
Sinful Angel Bab 104
“Neng Tya baik-baik saja? Itu mukanya pucet pisan. Langsung pulang saja bagaimana, Neng?"
Mang Eko memberi usulan dari balik kemudi ketika mobil berhenti di lampu merah. Melalui kaca spion dalam dia tak sengaja melihat pantulan majikannya yang tampak pucat pasi dengan keringat berembun di dahi.
“Jangan, Mang. Ini cuma agak pusing sedikit, bukan masalah besar. Kalau bisa pacu mobil lebih cepat ya, Mang. Saya ingin cepat-cepat ketemu Mas Bisma,” pinta Tya yang sedang menyusut banjir keringat dingin di dahinya. Dilanjutkan dengan membaui minyak telon di tangannya.
“Siap Neng, laksanakan.”
Pertemuannya dengan Markus selalu menghasilkan gelombang stress berat yang berimbas pada reaksi tubuhnya dan ia butuh menghirup aroma Bisma sekarang, satu-satunya penawar jitu yang ampuh meredakan mual dan pusingnya. Mungkinkah bawaan bayi? Bisa jadi janinnya di dalam sana ikut marah saat ibunya diolok-olok dan dicaci.
Tya menimbang-nimbang sepanjang perjalanan untuk bercerita perihal Markus pada Bisma. Bukan hendak menjelekkan mitra bisnis sang suami, tetapi Tya sungguh butuh perlindungan sekarang. Setelah mengetahui dirinya mengandung, Tya disergap ketakutan kalau-kalau di situasi lengah Markus membuatnya celaka.
Jika hanya dirinya sendiri yang dicelakai, Tya merasa masih mampu mengatasi kendati tak yakin. Akan tetapi, mengetahui di dalam rahimnya bersemayam si buah hati, Tya takut bayinya yang tak berdosa ikut tersakiti dan ia sungguh buntu, tak tahu harus bagaimana mengambil langkah antisipasi.
Sesampainya di lobi Agra Prime, Tya menyempatkan diri menyapa Suri sejenak meski desakan mualnya sudah tak karu-karuan. Meremas tali tas selempangnya sebagai upaya meredam.
“Langsung ke lantai empat saja, Bu. Bapak baru selesai rapat dan kebetulan ada Bu Viona juga, baru datang beberapa saat yang lalu. Perlu saya antar, Bu?” Suri menawarkan bantuan. Bukan tanpa alasan, saat ini kondisi istri sang bos terlihat tidak begitu baik.
“Saya bisa sendiri, Suri. Lanjutkan saja pekerjaanmu,” sahut Tya tetap berusaha ramah.
Tak membuang waktu, Tya menggunakan lift menuju ruangan Bisma berada. Ia mengusap-usap perutnya saat si benda kotak berlapis besi itu membawanya naik. Mengeluarkan lagi foto USG dari dalam tasnya, memandanginya penuh cinta meski lambungnya bergolak tak nyaman.
Bunyi berdenting bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Tya gegas melangkah menuju pintu yang bersebelahan dengan meja Poppy.
Sekretaris sang suaminya itu sedang tidak ada di tempat, kursinya kosong. Biasanya Poppy menyambut dan mengetukkan pintu Bisma untuknya, tetapi karena Poppy sedang tidak ada, Tya akan mengetuk pintu ruangan sang suami langsung saja.
Kedua kakinya berhenti melangkah. Tangan kanannya yang hendak mengetuk terhenti mengambang di udara tepat di depan pintu tinggi yang terbuka sedikit celahnya.
Tya membeku saat mendengar seruan isak tangis kemarahan yang terdengar dari dalam sana berpadu suara suaminya. Namanya ikut di sebut-sebut, membuatnya urung masuk dan mengetuk. Tubuhnya membeku laksana dipaku ke tanah.
“Jadi kamu sudah tahu tentang masa lalunya dan tetap nekat menikahinya? Bisma di mana akal sehatmu! Bunda memang menyarankanmu untuk segera menikah lagi tapi bukan begini. Bukan dengan wanita seperti ini!”
“Kamu benar cinta atau hanya nafsu sesaat? Mengingat profesinya di masa lalu dia itu pasti perayu ulung kan? Bisa saja sisi baiknya itu hanya manipulasi. Kamu itu terlalu naif, Bisma. Dulu pun kamu dikelabui oleh rubah licik bernama Prita. Apakah kali ini yakin tidak sedang dikecoh lagi?”
