
Sinful Angel Bab 126
Hanya dalam kurun waktu sepuluh menit, Bisma dan yang lainnya tiba di tempat praktik bidan di mana Tya dan Farhana berada. Yudhis lah yang mengemudikan mobil Bisma, tidak membiarkan pemiliknya menyetir sendiri sebab khawatir malah memicu kecelakaan lalu lintas mengingat Bisma sedang diterjang kecemasan hebat.
Bisma berlari masuk ke dalam klinik bidan disusul Viona, Khalisa juga Yudhis di belakangnya. Bertanya tak sabaran pada petugas di loket depan dan memaksa ingin segera ditunjukkan di mana Tya berada bertepatan dengan seseorang yang melangkah cepat mendekat.
“Ustadzah Farhana, di mana Mbak Tya?” Khalisa serta merta meluncurkan tanya, terlupa akan sapa menyapa saking paniknya dan ucapan Khalisa langsung mengalihkan fokus Bisma dari si petugas loket.
“Di mana Tya? Di mana Istriku!” cecar Bisma dengan napas memburu dan dirinya tampak kacau. Sudah benar-benar habis kesabaran. Ingin segera bersua dengan si belahan jiwa.
“Di ruang periksa bidan dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Tya harus dibopong karena kondisinya sangat lemas. Sudah tak sanggup berdiri.”
Tanpa berkata-kata lagi, Bisma melangkah lebar menuju pintu yang sedikit terbuka celahnya, bertuliskan ruang periksa di depannya. Sekonyong-konyong menerobos masuk tanpa permisi, sudah tak mengindahkan lagi tata krama maupun basa-basi.
“Eh, dilarang masuk sembarangan!” Si bidan yang bertugas mencegat sigap, menginterupsi lantang. Cukup dibuat horor dengan ekspresi mengeras dan sikap Bisma yang serampangan, khawatir yang masuk adalah pembuat onar tak diundang.
“Mana istri saya? Di mana Cintya!” serunya pada si bidan dengan nada tinggi. Mencecar seperti orang gila.
“Anda siapa!” balas si bidan tegas.
Farhana yang ikut melangkah cepat dan menyusul Bisma yang saat ini ibarat banteng galak, dengan cepat menjawab pertanyaan si bidan. “Ini suaminya adik saya, Bu Bidan.”
“Cepat tunjukkan di mana istriku!” serunya lagi sembari mengedarkan pandangan mencari Tya.
Bidan tersebut gegas menyibak gorden putih yang berada di belakang mejanya dan terpampanglah Tya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang periksa.
Seketika Bisma menghambur saat ruang pandangnya dipenuhi sosok yang membuat kewarasannya nyaris punah disiksa rindu selama satu bulan ini. Meraup Tya yang hampir hilang kesadaran, tengah merintih lemah.
“Cintya, Sayang… Sayang.” Bisma menepuk-nepuk pipi Tya yang saat dilihat dari dekat jelas pucat pasi. “Sayang buka matamu, ini aku. Jangan membuatku takut, Tya… Cintya!” teriaknya dengan bulir kristal bening yang mulai berjatuhan di pipi.
“Pak, tolong tetap kuat. Sebaiknya istri Anda segera dibawa ke rumah sakit besar sekarang juga. Saya khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap ibu dan bayinya jika kita tidak bertindak cepat.”
Bisma langsung membawa Tya berayun di gendongan amannya. Mengayunkan kaki secepat yang dia bisa. Yudhis sigap membuka kursi penumpang dan Bisma langsung masuk sana dengan tetap memeluk Tya di pangkuan.
Yudhis kembali mengambil alih kemudi bersama Khalisa yang duduk di jok sebelahnya. Tak membuang waktu tancap gas melajukan si Fortuner putih ke Rumah Sakit Satya Medika.
Sedangkan Viona ikut menyusul menaiki mobil Farhana, setelah sebelumnya berpamitan dan mengucap terima kasih pada si bidan. Viona juga menyampaikan permintaan maaf atas sikap putranya yang mendadak tak terkendali dan beruntung bidan tersebut sangat memaklumi akan impulsif kepanikan Bisma sebagai suami. Ikut mengucap do’a untuk keselamatan Tya dan bayinya.
“Ini aku, Sayang. Aku di sini… aku di sini,” sahut Bisma parau, membelai sayang pipi Tya dengan perasaan berkecamuk penuh ketakutan. Menghujani wajah pucat Tya dengan kecupan bersama air mata yang berjatuhan. Mengeratkan pelukan, menyeka dahi Tya yang dibanjiri keringat dingin.
