
Sinful Angel Bab 131
“Ke- kenapa Mas ada di sini?” pekiknya luar biasa terkejut saat sosok yang amat dirindukan sekaligus dihindarinya mati-matian malah berada di hadapannya. "Ka-kamu benar Mas Bisma?"
Tya Menggelengkan kepala berulang kali, tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Menyangkal ruang pandang yang tersaji.
“Sayang, tenanglah. Jangan begini. Ini benar-benar aku, suamimu." Bisma yang khawatir dengan reaksi terkejut Tya, meremas bahu istrinya lembut. Menahan Tya supaya tetap berbaring di atas tempat tidur lantaran Tya yang masih belum pulih malah hendak memaksakan diri untuk bangun.
“Ke-kenapa aku jadi ada di sini?” imbuhnya masih kebingungan.
“Kamu mengalami Hiperemesis, Sayang. Makanya harus dirawat inap," sahut Bisma menjelaskan.
"Siapa... siapa yang bawa aku ke sini?" ujar Tya yang masih linglung.
"Tentu saja aku. Bunda dan banyak yang lainnya termasuk Ustadzah Farhana. Kemarin malam kamu hampir pingsan di tempat bidan bersama Ustadzah Farhana. Dan bidan menyarankan kamu agar secepatnya dilarikan ke rumah sakit," tutur Bisma sepelan mungkin mencoba menenangkan dan menjelaskan apa yang ingin diketahui Tya.
"Aku... aku enggak boleh ada di sini," ujarnya panik.
Tya menelan ludah kelat, mengedarkan pandangannya resah dan terksiap saat mendapati di punggung tangan kirinya tersambung selang infus. Tampak jelas di kala hari benderang bahwa kini dirinya sedang berada di rumah sakit dan diopname. Jika, begitu berarti keterangan Bisma benar adanya.
Lantas pikirannya kembali pada mimpi indahnya semalam. Jika saat ini Bisma berada nyata di hadapannya berarti semalam pun memang bukan hanya bunga tidur. Masih tak mau percaya dan berspekulasi bahwa saat ini pun hanya alam mimpi kendati memang terasa amat nyata, Tya mencubit pipinya sendiri untuk mencari validasi. Apakah ini alam mimpi atau sungguh nyata.
“Aw….” Tya merintih saat merasakan sakit ketika mencubit kencang pipinya sendiri dan radar di kepalanya langsung berseru bahwa kejadian semalam pun adalah kenyataan. Pantas saja keberadaan Bisma di sampingnya terasa begitu nyata karena ternyata memang bukan mimpi.
“Kamu ini apa-apaan? Kenapa malah menyakiti diri sendiri!” bentak Bisma cemas, menarik tangan Tya yang mencubit pipi dan refleks mencengkeramnya.
Secara impulsif nada bicara Bisma pun ikut meninggi. Bukan karena marah dan murka, melainkan berangkat dari kekhawatiran tumpang tindih yang sudah terlalu lama menumpuk dan terakumulasi. Memenuhi rongga dada juga, hatinya. Tak rela si pujaan hati kesakitan barang setitik pun.
Tya berjengit kaget. Perasaanya yang sensitif imbas dari kehamilannya terpancing oleh bentakkan yang berasal dari refleks Bisma. Dalam sekejap bola matanya mulai berkaca-kaca. Menggenang hingga sudut mata.
“Ma-maaf, Mas. Kenapa Mas bentak aku,” lirihnya terbata diiringi isakan. Dulu, Tya tak secengeng ini. Bahkan saat ini Tya kesal pada dirinya sendiri karena perasaanya jadi terlalu rapuh.
Sadar akan reaksinya yang membuat Tya terkejut tanpa sengaja. Bisma segera meraup dan memeluk Tya yang terisak penuh maaf. Mengecupi kepala Tya. Mengusap pipi basah sang istri penuh sayang. Merasa sangat bersalah karena baru saja kembali dipertemukan setelah sekian lama, dirinya malah membuat Tya menangis akibat terkejut.
“Maafkan aku. Maaf, Sayang. Aku enggak bermaksud membentak. Aku cuma enggak mau kamu kesakitan,” desah Bisma serak. “Maaf… maaf.”
