
Sinful Angel Bab 156
Berita miring tentang Tya yang disebarkan Prita sudah bergulir seminggu lamanya. Dengan Jumawa Bahkan Prita melakukan wawancara. Ambisi dan amarahnya membuatnya tak sadar sedang menggali kuburannya sendiri.
Bisma dan Viona bergerak cepat tanpa menimbulkan kegaduhan. Mereka tidak langsung meredam huru-hara yang diledakkan Prita, melainkan mengatur strategi melalui hal tersebut untuk dipakai menepis, melalui umpan yang dilemparkan Prita justru mereka akan menjadikannya senjata.
Bisma juga sudah menghubungi Markus yang baru pindah ke Batam sekitar dua minggu lalu. Bisma memprediksi bahwa Prita nantinya akan menyebut nama Markus dan menyuruh suami Resya itu menyiapkan statement antisipasi seperti yang sudah mereka sepakati.
Saat ini Bisma sedang berada di kantor Raksa Gantari, kantor Advokat milik Yudhistira Lazuardi yang ditunjuk Bisma sebagai pengacara yang menangani urusan keluarganya, sedangkan untuk urusan perusahaan Bisma sudah memiliki tim kuasa hukum sendiri.
Hampir tengah malam Bisma baru sampai di kediaman Viona. Dia baru selesai berdiskusi mempersiapkan berkas somasi bersama Yudhis dan tim. Berkas yang berisi tuntutan pencemaran nama baik yang akan dilayangkan langsung pada Prita, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk dikirimkan.
Bisma dan Tya masih tinggal di rumah Viona. Bundanya itu menyarankan untuk sementara tetap tinggal di kediamannya dulu sampai situasi di luar sana benar-benar aman. Tya yang ternyata belum tidur menghambur menyambut begitu sosok sang suami tertangkap mata. Mencium punggung tangan Bisma penuh hormat, lantas memeluk mencurahkan rindu.
Tya menarik lengan Bisma ke ruang makan. Meminta suaminya duduk dan ia dengan cepat mengambil termos kecil berwarna silver di meja makan. Menuang isinya ke dalam cangkir antik, menyajikan minuman segar secangkir wedang hangat pengusir penat.
“Diminum dulu wedangnya. Ini kubuat tadi sore, sekalian buat Bunda dan Ustadzah Farhana. Mas pasti capek banget kan?” Tya menaruh cangkir berisi wedang rempah uap panasnya masih terlihat jelas itu ke atas meja. Menguarkan aroma harum yang ampuh merelaksasi saraf juga otot.
“Mmmh, wanginya. Makasih, Sayang.” Bisma meneguknya perlahan penuh sukacita, sementara Tya memosisikan diri berdiri di belakang Bisma. Mendaratkan kedua tangannya di bahu Bisma, memijat bahu kaku sang suami perlahan-lahan.
“Duduk saja, Sayang. Nanti kamu capek,” pinta Bisma penuh perhatian. Bermaksud menghela Tya yang sedang berdiri di belakangnya.
Tya menolak lembut. “Aku sama sekali enggak capek kok Mas. Justru Mas lah yang pasti sangat lelah sekarang. Jadi, biarkan aku memijat Mas sebentar saja.” ujar Tya setulus hati.
Riak-riak bahagia membias di bola mata Bisma, lantas dia mengerjap saat melihat jam di dinding, baru menyadari waktu sudah sangat larut.
“Kenapa masih belum tidur? Ini sudah jam sebelas malam.” Bisma menunjukkan Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya pada Tya. “Jangan memaksakan diri menungguku pulang, kamu dan bayi kita harus cukup istirahat, kurang baik ibu hamil malah begadang begini,” sambungnya khawatir.
“Tadi siang pas selesai belajar tahsin sama Ustadzah Farhana, aku ketiduran sampai menjelang Asar. Hampir dua jam aku tidur nyenyak, jadinya malamnya malah segar bugar, enggak ngantuk,” jelas Tya sembari tersenyum hangat, berupaya menepis kecemasan yang terpampang jelas. “Oh iya, gimana diskusi Mas sama Pak Yudhis, lancar?”
Tya memang diberitahu tentang segala rencana Bisma dan Viona dalam mengatasi berita yang meletus tepat satu hari setelah acara resepsi. Bisma berniat mengolahnya menjadi bumerang bagi si penyebar kisah masa lalu sang istri.
Saat berita ini meletus, Tya sempat menyatakan tak mau memusingkannya lagi. Memutuskan untuk menghadapinya daripada menghindar sembari fokus memperbaiki diri dan menata masa depan. Menganggap aibnya yang disebar sengaja oleh Prita ini sebagai bagian dari ujian hijrahnya. Namun, tentu saja Bisma dan Viona tidak akan hanya berpangku tangan. Mereka langsung mengatur cara ciamik untuk menumbangkan si rubah licik.
“Alhamdulillah, semuanya dilancarkan dan dimudahkan.” Bisma mengusap sayang pipi Tya, menatapnya lekat. “Kamu beneran baik-baik saja? Aku selalu khawatir kemungkinan kamu stress karena di masa kehamilanmu mengandung anak kita begitu banyak ujian yang menderamu,” desahnya berat menghela napas dalam-dalam.
Tya menangkup tangan Bisma yang masih mengelus pipinya, meremasnya lembut.
“Aku beneran baik-baik saja, Mas. Aku sama sekali enggak merasa stress sekarang yang penting di sisiku selalu ada Mas, Bunda dan keluarga besar yang menyayangiku juga bayiku. Enggak seperti sewaktu aku memutuskan lari darimu,” tutur Tya yang membalas sorot resah Bisma dengan tatapan menenangkan.
“Aku dan keluargaku akan selalu ada bersamamu, Sayang. Jangan pernah risau akan hal itu.” Bisma mengecup kening Tya dengan mata memejam, penuh perasaan mendalam.
Obrolan mereka terinterupsi Viona yang keluar dari kamarnya dengan gawai menempel di telinga. Bundanya itu terlihat sedang berbicara serius dan saat melihat keberadaan anak dan menantunya Viona menghampiri dan ikut bergabung di ruang makan.
“Ada hal apa, Bunda? Kelihatannya serius banget.” Bisma bertanya setelah bundanya mematikan gawai.
“Ini lebih dari serius. Ini tentang tiga perkebunan terbesar sinar Abadi,” tukas Viona antusias. Sorot matanya berbinar.
“Memangnya ada apa dengan perkebunan yang dulu juga ikut dicuri Prita dari kita itu, Bun?” Bisma yang semula santai ikut serius.
“Bunda memang belum sempat berdiskusi denganmu tentang hal ini karena semuanya serba dadakan. Yang jelas semua perkebunan itu sekarang sudah menjadi milk kita lagi. Bunda membelinya dengan harga yang sangat murah menggunakan nama anonim supaya tidak ada tahu siapa nama asli pembeli. Sepertinya saat ini mantan sahabatmu sedang butuh dana besar sehingga menjual aset krusial.”
Bersambung.