Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 92



Sinful Angel Bab 92


Viona pulang lebih awal dari agenda rencana. Begitu pekerjaan utamanya usai. Viona langsung kembali ke Bandung dan menyerahkan pekerjaan tersisa diwakilkan kepada para manager-manager cabang butiknya untuk menangani.


Bisma tersentak mundur satu langkah dan Tya yang berjalan di belakangnya ikut terperanjat begitu melihat sumber suara ribut yang disusul auman marah seorang wanita menggema memenuhi ruang tamu.


“Bunda?” Bisma terperanjat, membeliak kaget.


“Ya, ini aku, Bundamu. Tapi anakku sepertinya sudah lupa bahwa dia masih punya ibu!” sergah Viona berang. Api kemarahan jelas berkobar di kedua bola matanya.


“Bun, tunggu dulu. Ada apa ini? Jangan ngomong kayak gitu. Mana mungkin aku lupa.”


Viona bersedekap, rahangnya mengeras. “Ada apa kamu bilang? Tanya dirimu sendiri, Bisma. Bunda tahu kamu sudah lebih dari dewasa untuk bisa mengambil keputusan dan memilih yang kamu anggap terbaik dalam hidupmu. Tapi bukan berarti mentang-mentang sudah dewasa lantas kamu bisa seenaknya saja mengambil keputusan sepenting pernikahan tanpa memberitahukannya pada Bunda terlebih dahulu!”


Mencoba meraih tangan Viona yang mengepal gemetaran diserbu luapan emosi. Namun ditepiskan oleh bundanya. Viona mendaratkan tinju mungilnya di bahu lebar putra bungsunya. Melampiaskan kecewa juga kejengkelan hingga deru napasnya tersengal dan Bisma membiarkan bundanya meluapkan kemarahan. Tahu diri bahwa dirinya memang telah berbuat salah.


“Orang-orang Agra Prime bahkan sudah tahu tentang hal ini, tapi keluargamu satu pun tidak ada yang diberitahu. Bunda benar-benar kecewa, kamu melangkahi Bunda, tak meminta do’a restu Bunda. Kamu menganggap Bunda sudah tak penting lagi dengan menikah diam-diam!” sembur Viona dengan suara meninggi, wajahnya pun merah padam. “Bahkan Prita mantan istrimu pun sudah tahu tapi kamu membuat Bunda kayak orang bodoh di sini!”


Sejenak Bisma terhenyak mendengar ujung kalimat bundanya barusan. Tak butuh waktu lama untuk mencerna. Bisma mencoba meraih lagi tangan bundanya dan beruntung kali ini Viona tak menepisnya. Mendengar nama Prita Bisma sudah dapat menebak bahwa mantan istrinya pun ikut berperan menyulut emosi bundanya. Bisma ingin menanyakan di mana Viona bertemu Prita dan apa saja yang mereka bicarakan, tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu, ada yang jauh lebih darurat.


“Bun, aku sama sekali enggak bermaksud begitu. Aku tahu, aku sudah berbuat salah dan aku sungguh minta maaf. Tapi tolong, beri aku kesempatan menjelaskan. Ini sungguh di luar perkiraanku,” tutur Bisma rendah mendayu. Memohon dengan nada lembut pada wanita berkerudung biru muda yang masih menghunuskan tatapan tajam padanya.


Kilat mata Viona kini beralih pada Mang Eko dan Teh Erna yang berdiri taku-takut di depan pintu masuk. Mang Eko langsung bergidik seram dihadiahkan tatapan setajam laser, sedangkan Teh Erna memilih menjatuhnya pandangan ke lantai, tak berani mengangkat wajah.


“Jadi, kalian berdu’a juga bersekongkol dengan Bisma dengan tidak memberitahukan tentang pernikahannya padaku? Teganya Mang Eko dan Teh Erna menutupi hal sepenting ini dariku!” teriak Viona yang masih digulung murka.


“Ampun, Bu Viona. Maafkan kami.” Hanya kalimat itu yang terlontar dari Mang Eko, sedangkan Teh Erna tak kuasa berkata-kata. Gemetaran takut dan terlihat hampir mengompol saking seramnya amukan sang nyonya besar.


