
Sinful Angel Bab 145
Di ruangan khusus tempat menerima tamu di kantor Agra Prime, Radhika duduk menyilangkan kaki sembari mengetuk-ngetuk meja. Sudah tiga puluh menit dia menunggu di sana, tak menyerah pergi sebelum bertemu langsung dengan Bisma. Gigih menunggu demi mendapat ikan besar.
Jika biasanya Radhika mudah bosan saat menunggu lama, tidak demikian dengan kali ini. Waktu menunggu yang telah terlewati terasa begitu singkat lantaran sembari menunggu dia berchat mesra dengan Cyra yang sudah setuju membuat janji bertemu sore nanti, di sebuah hotel bintang lima yang sudah dibooking Radhika untuk menginap malam ini.
Radhika tidak berniat langsung pulang setelah urusannya di Bandung selesai, baik itu urusannya dengan Bisma maupun dengan Markus. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan pergi sendiri kali ini begitu saja, sudah berencana mencumbu Cyra semalaman dan merayunya lagi supaya mau menjadi wanita simpanannya.
Dia juga sudah menyiapkan berjuta alasan untuk Prita tentang dirinya yang menginap di Bandung dan baru akan kembali besok pagi, atau mungkin siang jika masih belum puas melahap si model yang membuatnya mabuk kepayang. Bersama Cyra di ranjang, dirinya lah yang dipuaskan, bukan dituntut memuaskan. Merasa dirinya dijadikan raja, bukan budak seperti yang dilakukan Prita padanya.
Pintu terbuka didorong seseorang dari luar. Radhika menegakkan punggung saat seseorang yang dinanti-nanti akhirnya muncul. Sosok orang yang pernah menjadi teman karibnya, telah banyak membantunya ketika kuliah dulu baik secara moril dan materiil yang malah dibalas olehnya dengan air tuba.
“Wah, ada tamu jauh rupanya?” kata Bisma begitu memasuki ruangan khusus menerima tamu.
“Lama tak jumpa, Bisma. Bagiamana kabar Anda, Pak Presdir?” Radhika menyapa tanpa malu dan sungkan saat bertatap muka dengan orang yang pernah ditusuknya dengan kejam dari belakang. Berdiri memberi salam hormat yang terbungkus seringai meremehkan.
“Seperti yang kamu lihat, kabarku baik. Bahkan sangat-sangat baik,” sahut Bisma dengan dagu terangkat, tersenyum tipis, tetap tenang. “Bagaimana denganmu? Kamu terlihat lebih tua dari umurmu? Apakah hidupmu sekarang sulit, kawan? Ah… hampir saja aku lupa, mantan kawan lebih tepatnya,” kata Bisma sarkas.
“Ahaha, ternyata seorang Bisma bisa angkuh juga. Bagus, pertahankan selagi masih ada kesempatan, karena sebentar lagi kamu harus bersiap-siap berpisah dengan keangkuhanmu itu!” ujar Radhika sangat percaya diri.
“Oh ya? Baiklah, sesuai saranmu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Silakan duduk kembali Pak Radhika. Kurang etis rasanya berbincang sambil berdiri begini. Attitude seseorang mencerminkan kualitas dirinya bukan?” sindirnya dengan senyum sinis pada Radhika.
“Ngomong-ngomong tentang attitude, setidaknya suguhkan kopi mahal atau teh berkualitasmu pada tamu, bukan cuma air putih,” sergah Radhika tak mau kalah. Menunjuk meja di depannya di mana hanya tersaji sebotol air mineral.
“Suguhan minum spesial hanya untuk para tamu penting Agra Prime dan sayangnya kamu tidak termasuk, Radhika. Jadi, ada perlu apa repot-repot datang ke kantorku tanpa diundang? Aku cuma punya waktu luang sepuluh menit saja,” tukas Bisma cepat sembari melirik arloji Cartier yang melingkar di pergelangan tangan.
Dia tak sudi membuang-buang waktu berbincang dengan si benalu ini. Meski sebelum memutuskan menemui mantan sahabatnya ini Bisma sudah dapat membaca maksud kedatangan Radhika dan ingin tahu apakah tebakannya benar.
