
Sinful Angel Bab 97
Tya mematut dirinya di depan cermin. Hari ini ia akan pergi ke butik pusat milik ibu mertuanya untuk memenuhi janji.
Baju setelan muslim kulot warna milo longgar dan kemeja tunik panjang warna hitam di bawah lutut menjadi outfit yang dipilihnya hari ini. Kerudung berwarna dasar hitam bermotif bunga warna milo senada dengan celananya dipakai Tya untuk menyempurnakan penampilannya, keinginannya berpakaian tertutup semakin kuat setelah mendengar pernyataan Bisma yang mampu memantapkan niatnya.
Tya lumayan kesusahan memakai kerudung segi empat yang dilipat menjadi segi tiga itu. Sebelum memakai kerudung, ia membuka laman Youtube guna mencari tutorial. Menontonnya berulang kali dan saat mempraktekannya tidak semudah kelihatannya. Bahkan jarinya beberapa kali tertusuk peniti. Sudah menghabiskan waktu hampir setengah jam lamanya hanya untuk urusan kerudung.
“Duh, ternyata pakai kerudung lumayan ribet, enggak seperti sewaktu dipakein Khalisa yang kayaknya gampang banget. Untung saja Bunda meminta bertemu jam sepuluh, jadi aku masih punya waktu sekitar dua jam lagi,” guman Tya di depan cermin setelah sebelumnya melirik jam di dinding.
Setelah berkali-kali percobaan gagal, akhirnya Tya berhasil memakai kerudung sesuai dengan harapannya. Walaupun masih ada di beberapa bagian yang agak miring. Itampak puas dengan usaha kerasnya, menyematkan bros mutiara sebagai sentuhan akhir untuk merapikan kerudung di bagian depan.
“Hah, akhirnya. Bisa juga. Aku harus banyak berlatih lagi.”
Sling bag berbahan kulit asli diraaih Tya sebelum keluar dari kamar. Tak lupa ia juga memakai kaus kaki sebagai kelengkapan menutup auratnya, membungkus kaki cantik berkulit kuning langsatnya.
“Wah, siapa ini? Cantiknya manglingi.” Teh Erna yang sedang mengelap meja ruang tamu tak tahan untuk memuji. Tya muncul lebih bersinar dalam balutan baju yang lebih tertutup. Dan semakin hari terlihat bersahaja sebagaimana aura Bisma terpancar yang kini ditularkan juga pada istrinya.
Kalimat Teh Erna membuat Tya menghentikan langkah, menilik dirinya sendiri.
“Aku enggak kelihatan aneh kan, Teh?” Tya meminta pendapat, belum begitu percaya diri dengan penampilan barunya.
“Aneh dari mananya. Justru makin cuantik pisan. Bu Viona pasti terpesona, dari dulu beliau sebetulnya pingin punya mantu yang kerudungan. Den Bisma juga pasti makin kesengsem klepek-klepek kalau lihat Neng Tya berpenampilan begini. Terus Neng Tya sekarang semakin hari tambah shining shimmering splendid gitu kata anak muda zaman sekarang mah, alias ‘cahayaan’ kalau kata orang Sunda mah,” cerocos Teh Erna yang jujur dibuat kagum dengan penampilan majikannya hari ini.
“Beneran? Masa sih? Haruskah aku mengambil foto dan mengirimkannya pada Mas Bisma?”
Tya menggigit bibir, lantas tersipu dengan pipi merona. Dipuji cantik membuatnya merasa benar-benar cantik dan keinginan untuk menunjukkannya pada si tambatan hati menggebu dalam dada.
“Sok atuh kalau mau difoto mah. Biar saya yang fotokan.” Teh Erna menawarkan diri penuh semangat.
“Mmm, biar aku selfie saja, Teh.”
Tya mengambil gambar dirinya dua kali, memilih salah satu yang menurutnya paling bagus dan mengirimkannya ke nomor Bisma dilengkapi ketikan pesan di bawahnya.
Mas, aku berangkat sekarang ke butik bunda. Do’akan semuanya lancar ya. Selamat bekerja suamiku.
Tya menuju garasi setelah mengirimkan gambarnya pada Bisma. Menepuk-nepuk pipinya sendiri merasa malu dengan tingkahnya barusan.
“Berangkat sekarang, Mang,” titah Tya pada Mang Eko yang sudah siap sedia di depan kemudi setelah Tya duduk sempurna di jok empuk bagian penumpang si sedan mercy hitam.
“Siap, Neng.”
“Duh, Mas Bisma bakal mikir aku genit enggak ya? Haish, kenapa pake kirim-kirim foto segala sih Cintya!” omelnya dengan suara rendah pada dirinya sendiri. Menjitak kepalanya frustrasi.
“Aku hapus aja kali ya? Iya deh, mending aku hapus fotonya. Mumpung belum lama terkirim, masih bisa dihapus.”
Tya mengambil ponsel di tasnya hendak menghapus pesan dan foto yang dikirimkannya pada Bisma. Namun terlambat, centang duanya sudah berwarna biru pertanda pesan dan fotonya sudah dibuka oleh Bisma dan tampak Bisma sedang mengetikkan pesan.
Hati-hati di jalan, Sayang. MaasyaaAllah. Cantiknya istriku. Ah, aku jadi ingin pulang sekarang dan mendekapmu seharian. Tapi pekerjaanku menumpuk.
