Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 112



Sinful Angel Bab 112


Sementara Bisma sedang mandi sore ini, Tya menuju halaman belakang. Menghampiri Mang Eko yang sedang mengurus tanaman. Mang Eko yang melihat majikannya melangkah lebar dengan cepat ke arahnya, segera berdiri dan mengangguk sopan.


“Mang, ada yang mau saya omongin,” kata Tya langsung saja, membuang basa-basi. Tak ingin menyia-nyiakan waktu.


“Silakan, Neng. Ada apa?”


“Gini, Mang. Tentang saya yang pergi ke rumah sakit Satya Medika, tolong jangan bilang sama Mas Bisma dulu ya. Biar nanti saya sendiri yang ngomong dan jelasin. Takutnya malah salah paham kalau Mas Bisma dengar dari Mang Eko. Soalnya tadi pagi saya izinnya mau pergi ke rumah Khalisa, tapi karena suatu hal, saya harus pergi ke tujuan berbeda. Tolong ya, Mang,” pinta Tya dengan raut wajah was-was. Khawatir Mang Eko menolak permintaannya.


Mang Eko sebetulnya agak bimbang dan ingin bertanya alasannya, tetapi dia tak punya pilihan selain mengangguk. Kecuali jika sang nyonya pergi ke tempat-tempat yang tak semestinya seperti misalnya ke kelab malam, maka Mang Eko akan langsung melaporkannya pada Bisma.


“Baik, Neng.”


“Makasih banyak, Mang,” tukas Tya seraya membuang napas lega.


Selesai bicara dengan Mang Eko, Tya langsung terjun ke dapur untuk memasak makan malam. Mengenakan masker embos guna melindungi indra penciuman dari aroma-aroma makanan yang malah mengundang mual.


Teh Erna pun diminta bantuannya oleh Tya setelah beberapa waktu biasanya Tya ingin memasak sendiri tanpa campur tangan orang lain. Menyiapkan berbagai macam menu lebih banyak dari biasanya.


“Sayang, kenapa kamu malah di dapur?” seru Bisma khawatir.


Bisma yang baru selesai mandi langsung keluar dari kamar saat tidak mendapati istrinya di ranjang. Dibuat kian sewot ketika melihat banyak hidangan hampir memenuhi seluruh meja makan.


“Kan tadi sudah kubilang rebahan saja. Juga kenapa malah masak sebanyak ini? Kalau kamu kenapa-napa gimana?” sewotnya.


Tya mencuci tangannya saat sang suami menghampiri, membuka masker yang dipakai setelah kedua tangannya dikeringkan tisu.


“Rebahan terus badanku malah enggak enak, Mas. Terus aku juga memang lagi ingin masak banyak. Mendadak pengen makan bareng-bareng sama Mas, Teh Erna sama Mang Eko juga. Kalau kata temanku di panti dulu namanya botram. Makannya lesehan di gazebo belakang. Kayaknya asik gitu,” tuturnya riang.


Bisma merangkul sang istri mesra, mengusap perut Tya yang belum menyembul dengan penuh kehati-hatian. Rasa hangat menyeruak memenuhi sanubari bersama kegembiraan membuncah tumpah ruah saat telapak tangannya mendarat di sana, menyapa si buah hati.


“Apakah ini yang dinamakan bawaan bayi?” tanya Bisma semringah saat mendengar keinginan istrinya yang tidak biasa.


Tya mengulum senyum. “Bisa jadi, mungkin juga ini yang namanya mengidam,” sahutnya sembari mengekeh pelan.


“Walaupun mungkin keinginan mengidam, tapi tetap saja enggak boleh capek-capek. Kamu harus banyak-banyak istirahat. Rebahan saja, jangan megerjakan apapun.” Bisma menekankan kata-katanya.


“Hei, masa rebahan terus sepanjang waktu? Aku enggak terbiasa mageran parah, Mas. Aku ini bukan orok baru lahir! Lagian aku juga punya tugas sebagai istri, salah satunya menyiapkan makan malam untuk suamiku.” Tya melayangkan protes.


Telunjuk Bisma bergoyang ke kanan dan ke kiri dibarengi gerakan kepala serupa, mengutarakan ketidaksetujuan.


“No! Pokoknya, mulai sekarang tugas utamamu cuma satu. Menjaga dan memastikan bayi kita di dalam sana sehat dan aman. Jangan risaukan hal lain, bila perlu kutambah ART satu lagi. Jangan membantah. Harus nurut, Nyonya,” tegasnya sembari mencolek hidung bangir Tya gemas.


Teh Erna yang sejak tadi mencuri dengar percakapan majikannya sembari menggoreng perkedel jagung, menoleh penuh tanya dengan alis bertaut dan menukas penasaran.


“Neng, Den, Punteun. Ini teh maksudnya Neng Tya lagi hamil? Lagi mengandung gitu?”


Bisma yang sedang asyik mengelusi perut Tya dengan sedikit membungkuk, menegakkan punggung dan melirik Teh Erna yang ternyata tengah melongo dengan mulut sedikit terbuka.


“Iya, Teh. Tya hamil. Kami akan jadi orang tua,” jawab Bisma gembira. Wajah tampannya bertambah cerah, lantas mencium pipi Tya di depan Teh Erna tanpa sungkan yang dihadiahi sikutan kencang di perutnya.


“Mas, malu ih, ada Teh Erna!” sungut Tya, memasang raut wajah memberengut dengan pipi merona.