“Bunda, tolong jangan berpikiran begitu tentang Istriku. Aku sungguh belajar dari kegagalanku tentang menilai seorang wanita. Aku pun sempat merenung dan bertanya pada diriku sendiri, apakah aku yakin dengan perasaanku pada Tya dan jawabannya adalah ya. Ternyata aku memang cinta dan sayang pada Tya seperti apapun dirinya. Dan aku sangat yakin Tya tidak seperti Prita walaupun masa lalunya kelam.”
“Yakin kamu bisa menerima masa lalunya itu selamanya? Yakin cintamu itu bertahan padanya apapun yang terjadi di masa depan?”
“Sangat yakin, Bunda. Bersama Tya yang notabene memiliki masa lalu kelam, justru aku menemukan jalan lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, juga akhirnya kurasakan yang namanya kenikmatan ibadah rumah tangga. Aku terpicu untuk ikut belajar lagi dan lagi, sebagaimana Tya ingin dibimbing.
Aku merasa jadi imam yang sesungguhnya dalam pernikahanku dengan Tya. Hal yang tak kutemukan dalam rumah tanggaku dulu. Juga, banyak keberkahan tak terduga saat aku memutuskan menikahi Tya. Seperti halnya perusahaanku yang tak disangka-sangka diberi kelancaran naik pamornya dalam waktu singkat.”
“Tapi, andai kamu ditakdirkan diberi keturunan lewat rahimnya, apakah yakin dia tidak akan seperti ibunya yang tak menginginkan darah dagingnya sendiri? Yakin Tya mampu menjadi ibu yang baik sementara madarasah pertama anak-anakmu kelak adalah ibunya! Kenapa kamu bertindak gegabah!”
“Bunda, tolonglah jangan begini. Bukankah Bunda selalu mengajarkanku untuk tidak menghakimi orang lain tanpa tahu kisah yang sebenarnya? Tolonglah Bunda. Sejak dilahirkan, hidup Tya selalu dirundung kepahitan, menghadapi kejamnya dunia serang diri. Tidakkah Bunda tergerak hati untuk membimbingnya yang ingin menjadi manusia yang lebih baik? Tya menjadi wanita malam bukan dikarenakan desakan gaya hidup. Tanpa kujelaskan pun Bunda pasti sudah tahu semuanya dari detektif yang Bunda bayar untuk mencari informasi.”
“Tapi tetap saja Bisma. Kenapa harus begini? Andai publik mengetahui identitas istrimu di masa lalu, bukankah itu hanya akan menjadi bumerang dalam hidupmu? Terutama pada bisnismu yang baru menggeliat lagi.”
Seruan kekecewaan Viona terdengar nyaring setiap kata demi katanya di telinga Tya. Di dalam sana cekcok masih berlangsung dan Tya masih membeku di ambang pintu.
Niat hati ingin memberi surprise, tetapi tak disangka justru dirinyalah yang mendapat kejutan.
Tanpa disadarinya air matanya meluruh membasahi pipi. Akhirnya hari yang ditakutkannya tiba, hari di mana identitasnya diketahui Viona dan sesuai dugaannya Viona kecewa juga marah besar.
Tya tidak marah pada Viona. Andai dirinya berada di posisi Viona pun, pasti reaksinya akan sama. Masuk akal saat Viona meragukannya andai dirinya menjadi ibu sebab Tya memang tak pernah diasuh oleh yang namanya ibu yang sesungguhnya, tumbuh besar di panti yang lebih cocok disebut markas tempat tumbuhnya cikal bakal para bunga malam Jordan nantinya.
Namun, untuk pertama kali dalam hidupnya Tya merasa sangat marah pada ibu kandung yang telah melahirkannya. Hatinya menjerit nelangsa, kenapa ia tidak dibunuh saja saat ibunya mengandungnya dulu. Kenapa malah dilahirkan jika hanya untuk menanggung beban yang sungguh rasanya tak sanggup dipikulnya. Menorehkan nasib perih yang harus dilaluinya padahal dirinya tak pernah meminta dilahirkan ke dunia.
Dengan pipi basah bercucuran, Tya menarik kakinya mundur. Foto hitam putih di tangannya pun jatuh ke lantai saat ia melangkah gontai menggapai lift. Memutuskan kembali turun dengan air mata yang kian bersimbah, menangis tanpa isakan, memukul-mukul dadanya yang sebah tiada tara.
Bersambung.