
Sinful Angel Bab 24
“Makasih banyak, Pak. Sudah bersedia repot-repot antar saya ke sini,” ucap Tya begitu mobil yang dikemudikan Bisma berhenti di area depan gerbang rumah sakit.
“Tak masalah, lagi pula saya sudah berjanji anterin kamu. Tapi, yakin mau diantar sampai sini saja? Saya tak keberatan masukin mobil sampai area parkir dalam biar kamu tidak terlalu jauh jalan kaki,” tawar Bisma yang tanpa disadarinya terdengar agak memaksa. Mendadak khawatir, entah apa yang mengundang getar cemas itu datang bertandang menyelinap dalam jiwa.
Tya membuka seatbelt, menggelengkan kepala pelan lantas membungkuk sopan. “Yakin, Pak. Terima kasih juga buat semua bonus yang sudah diberikan buat saya. Dan pesan saya sekali lagi, jangan mau bersinggungan lagi dengan yang namanya Date House dan sejenisnya. Sebaiknya Anda segera mencari istri sungguhan, supaya enak dan tidak was-was dipamerkan sama mantan istrinya. Saya yakin, pasti sebenarnya banyak wanita yang ngantri kepingin jadi istri Anda, cuma kayaknya Anda yang jual mahal, Pak,” kekeh Tya melontarkan canda sembari menyampirkan tote bag besar di pundak, berisi dua potong gaun dan dua pasang sepatu.
“Kenapa berpikiran seyakin itu?” Bisma berusaha mengontrol senyumnya yang ingin merekah. Agak geer sebetulnya saat Tya membahas tentang para wanita yang mengantre ingin menjadi pengganti Prita mendampinginya, walaupun kalimat Tya memang sesuai faktanya.
“Hadeh, Bapak Bisma ini.” Tya menepuk-nepuk jidatnya sendiri, lalu memicing dengan sudut mata meruncing. “Enggak sadar ya kalau Anda ini walaupun duda tapi kerennya tak kalah dari pria bujangan? Juga yang saya lihat, Anda ini tidak neko-neko, bukan pria tukang terbar pesona. Kharisma Anda itu pria baik-baik lagi sukses. Tidak diragukan banyak yang mau, cuma saya yakin Andanya yang justru tidak mau. Diminta sekali ucap saja pasti para cewek-cewek langsung bersedia jadi istri Anda, Pak," cerocos Tya begitu bersemangat.
“Oh, ya?” Bisma mengangkat sebelah alisnya lebih tinggi. “Kalau kamu yang saya minta jadi istri sungguhan saya bagaimana? Benarkah bakal langsung bersedia juga?” tanya Bisma menuntut. Jenis pertanyaan tak terduga meluncur begitu saja tak terencana. Spontanitasnya saat berdekatan dengan Tya memang terbilang ekstrem, mampu membuatnya kaget sendiri.
“Ya ampun, Pak. Bercandanya tidak lucu, pertanyaan Anda malah ngawur,” imbuh Tya sembari geleng-geleng kepala masih terbungkus sisa-sisa tawanya. “Sepertinya Anda kelelahan dan butuh tidur. Saya pamit sekarang, biar Anda bisa segera pulang dan beristirahat. Mari, Pak Bisma. Hati-hati menyetirnya.” Mendorong pintu mobil, Tya gegas turun, menyempatkan membungkuk sopan sebelum melangkah cepat setengah berlari memasuki area dalam rumah sakit.
Bisma segera melajukan kendaraannya pergi dari sana. Tancap gas mengambil jalur kembali ke Hotel JW Marriot mengingat waktu sudah merayapi dini hari. Benar kata Tya, sepertinya dirinya butuh istirahat dan tidur berkualitas supaya tidak mendadak ngawur seperti tadi.
Hanya saja di perjalannya kembali ini Bisma agak terganggu nuansa berbeda, tidak seperti suasana berkendara pada waktu beberapa jam ke belakang yang terasa asyik.
Mendadak Bisma disergap riak kesepian lebih parah dari sebelumnya, tiba-tiba merasa ada yang kurang, entah mengapa merasa ada yang hilang, tak ada angin tak ada hujan merasa rindu namun entah pada siapa, dan sekeras apapun berpikir dia tak kunjung menemukan jawaban. Padahal, dirinya merupakan pribadi yang menyukai kesendirian semenjak menyecap getirnya pengkhianatan dan terkoyaknya kesetiaan.
“Hei, ada apa denganku? Pasti ini efek buruk karena makan junk food malam-malam,” gumamnya sendiri, menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di hotel.
Bersambung.