“Mulai saat ini, jangan biarkan Tya mengerjakan pekerjaan rumah apapun itu. Teh Erna juga harus memastikan, jangan sampai Tya beraktivitas berat di saat aku sedang tidak di rumah, kalau Tya ngeyel langsung laporkan padaku.”


*****


Setelah mengetahui sang nyonya sedang mengandung, Teh Erna meminta dengan sangat agar Tya duduk saja saat melihat majikan perempuannya itu bermaksud mengangkut makanan dari meja makan ke gazebo. Tya hendak merealisasikan keinginan dadakannya yang ingin makan malam ala lesehan beramai-ramai.


“Neng Tya duduk saja. Saya takut nanti kandungannya gimana-gimana. Semua makanan ini biar saya dan Mang Eko yang angkut.” Teh Erna yang sangat paham akan penantian Bisma perihal keturunan, ikut ketularan posesif seperti tuannya. Protektif pada si jabang bayi dan ibunya.


“Saya kan cuma mau ngangkut makanan. Bukan mau membela negara di medan perang!” keluh Tya, mengerucutkan bibinya sebab dilarang ini dan itu.


“Kudu nurut pokoknya. Seperti kata Den Bisma, tugas Neng Tya sekarang cuma menjaga kandungan. Jagain dede utunnya baik-baik ya.”


Setelah berhari-hari Tya ogah-ogahan makan nasi karena tak tahan dengan aromanya, malam ini ia makan cukup lahap. Menyantap nasi liwet dengan lauk lengkap, mulai dari ayam goreng lengkuas sampai sambal dan lalapan. Bisma sesekali menyuapi sang istri, makan bersama penuh suasana hangat kali ini terasa berkali-kali lebih nikmat dan bermakna.


“Ayo sini, cepat rebahan. Enggak boleh begadang, ibu hamil harus tidur lebih awal.” Bisma menepuk-nepuk bantal saat Tya keluar dari kamar mandi.


Tya sudah berganti baju mengenakan gaun tidur warna hitam, tipis menerawang sehingga si kain berenda di dalamnya mengintip. Bisma berdeham saat Tya naik ke tempat tidur, baru menyadari malam ini istrinya berpakaian lebih seksi, semakin cantik bersinar dengan beberapa lekuk tubuh bertambah berisi.


Bukannya rebah di bantalnya, Tya menelusup masuk ke pelukan Bisma. Bermanja, mendusel-dusel di sana.


“Mmhh, wangi Mas enak, harum,” cicitnya manja sembari mengendus-endus dada bidang Bisma yang terbalut kaus polo.


“Apakah gejala genit ini juga bagian dari mengidam?” kekeh Bisma yang balas merangkul setelah selimut ditarik lebih atas, mengelusi punggung Tya intim penuh sayang.


“Mungkin juga.” Tya mengkerling, terkikik geli. Menenggelamkan diri di dekapan daksa gagah dan hangat yang terasa aman melingkupinya.


“Besok, kita ke dokter kandungan sama-sama. Aku ingin mendengar dengan telingaku sendiri tentang kondisi anakku di dalam sana secara detail. Tapi kenapa enggak langsung bilang sama aku waktu tahu kamu sudah hamil?”


“Soalnya, aku lihat Mas lagi sibuk banget. Pulangnya juga malam terus. Aku sengaja menunda memberitahu, lagi nyari waktu yang tepat. Maaf ya,” jawab Tya beralasan.


Bisma sebenarnya ingin bertanya tentang kronologi bagaimana si foto USG bisa berakhir jatuh di kantornya. Namun, Bisma memilih menunda menanyakan hal tersebut. Biar besok saja dia mencari tahu sendiri. Tidak ingin mengacaukan mood ibu hamil tersayangnya.


Kehamilan Tya ini pun laksana titik terang yang mungkin bisa meluluhkan kemarahan bundanya. Rasanya sudah tak sabar ingin segera besok dan memberitahu sang bunda bahwa dirinya akhirnya dikaruniai keturunan. Berencana setelah dari dokter kandungan, Bisma akan membawa Tya menemui Viona.


Bisma mencium kening Tya. “Enggak usah minta maaf, Sayang. Justru aku yang merasa bersalah di sini. Akibat aku terlalu sibuk, kamu sampai sungkan menyampaikan kabar spesial ini. Besok sore sepulang bekerja kita langsung berangkat ke dokter. Aku juga butuh berkonsultasi.”


“Oke, tapi konsultasi tentang apa?”


“Tentang banyak hal. Fokusnya tentu terkait kesehatan bayi dan ibunya, juga berkonsultasi tentang masalah ranjang di masa kehamilan. Aku takut salah kaprah yang berakibat membahayakan kandunganmu. Tapi juga enggak mungkin kuat berpuasa sampai kamu melahirkan. Buktinya, sekarang saja dia menggeliat, apalagi sekarang istriku makin seksi berisi.” Bisma berbisik mesra. Dengan gerakan sensual membawa telapak tangan Tya mendarat di pusat tubuhnya di bawah selimut.


Tya menengadah, membalas sayu tatapan maskulin nan panas suaminya. Menggigit ujung bibirnya menggoda dan jemari halusnya di bawah sana malah bergerak nakal.


“Mau menjenguk enggak? Kata dokter kemarin boleh-boleh saja asal enggak bar-bar,” ujar Tya.


“Jenguk apa? Yang bar-bar apa?” imbuh Bisma gagal paham.


Tya beringsut lebih naik, bibirnya menggapai telinga Bisma kemudian berbisik panas menggoda di sana. “Menjenguk bayi kita di dalam sana.”


Bersambung.