Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 157



Sinful Angel Bab 157


Tercengang. Itulah ekspresi Bisma sekarang setelah mendengar keterangan tak terduga yang meluncur dari mulut Viona.


“Ini, ini gimana ceritanya bisa sampai dibeli sama Bunda?” tanya Bisma dengan nada penasaran yang sangat kental.


“Sebenarnya ini sudah terlalu larut untuk bercerita dan Bunda memang ingin bicara banyak padamu tentang hal yang satu ini. Tapi kalau kamu capek, besok saja Bunda ceritanya. Ini sudah hampir tengah malam dan Tya juga harus tidur.” Viona mengusulkan pendapat walaupun sudah tidak sabar ingin bercerita. Tetap memikirkan kesehatan putra bungsunya terlebih lagi menantunya yang tengah mengandung.


“Besok aku libur ke kantor. Kita ngobrol sekarang saja, Bun,” sahut Bisma cepat, tak ingin menunda lagi. Lantas dia beralih pada Tya. “Sebaiknya kamu naik duluan dan beristirahat, Sayang. Aku mungkin bakal ngobrol lama sama Bunda dan sudah pasti menyita waktu,” kata Bisma kemudian. Bukan bermaksud mengusir, tetapi memang mencemaskan kondisi Tya dari lubuk hati.


Sebetulnya Tya enggan ke kamar lebih dulu. Inginnya rebah di peraduan sembari dipeluk raga atletis sang suami yang selalu membuatnya candu. Akan tetapi, ia juga tidak ingin menambah beban Bisma dengan menambah poin kekhawatiran suaminya, memilih mengangguk patuh.


“Iya, Mas. Kalau gitu aku ke kamar sekarang. Bunda, aku naik dulu,” ucap Tya yang tak lupa berpamitan pada mertuanya.


“Istirahatlah, Nak. Bunda pinjam suamimu sebentar, janji tidak akan lama,” jawab Viona sembari tersenyum simpul.


Viona dengan mudah dapat membaca riak wajah Tya yang ingin tidur ditemani Bisma meskipun menantunya itu tidak bicara secara gamblang, membuat wajah Tya merona malu, merasa tertangkap basah.


“Selamat tidur,” ucap Bisma sembari mengelus kepala Tya yang sedang kikuk itu.


“I-iya, Mas.”


Setelah Tya naik ke lantai dua. Viona dan Bisma bertukar kata di ruang kerja bundanya itu. Viona bercerita bahwa seminggu lalu mandor kebun yang dulunya dipercaya mengurusi tiga perkebunan Sinar Abadi mendadak menghubunginya dan mengatakan bahwa ada informasi tiga perkebunan Sinar Abadi bermaksud dijual cepat.


Orang tersebut memang sudah tidak bekerja di perkebunan karena Prita dan Radhika mendepaknya saat berhasil menguasai perusahaan dan perkebunan peninggalan almarhum Bima. Menyingkirkan orang-orang lama Sinar Abadi dan merombak seluruh tatanan perusahaan.


Kebetulan, yang ditunjuk untuk menggantikan masihlah rekan dekat si mantan mandor. Oleh karena itu info-info tentang perkebunan teh Sinar Abadi masih sering sampai ke telinganya. Ditambah lagi orang yang menggantikan belum terlalu paham seluk beluk perkebunan, sehingga si mantan mandor masih sering diminta bimbingan oleh penggantinya tanpa sepengetahuan si bos benalu.


Viona yang mendengar kabar mengejutkan itu tak membuang kesempatan. Meminta bertemu dengan si mantan mandor secara langsung. Mengatur strategi untuk membeli perkebunan tersebut menggunakan nama si mantan mandor.


Viona mengajukan penawaran harga separuhnya saja dari yang dibanderol untuk semua perkebunan dan tak disangka Radhika sebagai pihak yang menjual langsung menyetujuinya tepat hari kemarin, sepertinya Radhika sedang dalam kondisi yang amat sangat darurat dan membutuhkan uang cepat. Kebanyakan penawar inginnya membeli satu atau dua lahan saja, baru Viona lah yang bersedia membeli ketiganya sekaligus melalui perantara si mantan mandor membuat Radhika tak berpikir panjang, belum lagi situasi keuangan si mantan sahabat Bisma itu memang terdesak.


“Jadi begitulah, Bisma. Dan barusan mantan mandor kebun melaporkan bahwa tiga sertifikat perkebunan sudah aman di tangannya. Besok dia akan ke sini untuk mengantarkannya,” tutur Viona menjelaskan. Kelegaan tercetak jelas di wajah ayunya yang tak lagi muda.


