Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 12



Sinful Angel Bab 12


“Jer, Mami ada? Gue mau ajuin ambil duit jatah sepuluh persen separonya lebih awal. Lagi kepepet banget.”


Dengan napas ngos-ngosan, Tya menyemburkan tanya pada pria agak gemulai berkemeja kuning menyala itu begitu sampai di markas Date House. Namanya Jerry, salah satu orang kepercayaan Marsha.


Markas Date House disamarkan dari depan sebagai toko skincare, sehingga keberadaannya tidak begitu mencolok, hanya orang-orang tertentu yang tahu eksistensi Date House dan kebanyakan dari web online, bukan secara offline.


Tya baru saja selesai mengobrol panjang lebar dengan Bisma dan langsung menuju markas begitu diskusi dengan klien yang akan ditemaninya besok malam rampung.


Tya hendak mengambil haknya. Biasanya jumlah sepuluh persen dari setiap transaksi akan diserahkan pada agen setelah pekerjaan usai. Bisa saja diberikan separuh di awal dengan catatan dipotong lagi sepuluh persen dari jumlah yang seharusnya diterima dan Tya tak keberatan karena saat ini kantongnya benar-benar sudah menipis.


“Mami baru saja berangkat ke luar kota. Nganter agen yang sudah disewa klien dari Magelang sejak minggu lalu.”


“Hah, pergi?” Tya mendesah frustrasi. Mengempaskan pinggul di kursi plastik berwarna hijau yang berjejer di bagian belakang toko, mengusap wajah lelah kurang tidurnya. “Kapan Mami pulang?”


Jerry yang sedang sibuk menulis list jadwal agen yang sudah di booking, menaruh pulpen juga buku agenda yang sedang dipegangnya. Merapikan rambut model cepmeknya yang bagian depannya terbilang terlalu panjang, nyaris menusuk matanya sendiri.


“Kayaknya besok malam deh,” jawabnya sembari menopang dagu.


“Duh, gimana dong? Gue butuh banget duit itu sekarang. Caca masuk rumah sakit lagi.”


“Bukannya sekarang si Caca bolak-balik rumah sakit pakai asuransi kesehatan dari pemerintah? Elu sampai bela-belain pontang-panting kek orang gila biar si Caca punya itu kartu.”


“Dua bulan ini memang buat biaya rumah sakit dan obat udah ditanggung asuransi pemerintah. Tapi kan ke rumah sakit itu berangkatnya kudu pake ongkos, pulangnya juga sama. Si Caca juga kudu makan makanan bergizi, kudu beli vitamin penunjang, bukan cuma minum obat!” kesal Tya agak membentak Jerry, membuat si pria gemulai nyaris terjengkang. “Belum lagi sewa kontrakan kudu dibayar malam ini, kalau enggak ya diusir,” keluhnya seraya memijat pelipis yang berdenyut pusing.


Jerry yang masih kaget setelah dibentak Tya belum berani lagi membuka mulut. Tidak ingin terkena semprot lagi. Dan memang jika menyangkut Caca, Tya sering berubah mode jadi singa garang.


“Boleh aja. Tapi ada bunganya, mau enggak? Yang namanya uang itu gak ada temennya dan gak ada saudaranya, kita semua yang ada di sini butuh duit. Otak lo kudu realistis, pasti paham kan?" tawar Jerry yang tetap menyelipkan ketamakan di tengah kesusahan orang lain, sebagaimana Marsha mendoktrinnya.


“Suka-suka lo deh, atur aja. Yang penting duit sejuta lima ratusnya bisa gue bawa sekarang.”


*****


Menenteng kantung berisi makanan, Tya melangkah ringan ceria memasuki rumah sakit. Tujuannya adalah bangsal pasien kelas tiga di mana Caca si gadis pemulung dirawat inap.


Seorang gadis usia lima belas tahunan, berambut pendek dan berkulit sawo matang terlihat gembira melihat kedatangan Tya meski tubuhnya terbaring lemah. Tya membuka masker dan duduk tepi ranjang.


"Gimana kata dokter?" tanya Tya lembut.


"Katanya, Senin atau Selasa kemungkinan sudah boleh pulang, Mbak," jawab Caca semringah.


"Ini, Mbak udah beliin bakcang daging ayam kesukaan kamu. Mbak beli empat. Biar bisa sekalian buat besok. Ini juga ada biskuit manis, kurma, sama bubur bayi instant. Perutmu kudu makan yang lembut dulu."


"Banyak banget beli bakcangnya? Padahal satu aja udah cukup, Mbak. Harganya kan mahal." Caca meringis mendengar Tya membeli banyak. Satu bakcang kesukaannya itu harganya lima belas ribu. Kalau membeli empat itu berarti totalnya 60 ribu. Cukup untuk membeli lima kilogram beras.


Tya tersenyum manis, mengusap-usap kepala Caca yang sedang menatapnya tak enak hati.


"Udah jangan mikirin harga, kamu makan aja yang banyak, biar cepet sembuh. Soalnya, besok Mbak ada kerjaan, takutnya enggak keburu ke sini dulu. Jadinya ini bisa buat stok makanan, buat nambahin menu kurang garam dari rumah sakit," kekeh Tya menghibur. "Kamu enggak apa-apa kan, kalau seharian besok dari pagi sampai malam Mbak enggak bisa dateng nemenin kamu?"


"Aku enggak apa-apa, di sini ada suster dan pasien lain yang nemenin. Mbak kerja aja. Tapi jangan lupa jaga diri, jaga keselamatan, jangan sampai terluka lagi ya."


Bersambung.