Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 54



Sinful Angel Bab 54


Pada salah satu kamar presiden suit di hotel di mana seminar bisnis akan digelar nanti malam, lantainya dipenuhi pakaian berserakan berceceran. Sementara di atas ranjang besar yang tengah berdecit, seorang wanita berkulit putih tampak sedang sibuk meliukkan tubuhnya di atas raga atletis sesosok pria. Si wanita bergerak rakus, sedangkan si pria di bawahnya tampak mulai kelojotan, mulai kepayahan.


“Ta, aku sudah enggak kuat menahannya.” Si pria yang terengah kepayahan itu adalah Radhika, kedua tangannya mencengkeram pinggang wanita di atasnya yang tidak lain adalah Prita.


“Jangan dulu lah Mas! Aku kan belum sampai!” protes Prita kesal, bergerak lebih liar yang justru adalah sebuah kekeliruan, membuat Radhika yang sudah kelojotan lebih dulu meraih puncak di saat dirinya masih sibuk memacu, baru setengah jalan.


Menghentak bangun disertai ekspresi merah padam terbakar emosi, Prita turun dengan kasar dari tubuh suaminya dan menyambar sembarang jubah tidur yang terlipat di meja kayu sisi ranjang. Bersungut luar biasa kesal sebab kebutuhan tuntutan ragawinya kini sering tak terpuaskan dan hal ini sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Prita menggebu-gebu dengan hormon kehamilannya, sementara Radhika malah mulai menurun vitalitasnya entah karena apa.


“Mas kenapa jadi payah begini sih! Makanya kurangi merokok dan berhenti minum alkohol biar greng lagi kayak dulu. Padahal dulu Mas Dhika enggak pernah minum kan? Sudah sebulan ini Mas membuatku menggantung disetiap pertempuran. Aku ini bukan cuma butuh uang!” teriaknya marah.


Prita memijat kepalanya yang berdenyut pening imbas dari pelepasan yang gagal diraih. Radhika meraih selimut, menutupkannya ke tubuh uriannya. Membuang napas lelah.


“Ta, tadi kan sudah kubilang aku masih capek karena baru saja sampai, tapi kamu sendiri yang memaksa. Bukankah minggu lalu kamu tetap terpuaskan dengan baik setelah aku istirahat dulu dengan benar? Suamimu ini banyak begadang demi perusahaan yang sangat kamu puja puji itu dan alkohol plus rokok membantuku tetap terjaga. Cobalah mengerti, Ta. Bukan hanya melulu ingin dimengerti.” Radhika tidak ikut menaikkan nada bicaranya. Dia sungguh lelah saat ini dan tak memiliki energi untuk berdebat dengan Prita yang selalu superior dan keras kepala.


“Tapi Mas juga harus memahami kebutuhanku yang lainnya! Perusahaan memang penting, tapi ranjang yang panas bagiku juga tak kalah penting!” sergah Prita kukuh, suaranya meninggi.


“Oke, aku paham. Sorry. Sini, Sayang, kuberi dengan cara lain,” ucapnya lembut, mengulurkan tangan pada Prita yang berdiri di sisi ranjang.


Prita mendelik tajam. “Maksudnya cara lain seperti beberapa waktu ke belakang saat Mas juga mendadak payah di atas ranjang?” imbuhnya sengit.


Disebut payah oleh istri sendiri jujur saja membuat Radhika tersinggung. Akan tetapi ini bukan saatnya memanjakan kemarahannya, memberi belaian intim untuk wanita yang dicintainya dalam hati sejak masih menjadi istri sahabatnya itu jauh lebih penting agar amarah sang istri mereda.


“Yang penting sama-sama meraih kepuasan bukan? Kemarilah, Sayangku.” Radhika benar-benar tulus menawarkan. Namun, hal itu justru membuat Prita meradang.


Rahang Radhika mengetat seketika. Dikatai payah oleh Prita dia masih bisa mengukung emosinya. Akan tetapi, saat dibandingkan dalam hal keperkasaan jantan seorang pria, kemurkaannya terpantik melesat ke ubun-ubun.


Melempar selimut, Radhika menyambar boxernya yang tergeletak di lantai. Tanpa kata dan senyuman, dia berlalu keluar dari kamar meninggalkan Prita yang masih berapi-api, menuju pintu yang tersambung ke kolam renang pribadi. Tanpa basa-basi, Radhika menceburkan dirinya ke dalam kolam daripada terus berdebat dengan Prita. Takut amarahnya menggelapkan mata dan membuatnya bertindak di luar nalar pada wanita yang masih menyambung ocehan kesalnya di dalam kamar karena merasa diabaikan.


Bisma dan Tya memijakkan kaki di lobi hotel bintang lima nan mewah sekitar pukul tiga sore. Mereka menginap di hotel ini, hotel yang akan menjadi tempat digelarnya seminar bisnis yang akan dihadirinya.


Sejak turun dari pesawat di Bandara, Bisma menggandeng Tya selayaknya pasangan suami istri pengantin baru pada umumnya. Terlebih lagi saat memasuki area hotel, dia mengeratkan rangkulan di pinggang Tya, tak membiarkan kewaspadaannya mengendur, berjaga-jaga kemungkinan mata-mata Prita mengawasi tindak tanduk mereka.


Kedatangan mereka disambut hangat pihak hotel sebagimana SOP yang berlaku di hotel tersebut. Petugas hotel pun menawarkan membawkan koper mereka ke kamar yang sudah dibooking sebelumnya.


“Mau ngopi atau ngeteh dulu di kafe hotel ini, atau mau langsung ke kamar saja? Kamu kelihatan sakit kepala,” kata Bisma pada Tya.


Tebakan Bisma memang benar adanya. Tya memang dilanda sakit kepala karena belum terbiasa naik pesawat. Bahkan Tya baru tahu bahwa suhu di dalam pesawat sangat dingin, berbanding terbalik ketika ia turun di Bandara saat mendapati cuaca Bali yang sedang cerah ternyata lebih terik dibanding Jakarta yang terbilang panas baginya. Menghasilkan sakit kepala dan mata pedih dalam sekejap.


“Kayaknya aku memang butuh teh,” jawab Tya sejujurnya.


Bisma membiarkan petugas hotel membawakan koper mereka. Menggandeng Tya menuju kafe yang didesain ideal untuk bersantai merelaksasi kepenatan, masih berlokasi menyatu di area hotel. Bisma memesan teh, kopi dan beberapa jenis pastry. Duduk bersebelahan dengan Tya pada kursi panjang empuk yang di depannya terdapata kaca besar tembus pandang, menyajikan pemandangan hamparan bibir pantai nan elok sejauh mata memandang.


Tya memerhatikan sekitar, mengagumi desain interior kafe yang terasa sangat Bali sekali. Hanya saja kedua matanya serta merta membola saat menangkap sosok berbaju hijau tua bermodel tali spaghetti memasuki kafe seorang diri. Sosok yang membuatnya menjadi partner simbiosis dengan pria yang tengah mengotak-atik ponsel di sebelahnya.


“Mas, itu mantan istrimu kan?” bisik Tya ke telinga Bisma, waspada penuh antisipasi.


Bersambung.