Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 149



Sinful Angel Bab 149


Bisma pulang larut hari ini. Bundanya menyambut di teras begitu mendengar bunyi kendaraan memasuki garasi. Penunjuk waktu mengarah ke angka sepuluh tepat saat Bisma melirik arloji sesaat sebelum turun dari kendaraannya.


Gurat wajahnya tampak lelah. Meski begitu segaris senyum tetap terukir, merasa lega satu persatu masalah dapat diatasi tanpa huru-hara. Tetap tenang bak permukaan air mengalir yang hanya mengencangkan arusnya di bawah saja.


Ucapan salamnya disahuti sang bunda. Bisma juga mencium punggung tangan Viona sebelum kemudian masuk bersama-sama.


“Kamu kelihatannya capek banget. Sudah makan malam?” tanya Viona cemas saat melihat wajah putra bungsunya memetakan rasa lelah yang teramat sangat.


“Belum, Bun. Tidak sempat. Banyak hal yang harus kuurus secepat mungkin, tidak ada waktu menunda,” jawab Bisma sembari mengayunkan kakinya berbarengan dengan Viona.


Langkah kaki Viona terhenti. Mengusap bahu tegap putranya, menatap penuh kekhawatiran. Membawanya duduk di sofa yang terdapat di living room.


“Jangan dibiasakan begitu. Sesibuk apapun pekerjaanmu, menjaga kesehatan tetap utama, sebagai bentuk rasa syukur kita telah diberi nikmat sehat yang tak ternilai. Juga, sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi. Ada dua orang berarti yang harus dijaga sepenuh hati dan sangat membutuhkanmu. Untuk itulah kamu harus menjaga kesehatan,” tutur Viona mengingatkan.


Bisma tersenyum masam. “Iya, Bundaku yang bawel,” ujarnya terbalut canda juga rasa terima kasih, perhatian sang bunda memang tak pernah lekang oleh waktu.


“Memangnya hal apa yang kamu urus sampai selarut ini?”


“Nanti aku cerita. Ini masih berkaitan dengan biang rusuh dari masa laluku. Tapi, walaupun menyita waktu. Yang penting usahaku berhasil,” jawab Bisma singkat saja.


Bisma pulang sampai selarut ini demi mengurus Markus supaya tak berani macam-macam lagi pada Tya, juga dipastikan takkan berani macam-macam terhadap perusahaanya setelah pemutusan kerjasama tanpa kompensasi disepakati.


Sebagai antisipasi, Bisma meminta Yudhis dan tim pengacaranya datang ke restoran setelah membuat Markus bertekuk lutut. Meminta Yudhis membantunya membuat perjanjian tertulis yang ditandatangi langsung oleh Markus yang menyatakan bahwa Markus tidak akan pernah berulah lagi terhadap keluarga Bisma sampai kapanpun. Jika melanggar, maka semua kebusukan Markus dipastikan akan dipublikasikan dan sudah tentu Markus akan hancur lebur jika Resya menendangnya.


Markus mati kutu, tak berkutik. Memilih mengiyakan semua permintaan Bisma daripada dia berakhir jadi gelandangan di jalanan, tanpa harta dan keluarga. Bagaimanapun di lubuk hati terdalamnya, Markus mencintai Resya juga takut putranya membencinya andai mengetahui sisi gelapnya. Hanya saja pergaulan liar dan fetish anehnya membuatnya tak merasa cukup dengan satu wanita saja, makin menggila ketika jabatan tinggi digenggamnya.


Selain memutuskan kerjasama, Bisma juga menuntut hal lain yang mau tak mau disetujui Markus secara tertulis. Lebih baik patuh ketimbang meladeni peperangan yang jelas tak seimbang lawannya.


Bisma mendesak agar Markus mundur dari jabatan presdirnya di perusahaan pusat ayah Resya di Kota Bandung ini, meminta Markus pindah dari kota ini dan jangan sampai memperlihatkan batang hidungnya berkeliaran lagi di sini. Tentang alasan alibi yang harus dibuat Markus pada mertuanya Bisma tidak mau tahu, yang penting Markus enyah dari sini.


