Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 44



Sinful Angel Bab 44


Tiga minggu lamanya Tya habiskan di rumah sakit pasca operasi patah tulangnya. Sore ini, Tya dinyatakan sudah boleh pulang dengan tetap diharuskan melakukan rawat jalan rutin hingga cedera di lengan kanannya benar-benar pulih seperti sedia kala.


Teh Erna yang selama tiga minggu ini setia menemani Tya siang dan malam, membantu menyiapkan pakaian ganti untuk dipakai Tya pulang sementara Bisma tengah menyelesaikan urusan administrasi. Selama tiga minggu, Bisma pun sering bolak-balik rumah sakit sepulang bekerja meski tidak setiap hari.


"Mau dibantu ganti bajunya, Neng?" tawar Teh Erna pada Tya, mengingat lengan kanan Tya masih harus digendong agar pemulihannya maksimal.


"Tidak usah, Teh. Mulai hari ini saya ingin belajar lagi pakai baju sendiri. Lagipula ini bajunya model dress longgar, lebih mudah dipakai," tolak Tya sopan sembari mengulas senyum.


"Beneran Neng Tya bisa? Kalau belum yakin, jangan dipaksakan," imbuh Teh Erna berpendapat terselip kekhawatiran.


"Sangat yakin, Teh. Tapi, bisakah Teh Erna tolong tunggu di luar? Saya ingin ganti bajunya di sini, kalau di kamar mandi takut terpeleset," pinta Tya memohon.


"Baik, Neng. Teteh nunggu di depan pintu, kalau butuh bantuan panggil saja ya. Tapi pintunya jangan dikunci, takut ada apa-apa."


Teh Erna meninggalkan Tya sendiri. Dia menunggu setia di depan pintu ruang rawat inap Tya sembari membuka ponsel pintarnya, mengecek kembali pesan Bisma terkait perintilan kesehatan Tya yang harus ikut dibawa pulang.


Lima belas menit menit berlalu, Teh Erna mengusap-usap perutnya yang mendadak terasa tak enak.


"Duh, ini malah mulas-mulas, kayaknya imbas dari makan karedok leunca tadi siang," gumamnya sendiri, meringis.


"Ini Neng Tya sudah beres belum ya ganti bajunya?" tanyanya pada pintu di hadapannya yang hanya membisu tak kunjung memberi jawaban.


Hendak mengetuk, Teh Erna merasa tak enak hati mengganggu. Celingukan ke sekitar berharap Bisma muncul, ingin meminta izin ke kamar mandi. Namun, rasa mulasnya yang kian menghebat membuatnya tak peduli lagi pada apapun, kocar-kacir menuju toilet yang berada di area umum.


Selang beberapa saat, Bisma muncul di lorong menuju arah kamar rawat inap Tya. Melangkah lebar dan memutar tuas pintu di mana Tya berada. Tak mengetuk terlebih dahulu seperti biasanya, Bisma mendorong pintu berwarna putih polos tersebut.


Tubuh molek Tya yang sudah sembuh luka luar dan lebamnya tersaji mulus. Bra dan panty berenda berwarna krem terpampang nyata membungkus aset krusial para wanita. Bukannya menutup mata, kedua mata Bisma malah memelotot, jakunnya naik turun, terutama saat ruang pandangnya jatuh pada bagian kembar sintal membusung mengintip di balik renda.


"Teh, kenapa masuk? Ada perlu kah? Saya belum selesai, tunggu di luar lagi saja ya, maaf lama," kata Tya yang sedang berupaya memakai baju, belum menyadari bahwa yang masuk bukan Teh Erna.


"Astaghfirullahalazim!" Bisma berkata setengah berteriak, serta merta berbalik membelakangi dan mengusap wajahnya kasar.


"Hah? P-Pak Bisma? Arghhhh keluar!" bentak Tya, memekik terkejut saat suara maskulin Bisma menggema di seluruh kamar, sedangkan bajunya masih menyangkut di area leher dan kepala.


"Ma-maaf. Saya kira kamu tidak sedang berganti pakaian di sini karena biasanya kamu ganti baju di kamar mandi dibantu Teh Erna," sambar Bisma cepat, nada bicaranya jelas tak ingin disalah pahami.


"To-tolong keluar, Pak. Saya sedang belajar ingin berganti baju sendiri," jelas Tya tak enak hati karena sudah membentak dengan suara tinggi.


"O-oke. Lanjutkan ganti bajunya, saya keluar sekarang."


Tepat saat Bisma menyentuh gagang pintu, langkahnya terhenti kala telinganya menangkap suara Tya yang mengaduh dan meringis. Pasti karena lengan yang tertimpa cedera belum pulih sempurna.


Membuang napas kasar, Bisma melepaskan gagang pintu. Memutar tubuh dan tanpa ba bi bu melangkah lebar menghampiri Tya. Lagipula mereka sudah menikah bukan? Tidak ada yang salah kalau hanya sekadar membantu Tya berganti pakaian.


"Saya bantu kamu pakai baju!" tegas Bisma yang langsung saja menarik resleting gaun yang menyangkut lebih lebar. Tangannya gatal melihat si dress tak kunjung membungkus raga berlekuk indah si wanita bermata teduh ini.


"Eh, ti-tidak usah, Pak. Bapak tunggu di luar saja, saya bisa sendiri." Tya tergagap panik, hendak menolak namun usahanya nihil.


"Diamlah! Kalau terus lama-lama begini kamu bisa masuk angin. Jadi jangan membantah!"


Bersambung.