Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 127



Sinful Angel Bab 127


“Bagaimana kondisi anak dan istri saya, Dok?” tanya Bisma menuntut penjelasan. Tak sabaran.


Bisma melontarkan tanya setelah prosedur pemindahan Tya ke ruang rawat inap selesai sepenuhnya. Berbicara dengan dokter di depan pintu keluar ruang perawatan. Viona juga berada di dekat Bisma, ingin tahu apa yang terjadi pada menantu dan cucunya.


“Janin yang dikandung istri Anda terpantau dalam kondisi baik. Hanya saja istri Anda mengalami kondisi yang disebut Hiperemesis sehingga membutuhkan pengobatan dengan prosedur rawat inap. Hiperemesis merupakan kasus mual muntah berlebihan pada ibu hamil di trimester pertama yang jika dibiarkan berlarut dapat menyebabkan dehidrasi akut, gangguan elektrolit dan berimbas pada penurunan berat badan. Beruntung istri Anda segera dibawa ke rumah sakit sehingga bisa cepat ditangani guna meminimalisir risiko yang lebih parah dari penurunan berat badan yang sepertinya memang dialami istri Anda,” jawab si dokter. Menjelaskan panjang lebar tetap dengan nada tenang agar keluarga pasien tidak bertambah panik.


“Apakah penurunan berat badan yang dialami menantu saya berbahaya, Dok?” Viona menyambung tanya, air mukanya dipenuhi kekhawatiran akan kondisi Tya dan bayinya.


“Untuk saat ini penurunan berat badan yang dialami memang terbilang belum menyentuh angka kritis. Efek dari kurangnya nutrisi yang terus dimuntahkan menjadi pemicu terbesar turunnya berat badan. Untuk itulah pasien harus tetap dirawat inap di rumah sakit guna menerima pengobatan. Karena kebanyakan pada kasus Hiperemesis, ibu hamil tidak mampu menelan makanan dan minuman terlebih lagi menelan obat dengan baik. Sehingga cairan nutrisi dan obat diberikan melalui infus supaya pengobatan dan pemulihan tetap maksimal.”


“Sebetulnya, apa pemicu mual muntah berlebihnya, Dok? Agar saya bisa melakukan upaya pencegahan?” tanya Bisma lagi. Sungguh tak tega rasanya melihat Tya kepayahan dan kesusahan saat mengandung buah hatinya, terlebih selama sebulan ini berjauhan darinya.


“Penyebab Hiperemesis sendiri belum diketahui secara pasti dan normalnya kondisi ini akan mulai surut di trimester kedua nanti. Pemicunya terjadi karena berbagai faktor dan terkadang stress berat pada ibu hamil pun bisa ikut mempengaruhi, memperburuk gejala yang sudah ada. Tapi Anda jangan terlalu khawatir, selama dipantau ketat, diobati dengan baik dan benar, ibu dan bayinya bisa tetap aman. Pengobatan yang diberikan saat ini bertujuan menghentikan mual muntah, mengganti cairan dan elektrolit yang terkuras akibat muntah berlebihan, memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin juga mengembalikan nafsu makan. Tes urin dan tes darah akan dilakukan besok pagi, untuk memastikan tidak ada efek buruk lain dari Hiperemesis yang dialami istri Anda.”


Sepeninggal dokter, Viona dan Bisma menghampiri ranjang di mana Tya berbaring. Di sana, Tya memejamkan mata dengan dada turun naik dalam gerakan halus. Tertidur tenang meski wajahnya masih pucat dengan selang infus menghiasi tersambung ke punggung tangan kirinya.


Viona mengelus kepala Tya lembut, berdo’a dan meniupkannya ke ubun-ubun Tya, membetulkan letak kerudung bergo yang dipakai Tya supaya lebih rapi. Viona juga mengelus perut Tya sembari kembali membasahi bibirnya dengan untaian do’a.


“Lekaslah pulih, Nak,” kata Viona pelan sembari menatap Tya lekat.