Tak ketinggalan Bisma juga membubuhkan satu poin lagi. Jika suatu saat Prita serta Radhika menyebarkan aib Tya, maka dipastikan Markus pasti akan ikut terseret buah dari mulut embernya. Oleh karena itu, andai ada yang bertanya jika nanti namanya dibawa-bawa oleh Radhika juga Prita untuk dimintai konfirmasi sebagai sumber informasi masa lalu Tya, maka Markus jangan sampai salah bicara. Markus harus menjawab tak pernah mengenal Tya dan informasi yang disebarkan Prita juga Radhika hanya gosip semata. Jika tidak patuh, maka tanggung sendiri akibatnya. Ibarat peribahasa yang berbunyi mulutmu harimaumu, begitulah yang menimpa Markus sekarang.


“Ya sudah, nanti saja ceritanya. Sekarang kamu makan malam dulu walaupun sudah sangat terlambat. Mau makan yang sudah ada atau mau Bunda buatkan sesuatu?” tawar Viona penuh perhatian. Begitulah seorang ibu, meski anaknya telah dewasa, baginya sampai kapanpun akan selalu menjadi buah hati kecilnya.


“Aku kangen mie tek-tek seafood buatan Bunda yang tiada duanya itu. Ah, aku jadi kangen ayah. Biasanya ayah yang paling posesif kalau Bunda masak menu itu. Selalu ingin menjadi yang nomor satu mendapat bagian.”


Viona tertawa kecil. Bias matanya menerawang pada kenangan tingkah polah almarhum suaminya, persis seperti yang dikatakan Bisma.


“Semoga segala kesalahan dan khilaf ayahmu diampuni, semoga ayahmu ditempatkan di tempat yang terbaik.”


“Aamiin,” tukas Bisma mengaminkan dan tak lupa menderaikan do’a yang sama dari lubuk hati.


“Mau dimasak pedas atau original mie tek-teknya?” tanya Viona yang bangkit dari duduknya, hendak beranjak ke dapur.


“Kalau boleh pedas saja, Bun. Maaf, aku jadi ngerepotin Bunda. Tapi aku asli memang kangen banget sama masakan Bunda yang satu itu.” Bisma menyengir di ujung kalimatnya yang ditanggapi Viona dengan tawa renyah berderai.


“Tapi jangan dibikin dulu, Bun. Aku mau mandi dulu sebentar. Badanku rasanya lengket di mana-mana. Eh iya, di mana Tya? Dari tadi tidak kelihatan?” Bisma celingukan, baru menyadari wajah cantik istrinya tak terlihat sejak tadi.


“Jam sembilan tadi, Bunda minta Tya istirahat di kamarmu saja daripada masuk angin. Tadi Bunda intip kayaknya sudah tidur, sewaktu sebelum kamu sampai. Sejak jam delapan Tya mondar-mandir di teras, nungguin kamu pulang. Padahal katanya lambungnya lagi enggak enak. Tya juga cuma makan sedikit, soalnya tadi mual-mual lagi. Tya cerita, kalau makan tanpa ada kamu, memang seringnya begitu. Kayaknya cucu Bunda bucin banget sama papanya.”


Viona terkekeh sembari mengulas senyum hangatnya, sedangkan si calon papa tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Berbeda dengan Viona yang juga pernah mengandung, hal yang dialami Tya masih tergolong lumrah dialami dalam fase kehamilan, sehingga dia terlihat lebih tenang.


“Kalu gitu, aku ke kamar dulu ya, Bun.”


Bisma berderap cepat ke lantai dua di mana kamarnya di rumah sang bunda berada. Mendorong pintu tinggi yang terbuat dari kayu itu agak kencang akibat tergerus panik. Beruntung refleksnya juara, dengan cepat Bisma menyambar daun pintu supaya tidak menghantam dinding dan menutupkannya kembali sepelan mungkin.


Kamarnya sunyi senyap. Dia atas tempat tidur hanya ada selimut yang teronggok kusut. Aroma harum tubuh Tya memang merebak di dalam kamar, tetapi si empunya tak terlihat di seluruh sudut ruangan.


Lantas telinganya menangkap suara gemericik air dari kamar mandi yang sedikit terbuka pintunya. Cepat-cepat Bisma menaruh jas dan tas kerjanya ke atas kasur. Menerobos masuk ke dalam sana dan dia malah mematung kaku saat disuguhkan keindahan lekuk dan kulit mulus istrinya. Tya sedang menikmati kucuran air hangat tanpa benang sehelai pun.


Bersambung.