Balasan pesan dari Bisma yang diikuti emoticon sedih merajuk itu membuat jantung Tya terasa melompat-lompat dan ruang hatinya dipenuhi sensasi kupu-kupu beterbangan. Jadi, ternyata begini rasanya dipuji oleh pria yang dicinta. Debar bahagianya tak dapat diukur dengan perwujudan yang ada di dunia.
Pekerja butik langsung menyambut di depan pintu begitu Tya sampai di butik pusat VN Fashion.
“Selamat datang di VN Fashion. Apakah benar dengan Ibu Tya?” tanyanya sopan.
“Ya, saya Tya. Saya ke sini mau bertemu Ibu Viona.”
“Silakan ikuti saya, mertua Anda sudah menunggu.”
Gedung luas berlantai tiga tingkat itu adalah butik pusat VN Fashion. Tempat parkirnya pun tak kalau luas dan aroma luxury langsung tercium begitu Tya masuk ke dalamnya. Tya berdebar sekaligus takjub melihat jejeran rancangan gaun-gaun indah yang sudah pasti mahal harganya. Ia dibawa masuk semakin dalam ke area bangunan paling belakang di mana ruangan khusus Viona berada.
Berbeda dari kebanyakan ruangan pimpinan yang tertutup tembok di semua sisinya, ruang kerja Viona justru mengusung konsep segar, didesain terbuka sebagian menyatu dengan alam. Membiarkan sebagian sinar matahari masuk membelai tanaman-tanamn cantik dalam pot melalui fiber glass. Dilengkapi kolam ikan hias dari batuam alam, menghasilkan gemericik menenangkan sekaligus menyenangkan.
Jejeran manekin dibalut kain-kain indah yang sepertinya belum rampung pengerjaannya berjejer rapi di sini kanan. Kertas-kertas sketsa pun ikut berserak di atas meja luas di hadapan Viona.
Viona langsung bangkit dari kursi kebesarannya saat melihat kemunculan Tya. Kali ini Viona mengukir senyum lebih lebar, memindai Tya dari atas hingga sepatu sekilas. Tya mengucap salam dan buru-buru meraih tangan kanan Viona, mencium punggung tangan mertuanya penuh hormat.
“Hari ini kamu cantik sekali. Tapi ada yang kurang sedikit,” kata Viona setelah menjawab salam yang Tya ucapkan. Mengikis jarak membuat Tya mematung membeku dengan tangan berkeringat dan napasnya tertahan.
“Kerudungnya agak miring sedikit.” Semula Tya dilanda kecamuk kegelisahan. Tak disangka Viona hanya ingin membetulkan letak kerudungnya, meluruhkan seluruh ketegangan menghebat yang membuat dadanya mendadak terasa panas. “Nah, sekarang sudah rapi, makin cantik. Ayo duduk.”
Ini merupakan kali pertama Tya diperhatikan oleh yang namanya orang tua. Hatinya terenyuh juga menghangat. “Makasih, Bunda.”
Nara yang memang sudah janjian di butik pusat baru saja datang. Langsung masuk ke ruangan sang bunda dan Tya yang melihat kedatangan orang lain yang belum dikenalnya tak jadi duduk.
“Jadi ini, Bunda?” tanya Nara mengerling pada Viona sembari tersenyum lebar.
“Hmm.” Viona mengangguk dan membalas senyum Nara sama lebarnya.
Tanpa aba-aba Nara menghambur memeluk Tya, membuat Tya kelabakan.
“Namamu Tya, benar kan? Kenalin, aku Nara, kakaknya Bisma. Ternyata adik iparku memang cantik, pantesan aja Bisma kepincut,” ujar Nara berkelakar, berseloroh tanpa jeda.
“Halo, Kak Nara, saya Tya,” jawab Tya kikuk.
“Hei jangan kaku begitu, aku ini bukan orang lain, tapi kakakmu juga. Saat kamu menikah dengan adikku, otomatis kamu menjadi adikku juga. Erghh, tapi Bisma ini kudu dikasih pelajaran. Main nikah aja enggak bilang-bilang. Dia enggak jahat kan sama kamu? Kalau nyebelin bilang aja, nanti aku omelin.”
Sikap bersahabat Nara menecairkan ketegangan yang melingkupi Tya. Rasa horor yang membelitnya tentang cerita ipar jahat pun berjatuhan dari benaknya.
“Tya, Bunda yang akan membuat desainnya dan Nara yang akan mengukur serta melakukan fitting untuk gaunmu. Kamu suka warna apa, Nak? Biar nanti kainnya disesuikan warnanya dengan kesukaanmu.”
Viona bertanya dengan embel-embel ‘Nak’ yang membuat hati Tya kian kacau saja, teracak-acak haru tak diundang, merasa bagai mimpi ada yang memanggilnya dengan sebutan paling indah yang pernah didengarnya.
Tya menelan ludah, menghela udara begitu dalam untuk sejenak agar gerombolan haru di tenggorokannya tak terlalu penuh sesak.
“Warna apa saja, Bunda, Kak Nara. Saya suka semuanya,” jawab Tya serak. Bagi Tya, rasanya semua warna di dunia mendadak indah sekarang.
“Mana bisa begitu.” Nara menyela cepat. “Momen pesta pernikahan itu enggak setiap hari. Nantinya bakal diabadikan dalam kenang-kenangan foto juga. Harus sesuai dengan seleramu. Jadi jangan ragu untuk bilang sama Bunda atau aku ya.”
Bersambung.