“Informasi penting seperti apa yang kamu maksud? Memangnya ada apa dengan istriku dan dari mana sumbernya?” sambar Bisma santai. Tebakannya sepertinya memang benar.
Radhika agak jengkel dengan reaksi Bisma yang malah tetap tenang, tak merasa terganggu maupun terkejut.
“Tapi sebelumnya, aku harap jantungmu sehat. Aku hanya tidak ingin kamu mati terlalu cepat sebelum melihat kehancuranmu untuk yang kedua kali.”
Bisma tertawa kecil. “Terima kasih atas perhatiannya. Tapi sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri sebelum kamu mengkhawatirkanku, Radhika. Kudengar dari kabar burung yang beredar, perusahaan yang Prita dan kamu curi dariku sedang goyah, aku turut prihatin. Juga, sebelum mengurusi istriku, urusi istrimu dengan baik, jangan biarkan dia mengejar-ngejar mantan suaminya!” balas Bisma telak, membuat raut sombong Radhika berubah kecut. Tersinggung dan kesal, bukannya malu.
“Informasi yang kudapat jelas valid dan terpercaya. Aku mendapatnya dari presdir salah satu mitra Agra Prime juga. Kamu pasti kenal Pak Markus bukan? Apakah dia pernah mengatakan sesuatu padamu tentang istrimu?” Radhika sengaja memancing ingin membuat Bisma penasaran.
“Kami hanya membicarakan tentang masalah bisnis, tidak pernah membahas tentang istri masing-masing karena bagiku kehidupan pribadi adalah privasi. Atau mungkin kamu yang begitu dengan Pak Markus? Bukannya kamu ini punya jiwa penasaran dengan istri orang?” Bisma lagi-lagi membalas telak, membuat Radhika geram.
Radhika mendengus kesal dan dengan cepat mengontrol dirinya, jangan sampai kalah debat. “Jangan besar kepala dulu. Aku yakin setelah kamu mendengar informasi yang kubawa, kamu pasti tidak ingin menampakkan mukamu pada khalayak umum andai informasi ini tersebar di luaran,” kekehnya puas.
“Bicaramu terlalu banyak berputar-putar. Langsung saja pada intinya, waktu yang tersisa untukmu tinggal tiga menit lagi. Setiap menitku sangat berharga dan aku tidak berniat membuang waktuku hanya untuk berurusan dengan benalu sepertimu,” tegas Bisma menunjukkan kekuasaannya kali ini, sangat bukan Bisma sekali, tetapi Radhika ini spesies sombong yang pantas dibalas dengan kesombongan.
“Baiklah. Siapkan telinga dan hatimu, Sobat. Perlu kamu tahu istrimu adalah mantan pelac*r! Kamu tahu kan apa artinya? Tak kusangka kamu tertarik pada wanita semacam itu. Bayangkan kalau sampai berita ini kusebarkan keluar, pasti akan sangat menggemparkan bukan? Seorang Bisma Putra Prasetyo yang terhormat memperistri mantan jal*ng apa kata dunia? Juga, kasihan sekali keluarga besarmu yang pasti ikut tercoreng nama baiknya akibat kamu salah mencari istri!"
Radhika mengucapkan kata demi kata dengan lugas terbungkus nada mengolok-olok yang kental terasa, sedangkan Bisma yang sudah mengantisipasi maksud kedatangan Radhika meruncing pada hal ini memilih tak menukas. Hanya memasang wajah datar, membiarkan Radhika mengoceh semaunya.
“Tapi jangan khawatir, Bisma,” ucap Radhika menyambung kalimat. “Aku punya solusi agar mulutku diam. Yaitu dengan cara kamu menyerahkan semua bahan baku teh milikmu padaku mulai hari ini, menjualnya padaku dengan harga yang kutentukan. Ya, itung-itung buat mengganti biaya membeli pupuk dan upah pemetik teh. Sebaiknya kamu setuju dan kupastikan informasi ini akan tetap tersimpan rapi.”
Bersambung.