
Sinful Angel Bab 117
Kegaduhan dan kepanikan bersatu padu menjadi satu di dalam ruangan VVIP di mana Viona dirawat inap. Arkana yang baru saja menginjakkan kaki di sana, sigap menekan tombol nurse call guna memberitahu perawat bahwa di kamar ini tengah terjadi hal darurat.
Sementara Nara tengah terisak-isak diselimuti kepanikan. Menyaksikan Viona mendadak lemas seolah tak berdaya sedangkan Bisma kini benar-benar ambruk di lantai. Dihantam kesedihan tak terperi, Bisma akhirnya tumbang nyaris tak sadarkan diri.
“Mas, gimana ini. Gimana dengan Bunda, gimana dengan adikku,” isak Nara dirundung kekalutan. Sangat takut bunda dan adiknya terkena serangan jantung.
Arkana meremas bahu Nara lembut. Menyalurkan kekuatan di sana.
“Tenangkan diri. Panik boleh, tapi pikiran harus tetap fokus. Saat ini Bunda dan Bisma sangat membutuhkan kita.”
Tak berselang lama, beberapa orang perawat bersama dokter datang berhamburan. Bukan hanya untuk memeriksa kondisi Viona, tetapi juga Bisma yang ambruk segera ditangani, dipindahkan ke ruangan lain.
Teh Erna dan Mang Eko juga datang ke rumah sakit setelah Arkana menghubungi nomor rumah Bisma. Membawakan beberapa keperluan Bisma. Mengingat yang dirawat inap sekarang bukan hanya ibu mertuanya, ditambah adik iparnya juga yang disarankan dokter untuk diopname.
Arkana dan Nara berbagi tugas. Nara berjaga di kamar Viona bersama Teh Erna. Di kamar di mana Bisma dirawat Arkana lah yang mendampingi. Sedangkan Mang Eko diminta kembali pulang untuk menjaga rumah.
Bisma yang sejak tadi terus meracau terlihat lebih tenang setelah dokter memberikan obat. Rebah terlentang dengan mata memejam rapat. Pakaian basahnya pun sudah ditanggalkan, digantikan baju rumah sakit yang kering dan bersih.
Sedari selesai salat Isya, Arkana duduk di dekat sisi kanan ranjang. Dzikir ditasbihkan, disusul membacakan ayat-ayat suci sembari sesekali menyentuh dahi adik iparnya. Mengecek suhunya yang masih demam. Memanjatkan do’a terbaik untuk seluruh keluarga. Terutama untuk kesembuhan Viona, Bisma juga keselamatan adik ipar dan janinnya.
Nara masuk ke dalam kamar perawatan Bisma. Duduk bersebelahan dengan suaminya.
“Gimana kondisi Bisma sekarang, Mas?” tanya Nara sembari memindai sang adik prihatin. Ikut sedih dengan kondisi Bisma yang jelas terpukul jiwanya, juga khawatir dengan bundanya yang kembali syok lebih parah dari sebelumnya.
“Masih demam dan termasuk tinggi, beberapa menit lalu perawat mengecek lagi suhu tubuhnya. Tapi walaupun demamnya belum turun, Bisma terlihat lebih tenang, Mungkin obat yang diberikan mulai bekerja,” jawab Arkana sembari menoleh pada sang istri. “Bunda sendiri gimana sekarang?” Arkana balik bertanya.
“Tensi darah Bunda mendadak melonjak tinggi. Beruntung langsung ditangani. Jadinya bisa teratasi dengan baik. Sekarang lagi tidur, abis dipijitin kaki sama Teh Erna,” jelas Nara yang kemudian menarik napas panjang. “Kenapa jadi begini ya, Mas?” cicitnya terdengar berat.
“Begini bagaimana?” Arkana merangkul pundak Nara, menatap wajah sendu istrinya lekat.
Nara balas menatap sang suami. “Tentang Bunda, Bisma dan Tya. Aku enggak menyangka masalahnya bakal sepelik ini. Aku enggak tahu apa yang Bunda dan Tya bicarakan sampai selesai, karena sewaktu aku kembali ke kamar perawatan, Tya sudah enggak. Kata bunda sudah pulang. Tapi dari racauan Bisma tadi, aku menyimpulkan Bunda meminta Tya pergi dari kehidupan Bisma,” tutur Nara mengemukakan pendapat.