Suasana yang masih belum kondusif di dalam ruang rawat semakin bertambah tegang bagi Tya. Pasalnya sekarang sosok Viona ikut muncul di sana, membuat Tya tersentak takut.
“Bu-Bunda?” cicitnya dengan bibir bergetar. Sekujur tubuhnya mendadak berkeringat dingin saat sosok ibu dari pria yang dicintainya hadir di sana.
Viona yang memang baru datang kembali mengulas senyum senang juga lega melihat Tya sudah terbangun, mendekat ke sisi ranjang di mana Tya berbaring. Sudah tak sabar ingin menyapa menantu serta cucunya dan bertanya kabar.
Berbanding terbalik dengan Viona yang terlihat tenang menguarkan kehangatan seorang ibu, Tya justru terlihat resah gelisah. Punggungnya pun ikut menegang.
“Bu-Bunda, maaf. Sa- saya… saya sungguh tidak bermaksud muncul lagi di hadapan Mas Bisma, Bunda. Saya tak tahu kenapa jadi begini. Maafkan saya, Bunda. Ma-af,” isak Tya tersendat-sendat. Kentara takut Viona salah paham padanya.
Hati Bisma sedih bukan kepalang begitu juga Viona. menyaksikan kondisi Tya yang kacau dan panik. Jelas tertekan dan ketakutan.
“Sayang, kumohon jangan begini,” lirih Bisma nelangsa, membungkuk dan mengelus pipi Tya yang kini berurai air mata.
“A-aku harus pergi. Aku harus pergi,” cicitnya panik. Serta merta memaksa bangun dan hendak mencabut selang infus yang dengan sigap dicegah oleh Bisma.
“Tya, maafkan Bunda, Nak. Tenanglah, Sayang. Ingat kamu sedang hamil,” bisik Viona parau, ikut menumpahkan tangis sembari memeluk Tya erat
Tya yang memberontak seketika terdiam saat mendengar Viona terisak dan menderaikan maaf. Membeku, kaku, lidahnya pun kelu. Mencoba menelaah respons tak terduga Viona yang terlalu tiba-tiba ini. Berbanding terbalik dengan perkiraannya beberapa menit lalu.
Viona mengurai pelukan, dengan beruai air mata mengelus kepala Tya dan mencium pipi Tya. Cium sayang seorang ibu pada anaknya. Yang kehangatan kasihnya langsung menjalari hingga ke sanubari Tya.
“Maafkan Bunda, Nak. Pernah terbutakan amarah tak terkendali. Kamu jangan pernah pergi lagi dari kami. Waktu itu hati kecil Bunda sebetulnya tidak pernah bersungguh-sungguh memintamu pergi. Tapi lisan ini mendahului semuanya. Kamu adalah anak Bunda, bagian keluarga ini. Tidak boleh ada yang pergi dari keluarga ini.”
Bola mata Tya bergulir menatap Viona dalam-dalam penuh sejuta tanya. Menyelam di sana, mencari-cari sepercik keraguan dari balik bola mata Viona namun Tya tak menemukannya. Hanya bias tulus penuh kasih seorang ibu yang terpancar lembut. Sorot yang menyejukkan jiwa menyejukan sukma.
“Bu-Bunda?” imbuhnya “Ja-jangan minta maaf," lirih Tya yang sejak tadi membeku.
“Bunda harus tetap minta maaf. Telah berbuat salah padamu akibat tergerus emosi, Nak. Bunda merasa berdosa padamu juga si kecil di dalam sini. Cucu Bunda."
Viona mengelus perut Tya, membuat Tya ikut menurunkan pandangan. "Cucu... Bunda?"
"Iya, Nak. Kamu adalah anak Bunda. Berarti si kecil yang sedang bertumbuh di rahimmu adalah cucu Bunda kan?"
“Apakah ini maksudnya, saya… saya diizinkan tetap bersama Mas Bisma? Bu-Bunda mengizinkan dan meridhoi saya menjadi istri Mas Bisma? Apakah benar begitu?” tanyanya dengan bola mata basah dan sembap.
