Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 68



Sinful Angel Bab 68


Prita hanya mengambil sarapan dalam porsi yang sangat sedikit. Mual dari kehamilannya memang tidak ekstrem, hanya saja setiap pagi sering terasa walaupun tidak intens dan itulah yang membuatnya tak berselera. Ditambah lagi suguhan pemandangan pagi yang menyambutnya membuat keinginan makannya berhamburan terjun bebas.


Prita mengambil tempat duduk lebih dulu sementara Radhika belum selesai mengambil hidangan, masih berbincang dengan beberapa panitia yang juga hendak mengisi perut.


Meja yang jaraknya lumayan jauh dari Bisma dan Tya dipilih Prita. Jujur saja dia sedang terbakar amarah sekarang, makin meletup-letup ketika sudut matanya tak sengaja melirik leher Tya dari dekat sewaktu melewati area di mana Bisma dan Tya duduk yang sedang sarapan romantis begitu mesra. Jejak cinta samar-samar terekspose, membuatnya kesal juga iri bukan kepalang. Pasti semalam Bisma liar dan panas di ranjang. Hal yang gagal didapatkannya padahal dirinya sudah bersiap mengeksekusi.


Duduk di meja yang jaraknya cukup jauh dari Bisma dan Tya, Prita mengempaskan bokongnya. Meneguk air mineralnya serampangan, mencoba meredam amarah mengingat ini tempat umum.


“Saya sudah dapat nomor handphonenya Nyonya Bisma. Semoga saja dia benar-benar bersedia berbagi tips supaya suami kita tetap lengket terus sama kita, tips bikin suami hot di ranjang.”


“Tapi kayaknya orangnya memang aslinya ramah dan baik, bukan cuma sekadar menjaga image. Saya yakin Nyonya Bisma pasti bakal mau bagi-bagi resepnya. Anda lihat kan, jejak-jejak dimanjakan suaminya yang tampak dari luar saja begitu panas, apalagi yang tersembunyi.”


Bisik-bisik para nyonya muda ditambah cekikikan semringah di belakang punggungnya membuat kepala Prita makin berdenyut nyeri. Terasa ditusuk-tusuk. Bukan hanya karena emosi, tetapi juga berpadu tuntutan hasrat hypernya yang tak tertuntaskan.


*****


Tya dan Bisma sedang berjalan-jalan santai di pantai selepas sarapan. Supaya perut tidak begah akibat kekenyangan. Maklum, sarapan mereka kali ini setara dengan porsi makan siang.


Pantai di pagi hari bermandikan cahaya matahari begitu memukau. Memancarkan keelokannya. Tya kentara begitu senang, ini merupakan kali pertama dalam hidupnya mengalami yang namanya liburan meski adanya dirinya dengan Bisma di sini tidak murni untuk berlibur, lebih banyak untuk bekerja. Namun, bagi Tya tetap dianggap sebagai liburan.


“Apa yang akan Mas lakukan pada si mantan istri yang telah berulah begitu jauh? Kira-kira untuk apa dia sampai berbuat begitu?” Tya membuka kata mengajak bercakap-cakap.


“Tentang langkah apa yang akan kuambil sedang kupikirkan. Yang jelas jangan gegabah. Sedangkan tentang kenapa, tentu saja semua dilakukan untuk menghancurkan imageku. Mereka pasti tak suka melihatku bangkit kembali,” sahut Bisma sembari menatap ke hamparan laut lepas.


“Hah, mereka?” Tya membeo terkejut.


“Ya, mereka. Ingatan samar-samarku dengan jelas merekam mantan istri dan mantan sahabatku lah biang keroknya. Untung saja rencana mereka tak berjalan mulus.” Bisma sebetulnya ingin mengucapkan ‘untung saja ada kamu' juga ucapan ‘terima kasih’. Hanya saja tertahan di ujung lidah, enggan membahas kejadian semalam karena merasa canggung dan grogi.


“Terserah Mas saja. Sebenarnya aku ingin membeli oleh-oleh buat Khalisa. Tapi, walaupun kepingin beli juga apalah dayaku. Soalnya aku kan enggak punya uang.” Tya terkekeh, menjawab apa adanya terbalut canda.


Sungguh, Tya hanya ingin mencairkan suasana agar Bisma tidak terus kikuk, bahkan Tya berinisiatif menempeli Bisma sepanjang menyusuri pantai lantaran Bisma terus saja terlonjak kaget setiap kali tangan mereka bersentuhan. Tya pun tak bosan mengingatkan bahwa mereka sedang berada di tempat umum yang kemungkinan banyak mata tertuju pada mereka, terutama mata-mata Prita. Jangan chemistry sempurna yang sudah dibangun apik dikacaukan oleh si virus canggung.


Langkah kaki Bisma terhenti. Menoleh ke sisi kirinya dan menatap Tya dalam-dalam, membuat yang ditatap keheranan.


“Kenapa?” Tya balik bertanya sembari merapikan rambutnya yang beterbangan disapu angin laut. “Apa aku kelihatan acak-acakan karena rambutku tergerai? Ya sudah, aku ikat dulu.”


“Jangan!” sambar Bisma cepat, menahan tangan Tya yang hendak merogoh saku celana skinny jeans yang membungkus kaki jenjangnya. “Jangan diikat. Lebih baik digerai saja.”


Bisma lagi-lagi diserbu panik. Mencegah Tya setengah memaksa, lantaran Bisma tidak ingin hasil kanvas bibirnya semakin terekspose. Antara malu dengan ulahnya sendiri berpadu tak rela saat beberapa pria yang juga sedang berjalan-jalan di pantai mencuri pandang pada wanita cantik berbody semampai ini.


“Kenapa enggak boleh?” tukas Tya ingin tahu alasannya.


“Lebih ideal digerai di suasana begini. Biarkan rambutmu merasakan sensasi dibelai angin laut,” ujar Bisma berkilah. “Ikut aku,” ajaknya tiba-tiba, menggamit tangan Tya dan mengajaknya duduk di hamparan pasir putih.


“Ada apa?” Tya bertanya saat mereka sudah duduk bersisian.


Bisma merogoh dompet di saku celananya. Mengambil satu kartu warna gold dan menyerahkannya ke tangan Tya. “Ini, buat kamu. Maaf, selama ini aku lupa," jelasnya.


“Huh? Buat aku? Untuk apa?” tukas Tya tak paham.


“Kartu itu berisi sejumlah uang. Nantinya akan kuisi rutin setiap bulan. Seharusnya sudah kuberikan sejak lama. Nafkah lahir dariku untukmu. Salah satu kewajiban yang harus kutunaikan padamu sebagai suami karena sekarang kamu adalah istriku, Cintya."


Bersambung.