Nara menangkup wajahnya sesaat dan mengangguk setuju. “Ya, aku juga khawatir pada Tya. Sedang hamil muda tapi malah berpisah jauh dari suami. Itu adalah hal yang sulit, pasti Tya sedang bersedih sekarang.”
“Selain karena hal itu dan demi keselamatan Tya serta bayinya, membawa Tya kembali pulang secepatnya juga demi menyelamatkan psikis Bisma yang sungguh memprihatinkan. Mungkin benar bunda berkata seperti itu pada Tya, tapi aku sangat yakin bunda tak sungguh-sungguh bermaksud demikian,” hibur Arkana dengan nada menyejukkan hati, tetap berpikir positif.
“Aku pun berharap begitu, semoga bunda enggak sungguh-sungguh ingin memisahkan adikku dari sosok wanita yang membuat Bisma kembali hidup dalam artian sebenarnya. Meski bunda sulit menerima masa lalu Tya, tapi bukan berarti enggak bisa walaupun mungkin butuh waktu yang tidak singkat,” ucap Nara bersama do’a dipanjatkan dari lubuk hati. Tak lelah tanpa henti.
Arkana mengelus kepala Nara. Paham posisi Nara sebagai anak sulung yang pasti memiliki beban berat juga di pundaknya di situasi pelik yang menimpa keluarganya.
“Semenjak ayah berpulang, bunda memikul dua peran, menjadi ibu dan ayah dalam satu kesatuan. Itulah mengapa bunda menjadi lebih keras terhadap dirinya sendiri dari sebelumnya. Aku bukan hendak membela ibu mertuaku dan membenarkan sikapnya sepenuhnya, tapi bunda masih terjebak fase keterkejutan dan sulit menerima sehingga berimbas pada keputusan impulsif yang fatal. Terbutakan rasa takut akan pandangan miring orang-orang terhadap anaknya yang sebetulnya berangkat dari rasa sayang yang begitu besar pada Bisma. Semoga kita semua diberi petunjuk titik terang.” Arkana memang selalu berusaha menjadi penengah dalam situasi genting sekalipun, tak pernah mengaduk air keruh.
“Lalu, bagaimana dengan resepsi yang seharusnya digelar beberapa hari ke depan? Persiapannya sudah 80 persen,” keluh Nara yang bertambah beban pikirannya. Memijat pangkal hidungnya yang berdenyut sakit.
Terdiam sejenak, Arkana baru teringat perihal resepsi Bisma dan Tya yang tinggal menghitung hari. Jika tetap dilangsungkan rasanya tidak mungkin. Kendatipun semisal pencarian Tya membuahkan hasil dalam waktu dekat, rasanya kurang tepat menyelenggarakan pesta sementara carut marut kisruh dalam keluarga ini masih semrawut.
“Tidak ada solusi lain selain dibatalkan atau diundur. Kita bisa menggunakan kabar rawat inap bunda sebagai alasan dibatalkan atau ditundanya pesta. Tapi tentang perginya Tya dari rumah sebisa mungkin jangan sampai berembus keluar, khawatir malah jadi bola liar. Demi menjaga keluarga besar kita dari spekulasi yang tidak-tidak di luar sana. Tak ada solusi lain yang lebih baik dari ini. Dan sebaiknya kita bergerak cepat mengirim pemberitahuan pada semua orang yang telah dikirimi surat undangan,” jelas Arkana setelah memutar otak mencari jalan keluar.
“Aku rasa memang hanya ini solusinya. Mau enggak mau harus dibatalkan.”
*****
Di rumah Farhana, entah sudah berapa kali Tya muntah-muntah. Bolak-balik ke kamar mandi. Tya belum sempat bercerita secara terperinci pada Farhana, lantaran sejak sampai di rumah Farhana sore tadi Tya terus menangis.
Farhana tidak ingin mencecar dan memaksa supaya Tya bicara di saat kondisi Tya tampak terguncang. Memilih membawa Tya ke kamar tamu dan memintanya beristirahat di sana.
Tya meringkuk lemas setelah mengeluarkan seluruh isi lambungnya. Dalam posisi menekuk mirip posisi bayi dalam kandungan ibunya, sembari memeluk dan menghirup baju Bisma dalam-dalam. Satu-satunya obat mujarab yang mampu mengurangi mual muntahnya.
“Mas, aku kangen,” lirihnya perih penuh rindu bersama air mata membasahi bantal.
Bersambung.