“Bunda, ini semua sungguh salahku. Mang Eko dan Teh Erna hanya mematuhi perintahku. Dengan kerendahan hati aku memohon pada Bunda untuk duduk tenang dulu dan berikan aku ruang menjelaskan semuanya secara rinci. Aku mohon, Bunda. Setelah itu, hukumlah aku sesuka hati Bunda. Aku rela, karena aku memang salah.”


Tya yang masih memakai mukena, sejak tadi menunduk mematung sembari meremas jemarinya sendiri. Bingung entah harus berkata apa dan bereaksi bagaimana. Keributan dan perkelahian bukanlah hal aneh bagi Tya. Mentalnya tidak seempuk tahu dan tempe ditempa keras dan pahitnya masa lalu.


Kerasnya dunia malam bahkan lebih mengerikan dari ini. Dari mulai adu mulut, saling tonjok bahkan perseteruan yang melibatkan senjata tajam, istri sah yang mengamuk di kelab malam, semua kekacauan semacam itu pernah tersuguh di hadapannya secara langsung. Bahkan Tya pernah satu kali memukul salah satu kacung mucikarinya dulu yang sedang mabuk berat yang mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan padanya. Tya memukul kepala kacung itu menggunakan botol minuman hingga orang tersebut terluka.


Viona yang masih berapi-api mulai menyadari ada sosok tak dikenalnya yang sejak tadi luput dari perhatian saking emosinya. Berdiri terhalang punggung Bisma. Sosok wanita bermukena yang sesekali mengangkat wajah mencuri-curi pandang padanya melalui netra teduh berbulu lentik.


Tya terkesiap dan otomatis menunduk dalam ketika tatapannya bersirobok dengan Viona. Punggungnya menegang dan Tya menelan ludah tak karuan saat melihat kedua kaki Viona melangkah mendekat padanya.


“Namamu adalah Tya, benar?” tanya Viona dingin dan datar.


“Bun, tolonglah, biarkan aku menjelaskan dulu.” Bisma ikut mendekat, tetapi kakinya terhenti ketika Viona mengangkat sebelah tangannya di udara.


“Diam di situ! Jangan memotong kalimat Bunda!” tegasnya tak menerima bantahan.


Viona kembali fokus pada Tya. Memindai saksama wanita muda berparas cantik nan ayu itu dari atas sampai bawah. “Jadi, kamu adalah istrinya Bisma?”


Tya meneguk ludah. Menarik napas panjang sebelum memberanikan diri mengangguk kemudian mengangkat pandangan.


“I-iya, Bu. Saya Tya, sa-saya… istrinya Mas Bisma,” jawab Tya pelan.


Kini mereka benar-benar bertemu pandang dari dekat. Tya gugup bukan kepalang, meski ibunya Bisma ini berperawakan mungil, tetapi karisma dan wibawanya tidak main-main. Sedangkan Viona menatap Tya dalam-dalam, masih tanpa ekspresi.


“Kenapa masih pakai mukena?” tanya Viona, membuat Tya melongo, karena mengira pertanyaan Viona selanjutnya akan mengorek tentang identitasnya.


“Eh, itu, anu, Bu. Sa-saya, baru selesai solat Isya berjamaah sama Mas Bisma,” sahut Tya apa adanya, berusaha keras menjaga nada bicaranya, takut bersikap tidak sopan.


Viona menoleh ke belakang di mana Bisma berdiri. Baru menyadari putra bungsunya masih memakai baju koko dan sarung. Pemandangan langka bagi Viona, karena ketika menikah dengan Prita dulu tak pernah sekalipun Viona melihat Bisma berjamaah di rumah maupun melihat Prita dan Bisma beribadah solat bersama. Bisma lebih sering solat sendiri.


“Bisa siapkan mukena dan sajadah?” pinta Viona tiba-tiba pada Tya, membuat semua orang yang berada di ruang tamu mengerjap saling tatap.


“Eh, mukena dan sajadah ya, Bu? Bisa, sangat bisa.” Tya mengangguk-angguk cepat berulang kali.


“Kita akan melanjutkan pembicaraan ini nanti setelah Bunda menunaikan solat Isya. Dan satu lagi, panggil saya Bunda kalau kamu memang istrinya Bisma.”


Bersambung.