
Sinful Angel bab 77
Selepas Bisma berangkat bekerja, Tya mendadak lesu tidak bersemangat. Wajahnya muram, tak bergairah.
Biasanya Tya selalu antusias merecoki Teh Erna di saat matahari beranjak naik di angkasa, ingin ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, hari ini yang dilakukannya hanya rebahan malas di living room dengan televisi menyala dan gawai di tangan. Tak tertarik pada aktivitas hilir mudik Teh Erna juga Mang Eko yang kini tengah menyisir seluruh rumah bersama tukang, dalam rangka peninjauan dan penanggulangan terkait tikus yang masuk rumah.
Jam yang menggantung di dinding terus saja diliriknya. Empat jam berlalu sejak Bisma bertolak dari rumah, tetapi bagi Tya terasa bagaikan empat tahun. Ia juga berulang kali memeriksa ponselnya, barangkali ada pesan atau panggilan yang masuk.
“Mas Bisma sudah sampai ke Puncak belum ya? Kenapa belum ngabarin? Eh, memangnya sejak kapan Mas Bisma kudu ngasih kabar sama aku? Akh, kenapa jadi pusing begini?” desahnya frustrasi, mencerocoskah tanya sendiri yang dijawab sendiri pula. Sangat kentara sedang gundah gulana terserang virus desiran terpaut rasa di jiwa.
“Kenapa perginya harus dua hari dua malam? Kenapa sekarang waktu mendadak berputar lamban kayak siput? Haruskah aku mengirim pesan lebih dulu? Hei, tapi aku nanti bisa malu berat kalau enggak dibalas,” keluhnya sibuk bermonolog ditemani para benda mati yang diajaknya berbincang-bincang.
Untuk pertama kali dalam hidupnya jam terasa berjalan sangat lambat. Tya ingin sekali waktu dua hari ke depan cepat berlalu. Entah sejak kapan dimulainya, kepalanya terus saja diisi wajah tampan Bisma yang menyilangkan senyum lebih dari lima senti padanya. Menguarkan nuansa manis lagi hangat. Menumbuhkan tunas rindu yang tumbuh tanpa disuruh.
"Staf analis produknya cewek atau cowok ya? Kalau Poppy memang cewek, tapi aku pernah ketemu beberapa kali dan kayaknya anaknya baik. Kenapa tadi aku enggak nanyain ya? Haish! Kenapa aku jadi kepoan dan mendadak ingin ikut campur gini sih?" gerutunya yang tak paham bahwa rasa tak nyaman dan panas dalam dadanya itu disebut cemburu.
Teh Erna menghampiri Tya yang terlihat seperti sedang tak enak badan. Membawakan segelas wedang empon-empon yang baru selesai direbus. Bahkan Tya sepertinya super malas hari ini, memakai piyama tanpa berdandan maupun menyisir rambut meskipun sudah mandi, padahal biasanya Tya selalu terlihat rapi dan resik setiap saat sejak lengan patahnya tak lagi digendong.
“Neng, kayaknya lagi kurang enak badan ya? Ini, minum wedang dulu. Biar segeran.” Teh Erna menaruh gelas di dekat meja, tepatnya di samping sofa santai di mana Tya berbaring.
“Makasih, Teh,” sahut Tya pelan sembari menghela napas dalam-dalam berupaya meredam gundah.
"Mau dikerok atau dipijit tidak, Neng? Teteh juga bisa kalau Neng mau," tawar Teh Erna tulus.
"Hah? Dadanya kenapa, Neng? Sesak atau bagaimana? Mau ke rumah sakit?" Teh Erna
panik mendengar keluhan Tya. Takut Tya terkena serangan jantung di saat tuannya sedang tidak di rumah.
"Bukan apa-apa kok, Teh. paling karena asam lambung kumat."
“Ya sudah, kalau begitu, buat makan siang hari ini bikin nasi tim ayam saja ya? Biar lambungnya baikan."
“Iya, Teh, ” jawab Tya singkat, sedang tak berminat memikirkan menu.
“Oh iya, barang-barang dan baju di kamar Neng Tya sudah boleh dipindahkan ke kamar Den Bisma? Mumpung Den Bisma lagi ke luar kota, jadinya berbenahnya tidak ganggu,” sambung Teh Erna melanjutkan perbincangan meski yang ditanya hanya tertarik melirik jam juga gawainya dengan ekspresi layu.
“Boleh, Teh.” Tya yang sedang tidak fokus menjawab iya-iya saja, tak memperhatikan topik pertanyaan dengan benar.
“Sekarang?” Teh Erna memastikan dengan antusias.
“Sekarang, Teh,” jawab Tya singkat.
Lagi, Tya menyahuti dengan respons yang sama seperti sebelumnya. Tya yang sedang buyar konsentrasinya membeo saja. Saat ini seluruh pikirannya hanya tertuju pada Bisma seorang. Begitulah efeknya saat rasa cinta sedang menganyam rajut kasmarannya.
Bersambung.