
Sinful Angel Bab 83
Postur tegap Bisma mengungkung Tya intim di bawahnya, mendesakkan pagutan lembut dan mesra, bukan tergesa-gesa seperti sewaktu di Bali. Tya merasa dihargai, dilambungkan ada hati.
Memasrahkan diri seutuhnya untuk dicumbu mesra itulah yang Tya lakukan. Bukan hanya sebagai kepatuhan istri kepada suami, tetapi juga sebagai refleksi membebaskan getar hati yang telah terikat ikrar halal nan suci. Rasanya berbeda, tidak ada ketakutan di dalamnya satu raga saling memeluk dan kulit saling merapat.
Selimut yang tadi membungkus tubuh Bisma tersisih ke pinggir ranjang. Bisma tak membutuhkan kain tebal itu lagi, karena raga lembut yang tengah dibelainya jauh lebih hangat dibandingkan selimut.
Tya melenguh rendah saat kecupan Bisma menuruni sisi rahangnya kemudian berlabuh di ceruk lehernya. Menggigit bibir mengulum rintihan femininnya kala telapak tangan Bisma menyusup, menyingkap sweater yang dipakainya.
Hawa dingin puncak yang menyebabkan Bisma menggigil, kini seakan sirna. Berganti atmosfer yang berangsur-angsur panas, seiring kedua insan yang menyentuh semakin dalam.
Tepat saat Bisma hendak meloloskan handuk yang melilit di pinggang, bertepatan dengan adzan Asar berkumandang. Bisma membeku, menghentikan gerakannya di pangkal simpul handuk. Disusul ketukan di pintu kamar ketika adzan selesai menggema.
“Bu Tya, Bu. Gimana keadaan Pak Bismanya? Apakah perlu ke rumah sakit?”
Keduanya mengerjap saling tatap saat terdengar suara Poppy memanggil nama mereka. Untuk sejenak Bisma mengerutkan kening sembari menoleh ke arah pintu setelah mendengar kata 'rumah sakit', kemudian tak lama terkekeh dan menatap Tya kembali. Mengecup gemas pipi mulus Tya.
Bisma membetulkan baju Tya juga si kain berenda yang tersingkap berantakan ke atas akibat ulah tangannya. Menurunkannya kembali, menutup keranuman membusung yang beberapa saat tadi dicicipinya, menyerap kehangatan di sana. Dia juga merapikan rambut Tya yang acak-acakan, jejak dari remasan tangannya yang tersulut hasrat.
Tya meninju kesal sisi dada Bisma. “Siapa suruh kirim chat kayak gitu. Bikin orang panik!” protes Tya merajuk. Wajahnya merona cantik meski cemberut.
“Aku cuma beneran tes ombak. Ingin tahu reaksimu kayak gimana. Jujur saja semalam aku kesepian dan susah tidur. Jadinya terbersit pingit modusin kamu,” ujar Bisma dengan senyuman lebar tanpa dosa.
“Sekarang apa yang harus kukatakan sama Poppy? Ternyata bosnya yang kucemaskan setengah mati cuma pingin melakukan uji coba tes ombak. Enggak sadar modusnya bikin efek kayak gelombang tsunami!” kesal Tya sebal, bibir merahnya mengerucut lucu.
Bisma tergelak renyah. Membantu Tya bangun dari baringannya. Ketukan di pintu terdengar untuk yang kedua kalinya dan keduanya lagi-lagi menoleh bersamaan.
“Tunggu sebentar!” seru Bisma lantang.
“Biar aku yang buka pintu dan bicara sama Poppy.” Bisma turun dari ranjang. Mengambil boxer, celana trening dan kaos polo dari lemari. “Karena waktu Asar sudah tiba. Kamu mandilah dan berwudhu. Solat di sini saja. Aku solat di ruangan lain, sekalian mau wudhu lagi.”
Tanpa banyak bicara lagi, Tya terbirit-birit ke kamar mandi. Sedangkan Bisma dengan cepat memakai baju, kendati saat memakai underwear dia agak kesusahan, sebab sesuatu yang bangkit tak disengaja kini menyiksanya dengan rasa pegal juga nyeri.
“Hei, dasar baperan! Mentang-mentang lama berhibernasi. Sekalinya bangun susah tidur lagi!” umpatnya mengatai dirinya sendiri.
Bersambung.