“Maaf, Bunda baru bercerita sekarang, karena Bunda tidak ingin membuat konsentrasimu berkoordinasi dengan para pengacaramu buyar. Anggap saja kita berbagi tugas.”


“Sebenarnya apa yang mereka pikirkan? Menjual perkebunan sama saja dengan bunuh diri, gimana bisa memenuhi bahan baku pabrik kalau tiga kebun utama itu malah dijual?” tukas Bisma, geleng-geleng kepala tak habis pikir.


Desah napas lega mengiringi anggukan Bisma. Sungguh dia sangat bersyukur saat ini, tak pernah menyangka lahan peninggalan almarhum ayahnya itu kini kembali ke tempat yang seharusnya.


Suasana pagi Prita dibuat kesal, lagi-lagi ponsel suaminya sulit dihubungi padahal saat ini perutnya mendadak tak nyaman dan dia butuh kehadiran Radhika di menjelang waktu HPL. Sudah satu minggu berlalu, tetapi Radhika masih belum kembali ke Jakarta padahal situasinya setelah melempar bom ke ranah publik dan dengan nekat menyebarkan aib Tya banyak dilanda was-was.


“Kenapa ponselnya payah kayak senjatanya sih? Ponsel mahal-mahal tapi gak guna!” kesal Prita yang saat ini sedang dalam perjalanan ke kantor Sinar Abadi, setelah beberapa hari memercayakan semua pekerjaan pada sekretaris dan staf karena di sibuk wawancara ke sama kemari sedangkan Radhika masih belum kembali.


Selain itu, perkiraan waktu kelahiran anak mereka tinggal menghitung hari dan Prita sangat butuh ditemani sang suami mengingat keluarganya jauh dari ibukota. Ayah Prita yang tinggal di Magelang dan memang punya kesibukan yang padat di sana, sedangkan dan ibunya Radhika yang sudah renta tinggal di panti jompo di luar pulau Jawa, boro-boro bisa menemaninya di saat-saat seperti ini.


Saat Prita meminta suaminya segera pulang, Radhika dengan entengnya menyuruh agar Prita pergi ke rumah sakit ditemani sekretaris Sinar Abadi, mengatakan pada Prita bahwa dia tak bisa segera pulang karena ada pekerjaan tambahan yaitu harus memantau perkebunan supaya bisa dipanen di awal bulan.


Kenyataannya Radhika yang tengah tergila-gila dengan servis dan goyangan Cyra, tengah sibuk memanjakan jal*ngnya itu. Bahkan Radhika menjual perkebunan tanpa sepengatahuan Prita demi membangun asmara barunya dengan si wanita simpanan. Tak ingat lagi dengan buah hatinya dengan Prita yang sebentar lagi akan melihat dunia.


Kedua kaki Prita terayun memasuki lobi. bukannya pergi ke ruangan presdir di mana biasanya selalu menjadi tujuan utama, kali ini Prita melenggang menuju kubikel tim audit yang ditunjuknya memeriksa laporan rinci keuangan perusahaan.


“Mana hasilnya?” tagih Prita langsung saja. Ketus seperti biasa.


“Hasilnya sudah kami simpan di ruangan presdir sejak tiga hari yang lalu, Bu,” sahut salah satu dari tiga orang di kubikel tersebut, berdiri dari tempat duduknya.


“Kenapa tidak ada yang menghubungi saya langsung kalau audit sudah selesai!” bentak Prita yang pagi-pagi sudah darah tinggi.


“Maaf, Bu. Tapi kami sudah mencoba menghubungi langsung bahkan sekretaris Pak Dhika juga, tapi ibu sendiri yang mengatakan tidak bersedia menerima telepon dulu karena lagi sibuk wawancara.”


Prita berdecak sebal. Baru ingat dia memang benar berkata demikian, sibuk berurusan dengan pers.


“Tapi, Bu. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pada Anda. Bukannya bermaksud lancang, tapi apapun itu jika terkait dengan urusan krusial Sinar Abadi kami pun yang mendedikasikan diri di perusahaan ini ingin berpendapat.”


“Memangnya urusan krusial apa yang kamu maksud?” ketus Prita tak ramah.


“Ini mengenai perkebunan, Bu. Kami ingin tahu kenapa tiga kebun utama malah dijual? Dan dari mana kita akan mendapat bahan baku untuk pabrik?”


“Hah? Dijual?” Prita membeo masih tak paham. “Jangan bercanda!”


“Lho, kok Ibu malah kaget? Pak Radhika sendiri yang menjualnya tiga perkebunan utama dan sekarang kebunnya sudah terjual."


Bersambung.