"Kalau Bunda tidak merestui, saya lebih baik pergi. Saya tidak mau jadi penyebab seorang anak berdosa pada surganya walaupun rasanya seperti menikam jantung sendiri saat harus pergi meninggalkan Mas Bisma,” tutur Tya terisak perih, menyambung kalimatnya susah payah.
Viona mengusap lembut air mata Tya semenya dirinya sendiri pun menangis.
“Ya, Bunda merindhoinya, Nak. Restu Bunda ada bersama kalian. Memang benar, surga seorang anak laki-laki terletak di kaki ibunya, tapi jika kamu tetap pergi, maka Bunda juga ikut berdosa karena telah memisahkanmu dari surgamu. Karena surga seorang istri terletak pada rido suaminya. Jangan pernah tinggalkan Bisma lagi. Dia sangat hancur saat kamu pergi, bukan hanya Bisma, tapi juga Bunda sekeluarga. Menyadarkan Bunda akan kekeliruan yang pernah Bunda lakukan padamu, Nak."
Mendengar penuturan Viona, tangis Tya pecah. Derai terima kasih dalam sedu sedannya bertasbih begitu deras, sederas air matanya yang tumpah ruah menganak sungai.
Viona memeluk Tya yang dibalas Tya sama eratnya. Sama-sama menumpahkan tangis yang kini tentu saja air mata bahagia. Bisma ikut melingkupkan kedua lengannya memeluk orang-orang terkasih yang sangat berarti dalam hidupnya, disusul Nara yang baru masuk ke dalam ruangan ikut bergabung berpelukan.
Senyum lega penuh syukur menghiasi wajah semua orang. Mewarnai lukisan mengharu biru yang akhirnya dicecap. Mengurai simpul kusut buah dari emosi. Perdamaiaan yang terlahir begitu Lezat dan manis, begitu istimewa. Meski untuk meraihnya harus menelan kegetiran dan kepahitan dalam perjalanannya yang tentu tak mudah.
Dokter visit datang memeriksa kondisi Tya dengan saksama. Semalam, Tya tak bisa diajak tanya jawab, sehingga pagi ini dokter menggali keterangan sebanyak-banyaknya dari pasien agar pengobatan yang diberikan semakin maksimal.
Dokter juga menjelaskan hasil tes urin juga tes darah Tya secara detail dan menyatakan semuanya masih terpantau dalam kondisi baik.
Semua orang bersuka cita mendengar hasilnya. Mengucapkan Alhamdulillah. Tya tak henti mengukir senyum di paras sembapnya sembari mengamati setiap wajah orang-orang yang kini melingkupinya dengan kasih sayang seutuhnya. Menerimanya apa adanya. Menerima dirinya yang memiliki noktah noda dengan tangan terbuka.
“Tya, gimana mualnya? Mau makan sesuatu? Apakah ada makanan yang kamu inginkan, Nak?” tanya Viona penuh perhatian setelah dokter dan perawat beranjak pergi dari sana.
“Kalau ada yang kamu mau, bilang saja, Sayang. Aku akan membelikannya sekarang juga. Dokter memperbolehkan membeli dari luar selama menunya bukan junkfood.” Bisma yang duduk di sisi lain ranjang dan terus mengelusi lengan Tya tak kalah memberi penawaran terbungkus perhatian yang menguar kuat.
“Kakak juga bawa puding coklat, bubur kacang hijau, roti gandum plus nutela sama biskuit asin dan kreker beras. Dulu, waktu fase mengidam Brilly di trimester awal walaupun enggak separah kamu, Kakak juga mual muntah. Dan dari pengalaman Kakak, biskuit asin dan bubur kacang hijau bikin lambung enggak ngamuk-ngamuk. Terus kaya nutrisi juga, supaya badan enggak terlalu lemas.”
Nara menunjukkan meja nakas yang dipenuhi makanan yang dibawanya. Membuat Tya terenyuh dan malah kebingungan ingin makan apa saking bahagianya memiliki yang namanya keluarga. Hal yang tak pernah dimilikinya.
"Aku... enggak tahu ingin makan apa. Apa saja boleh. Ada Mas Bisma di sisiku. Ada Bunda dan Kak Nara sayang padaku juga anakku semuanya sudah cukup. Aku enggak punya keinginan lain lagi."
Bersambung.