
Sinful Angel Bab 74
Bisma tahu seratus persen perubahan sikap mendadaknya pasti membuat Tya terkaget-kaget. Apa yang baru saja terjadi di ruang makan bukanlah impulsif semata, tetapi memang disengaja.
Dia ingin mencoba meraba rasanya, menyelami hatinya seperti saran Vero. Benarkah kalbunya merasakan getaran spesial yang disebut cinta untuk Tya? Untuk itulah Bisma melancarkan inisiatif meski berisiko mendapat bogem maupun tamparan dari Tya. Tanpa aba-aba berbincang intim dengan melibatkan skinship mesra. Dan beruntung Tya tidak memberinya hadiah telapak tangan melayang.
Bisma menyandarkan punggung pada daun pintu kamar yang baru saja ditutup rapat. Tangannya terangkat naik, meraba dadanya sendiri, mencari-cari jawaban dari pertanyaan yang terus berkecamuk di sepanjang perjalanan pulang.
Jantungnya terasa berdetak lebih cepat bertalu-talu. Irama degupannya mengalun merdu. Menari-nari bak untaian simfoni rindu. Berdenyut indah merasuk kalbu.
Bisma bukan anak kemarin sore. Pernah terpaut hati dan memiliki hubungan mesra dengan yang namanya wanita. Hanya saja sempat lupa lebih tepatnya dikubur sumbernya olehnya dirinya sendiri tentang segala hal yang berkaitan dengan si denyut rasa yang disebut cinta.
“Debaran ini, bukankah artinya aku kembali merasakan yang namanya cinta? Bolehkan kalau aku ingin mencoba meletakkan lagi sekeping hatiku yang pernah berserak?” gumamnya gamang.
*****
Tya masih memakai mukena lengkap, tengah mengacak-acak isi lemarinya. Sejak empat rakaat Isyanya usai, Tya dilanda kebingungan harus memakai baju yang mana karena sebentar lagi mau tak mau dia harus keluar untuk menyiapkan finishing hidangan di meja juga makan malam bersama Bisma. Mendadak resah, khawatir penampilannya buruk saat duduk bersama di meja nanti. Padahal biasanya ia tak pernah mempersoalkan perihal model dan jenis baju, yang penting nyaman melindungi.
“Pakai yang mana ya?” cicit Tya galau sendiri, menatap satu persatu pakaian yang berserak di atas kasur. Mengambil gaun malam berwarna hijau zamrud lantas menghadap cermin.
“Gaun ini aja kali ya? Tapi kok kayak mau ke pesta? Ini kan cuma mau makan malam di rumah?”
Tya mencampakkan gaun tersebut, beralih mengambil satu set piyama lengan panjang yang juga dipadu celana panjang, yang ternyata ukurannya lumayan besar.
“Kalau pakai ini aku malah jadi kayak ketelen,” gerutunya, menaruh piyama tersebut.
Tya memijat pelipisnya sendiri sembari kembali beralih membuka lemari satunya lagi yang letaknya masih berdampingan dengan si lemari yang pintunya sudah terbuka itu. Mencari-cari baju lainnya dan lemari itu diperuntukkan untuk menyimpan gaun tidur lengkap beserta underwearnya.
Serampangan, Tya mengambil satu hanger berisi sebuah gaun tidur warna marun, panjangnya selutut dengan bagian lengan hanya berupa tali spaghetti. Terbuat dari kain satin kualitas terbaik dipermanis aksen renda yang cantik.
Tya menyeret kakinya bergeser lagi ke depan cermin, memeriksa pantulannya di sana sembari membolak-balik si gaun tidur.
Debaran rasa yang baru pertama kali bertasbih di kalbunya merupakan hal baru bagi Tya. Wanita bermata sendu itu resah gelisah laksana muda mudi yang baru pertama kali mengenal desiran cinta.
Dirinya memang sudah tak lagi suci murni, pernah dijamah dan dikotori, tetapi sanubarinya tidak pernah terjamah laki-laki, menumpulkan peraba jiwa sebab dirinya dipaksa menjual ilusi, tak pernah membiarkan hati merecoki.
Ketukan di pintu kamarnya membuat Tya terperanjat. Melebarkan mata dengan mulut menganga saat mendengar suara Bisma menyusul kemudian dari balik pintu.
“Tya, ayo kita makan malam sekarang, perutku sudah lapar.”
“Eh, i-iya, Mas. Tunggu sebentar.” Tya mondar-mandir tak jelas. Gelagapan membuka mukenanya dan menyambar baju ganti yang terjangkau tangan. Mengganti daster kain Bali yang dipakainya dengan cepat. Bahkan tak menyadari bahwa baju yang dikenakannya sekarang adalah setelan trening olahraga.
Tya menyisir cepat dan mencepol rambutnya ke atas. Segala konsep yang dipikirkan kepalanya tadi yang sempat gundah akan penampilannya dikacaukan olehnya sendiri. Gegas ke ruang makan, Tya mendapati Bisma sudah duduk di salah satu kursi makan.
Lagi-lagi detakan di balik rongga dadanya bergemuruh saat matanya dipenuhi sosok gagah yang membuatnya jungkir balik memilih baju. Tya mengerjap cepat, menjatuhkan pandangan ke lantai dan berderap cepat mendekati kompor. Menyalakan apinya guna menghangatkan rawon di atas panci.
“Tunggu sebentar ya, Mas. Aku hangatkan dulu rawonnya,” kata Tya tanpa berbalik badan.
“Oke,” sahut Bisma singkat.
Bisma bersedekap, duduk bersandar memerhatikan Tya dari ujung kepala hingga kaki. Menatap sedikit aneh pada Tya yang ternyata memakai baju olahraga.
“Kenapa kamu pakai baju olahraga malam-malam begini? Bukankah piyama lebih ideal?” Bisma bersuara dengan tatapan penuh tanya.
Dikomentari demikian, Tya otomatis menurunkan pandangan, menilik dirinya sendiri. Hampir saja terperanjat saat mendapati dirinya benar-benar memakai setelah olahraga berupa hoodie dan celana trening.
“Oh, ini… ini aku memang sengaja pakai baju begini. Soalnya cuaca agak dingin,” ujar Tya beralasan seraya memberanikan diri menoleh sekilas. Padahal suhu udara Bandung malam ini terbilang hangat, jauh dari kata dingin. Membuat Bisma mengernyitkan dahi.
Bersambung.