Berbagai macam tanya berkecamuk di benak Nara. Tentang bagaimana Tya bisa tahu Viona ada di sini juga tentang hal penting yang ingin dibicarakan Tya dengan bundanya. Mungkinkah Tya sudah mengetahui kisruh antara Bisma dengan Viona? Akan tetapi, dari siapa?
Meski begitu, Nara mengurungkan niat menderaikan rentetan pertanyaan di kepalanya. Memilih membukakan pintu lebar-lebar dan menyapa ramah seperti biasa.
“Tentu saja boleh. Bunda lagi dibujukin makan, tapi ya namanya juga lagi sakit, enggak mau terus,” kekeh Nara ringan. “Ini pasti buat Bunda ya?” Nara menunjuk keranjang buah yang dipeluk Tya.
Tya mengangguk sopan. “Iya, Kak. Ini buat Bunda.”
Dengan kaki yang sedikit gemetar. Tya melangkah masuk ke dalam ruang perawatan bercat putih bersih itu. Viona tampak menoleh ke arah pintu dan tatapan Tya langsung bertemu dalam garis lurus dengan ibu mertuanya.
Seketika jantung Tya seakan dihantam batu besar. Sorot mata Viona padanya tidak lagi seperti sebelumnya. Gurat kecewa membias jelas di sana.
“Bun, ada yang jenguk bawa buah Anggur.” Nara bercicit ceria, menaruh si parsel buah ke atas lemari pendingin yang terdapat di dalam ruang perawatan.
“Bunda, apa kabar?” sapa Tya dengan tetap memperhatikan tata krama.
Viona membuang muka ke arah lain lantas menjawab, “Tentu saja tidak baik. Kalau baik-baik saja tidak mungkin ada di sini,” sahutnya dingin.
“Bun, aku keluar dulu. Tadi aku delivery siomay buat makan siangku dan sudah sampai di lobi. Aku turun dulu sebentar. Titip Bunda ya, Tya.”
Nara buru-buru menyambar tasnya dan keluar dari sana. Delivery siomay hanya alasan. Dia sengaja keluar demi memberi ruang dan waktu pada Tya yang tampak ingin menyampaikan hal penting pada bundanya. Selain itu, Nara juga hendak menghubungi Bisma, hendak memberitahukan bahwa Tya berada di rumah sakit sekarang.
Keheningan di dalam kamar perawatan menusuk setajam es. Terasa menyayat-nyayat permukaan jiwa Tya yang penuh bekas luka, jejak tempaan derita berat jiwa raga yang begitu lama harus dipikulnya sendiri. Baru dengan Bisma lah ia berbagi beban di hati.
“Mau apa kamu ke sini?” Setelah hanya senyap yang dibiarkan membentang menggulir waktu, akhirnya Viona kembali bersuara.
“Saya… saya ke sini mau minta maaf, Bunda,’ lirih Tya serak, memberanikan diri untuk menjawab meski tangannya mulai berkeringat dingin.
“Minta maaf untuk apa?”
“Untuk semuanya, Bunda. Juga maaf karena saya yang hina ini lancang jatuh cinta pada putra Bunda. Bagian dari masa lalu saya memang sudah pasti identik dengan label wanita nakal. Tapi sungguh, saya tidak pernah berani merayu Mas Bisma kendati masa lalu saya demikian, bahkan bermimpi dicintai pun tidak berani. Tolong maafkan Mas Bisma, Bunda.” Tya tersendat berulang kali, menahan diri untuk tidak terisak meski sulit. Efek kehamilan membuat perasaanya lebih sensitif.
Viona membuang napas kasar, menoleh pada Tya yang sedang menunduk, berdiri di sisi ranjang.
"Apakah dengan kata maaf catatan masa lalu kelammu itu bisa terhapus?” balas Viona menekankan kata-katanya. Sorot kecewa masih bergerombol di bola matanya.
Tya menggeleng dengan hati dihantam pilu.
“Terhapus sudah pasti tidak bisa, Bunda. Saya datang ke sini ingin memohon ampunan Bunda untuk Mas Bisma, suami saya. Kisruh Bunda dengan Mas Bisma semuanya karena sayalah penyebabnya. Dengan segala kerendahan hati saya memohon kemurahan hati Bunda. Jika ingin marah, marahlah pada saya. Jika ingin membenci, benci saja pada saya. Bunda jangan menyiksa diri hingga jatuh sakit, juga saya mohon jangan salahkan Mas Bisma."
Viona kembali bergeming. Bola matanya pun sama-sama mengkilap. Raut wajah Tya juga sorot mata serta kalimat yang dideraikan, seluruhnya tidak ditumpangi modus. Hanya ada ketulusan yang teraba rasa pada setiap kata dari bibir si mantan kupu-kupu malam yang jelas benderang sedang berupaya keras terus memperbaiki diri. Dari tingkah polah yang terlihat mata serta cerita yang terdengar dari mulut Khalisa.
“Bunda. Katakan apa yang harus saya lakukan agar Bunda bersedia memaafkan Mas Bisma karena telah menikahi wanita seperti saya. Kalau Bunda… Bunda menginginkan saya per-pergi dari hidup Mas Bisma pun akan saya lakukan jika menurut Bunda itu yang terbaik. Saya pun sadar, diri ini memang tak pantas untuk Mas Bisma. Malu rasanya memohon pada Bunda agar sudi menerima saya walaupun saya sangat ingin mempertahankan rumah tangga ini. Hanya saja tolong, jangan meminta saya berhenti mencintai Mas Bisma, sungguh saya tak mampu,” tuturnya tercekat, terbata-bata.
“Kalau saya benar meminta kamu meninggalkan Bisma, sungguh kamu bersedia?” desak Viona masih dengan tatapan dingin, melontarkan tanya yang membuat sekujur tubuh Tya laksana dilolosi tulang belulangnya.
Tya yang semula menunduk dalam tersentak mengangkat wajah. Air matanya yang sejak tadi ditahan, kini tumpah bersama isakan menyayat hati. Tersedu-sedu bersama kristal bening membanjiri pipi.
“Jika… jika itu yang terbaik menurut Bunda, akan saya lakukan. Saya akan merasa semakin berlumur dosa jika hanya berpangku tangan setelah menjadi penyebab retaknya hubungan ibu dan anak.”
Bersambung.