“Mas… Mas Bisma, tolong aku, sa-sakit….” rintih Tya lagi yang masih belum tahu bahwa nama yang dipanggil penuh kerinduan berada begitu dekat dengannya sekarang, meringis lunglai dengan telapak tangan yang kini terlihat seperti ingin meremas perutnya sendiri. Membuat Bisma semakin diserbu kepanikan hebat.
“Pak Yudhis, bisa tolong tambah kecepatannya? Kita harus segera sampai di rumah sakit, Tya kesakitan!” pinta Bisma memaksa tak sabaran. Nada bicaranya setengah membentak saking kalutnya dia sekarang.
“Baik, Pak Bisma.”
Hanya kalimat singkat itu yang Yudhis katakan sebagai respons. Saat ini bukan waktunya memberi pengertian, Bisma hanya butuh diiyakan agar lebih tenang walaupun hanya secara lisan, karena Yudhis tetap tidak akan melajukan mobil di atas kecepatan rata-rata aman demi keselamatan semua orang.
Sebagai sesama suami, Yudhis sangat paham dengan impulsif Bisma yang saat ini kehilangan kesabaran menyaksikan istrinya yang tengah mengandung merintih kesakitan tak berdaya. Andai dirinya berada di posisi Bisma, kemungkinan besar perilakunya pun dipastikan serupa seperti Bisma sekarang, tak peduli lagi pada sekitar.
Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat yang berjaga sudah bersiap dengan ranjang pasien di lobi kedatangan. Viona lah yang menghubungi pihak Rumah Sakit Satya Medika sewaktu di perjalanan, meminta agar siap siaga menunggu menantunya yang harus segera ditangani. Memahami putranya yang sedang dikacaukan kepanikan dan kekhawatiran mencekik pasti tidak ingat mengubungi rumah sakit.
“Tolong istriku, Dokter. Tolong istri dan anakku,” pinta Bisma parau saat meletakkan Tya di atas ranjang pasien dengan hati-hati.
“Kami akan berusaha. Harap menunggu dan jangan lupa berdo’a.”
Dokter dan perawat segera melarikan Tya ke UGD khusus VK untuk ditangani segera. Viona ditemani Farhana dan Khalisa gegas berkoordinasi dengan staff pihak rumah sakit, meminta disiapkan kamar VVIP dengan fasilitas terbaik kelas satu untuk Tya dirawat inap.
Tak lupa Viona juga segera menghubungi Arkana dan Nara. Mengabarkan berita tentang keberadaan Tya yang akhirnya berhasil ditemukan meski dalam kondisi darurat, harus dilarikan ke rumah sakit.
Sejak Tya dibawa masuk, Bisma mondar mandir tak tenang di depan pintu UGD. Gurat kecemasan tergambar semrawut bak benang kusut di rupa tampannya. Mengusap wajahnya berulang kali, mencoba menenangkan diri. Sesekali bersandar pada dinding di dekat pintu sebelum kembali mondar-mandir resah tak karuan.
Yudhis menghampiri dengan membawa satu cup teh manis hangat di tangan. Menepuk pundak Bisma dan mengangkat gelas di tangan.
“Sebaiknya Anda menunggu sambil duduk dan minumlah dulu, Pak Bisma. Saya tahu ini tidak mudah. Tapi Anda harus kuat dan berusahalah untuk tenang,” kata Yudhis membujuk. Turut prihatin melihat kondisi Bisma yang kacau balau.
“Saya tidak butuh minum juga tidak butuh duduk. Saya ingin di sini, saya ingin menunggu Tya keluar dari ruangan ini,” sahutnya kukuh. Tidak mau beranjak sedikit pun dari dekat pintu. Menatap pintu itu lekat-lekat.
Setelah satu jam berlalu, pintu UGD terbuka. Ranjang di mana Tya berbaring akhirnya keluar. Bisma ikut mendorong ranjang memasuki lift.
Tya langsung dibawa ke lantai tiga di mana ruang VVIP khusus ibu hamil berada. Dan sepanjang ranjang didorong, Bisma tak melepaskan genggamannya barang sedetik pun sembari menatap sendu enggan berkedip pada Tya yang rebah dengan kedua mata memejam rapat. Sangat takut istrinya menghilang lagi dari ruang pandangnya.
Bersambung.