“Bun, sebaiknya Bunda pulang saja. Jangan menginap di sini, nanti Bunda sakit. Biar aku saja yang menjaga Tya. Mang Eko sedang dalam perjalanan ke sini, sudah kuminta Mang Eko mengantar Bunda pulang,” usul Bisma saat melirik arloji yang menunjukkan waktu hampir pukul sebelas malam.


“Jangan minta Bunda pulang. Bunda ingin di sini, ingin ikut menunggu Tya. Nara titip salam dan maaf, katanya baru bisa datang besok pagi karena Brilly tidak ada yang menemani tidur di rumah sedangkan Arkana sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Tapi sekarang Bunda mau keluar kamar dulu, mau menemui Ustazdah Farhana juga Khalisa dan suaminya untuk mengucapkan terima kasih. Kamu di sini saja. Bunda tahu, pasti kamu ingin melepas rindu sama Tya,” tutur Viona penuh perhatian, mengelus bahu putranya penuh pengertian.


“Makasih atas pengertiannya, Bunda. Sampaikan terima kasihku pada mereka,” ucap Bisma sembari mendesahkan napas lebih ringan, tak seberat belakangan ini.


“Bunda keluar dulu ya. Jaga Tya dan cucu Bunda," pesan Viona sebelum melangkah keluar meninggalkan kamar.


Bisma menatap Tya lamat-lamat dengan sorot penuh kerinduan mendalam. Meraba perut Tya yang mulai terasa lebih padat saat disentuh, mulai menyembul, tak serata sebelumnya.


Bisma kemudian membelai sayang kepala Tya lalu turun ke pipi, mengelus semakin turun melewati bahu hingga ke telapak tangan Tya yang terbebas dari selang infus sembari memindai daksa Tya yang ternyata memang benar lebih kurus dari sebulan lalu. Hatinya nelangsa, nyeri laksana teriris. Dan setitik bening dari pelupuk mata kembali jatuh tak terbendung.


“Sayang, maafkan aku. Baru bisa menemukanmu sekarang dan enggak ada di sampingmu di saat kamu kepayahan dan kesakitan,” lirihnya perih


Dibawanya telapak tangan halus itu untuk dikecup, dihidunya dalam-dalam. Lantas diletakkan menangkup sisi wajahnya, merasai kulit bertemu kulit. Memastikan lagi bahwa Tya benar ada di hadapannya, tersentuh nyata, bukan hanya sebatas mimpi semata seperti yang sebulan ini berlangsung di setiap malam-malamnya.


“Aku rindu tangan ini meraih tanganku untuk dicium. Lekas sembuh, Sayangku.”


Bisma baru teringat belum menunaikan salat Isya. Gegas mengambil wudhu dan melaksankan salat di dalam kamar. Setelahnya dia menarik kursi ke dekat ranjang di mana Tya rebah. Memanjatkan do’a, melantunkan dzikir bertasbih dari lisannya, memohonkan keselamatan anak dan istrinya.


Lewat tengah malam, Tya merintih-rintih lagi. Bergerak gelisah dengan mata masih terkatup rapat dan mengingau lagi.


“Mas… Mas… Mas Bisma,” rintihnya lirih, sedih.


Bisma yang memang terjaga, dengan cepat berdiri lalu membungkuk di atas wajah Tya. Mengelus lembut kening dan pipi istrinya yang sepertinya bermimpi buruk, merintih menangis dalam tidurnya.


“Tya, aku di sini, Sayang. Aku di ada di sini."


Tya makin gelisah, tetapi tak kunjung bangun. Bisma berinisiatif naik ke atas ranjang pasien berukuran besar itu, berbaring miring meraup Tya perlahan-lahan agar tidak menggangu laju infus. Membawa Tya ke dalam pelukan sembari mengelusi punggung Tya lembut, menenangkan, menina bobokan.


Pelukan Bisma direspons Tya dengan menyusupkan wajahnya ke dada Bisma, tampak menghirup udara dalam-dalam seperti gerakan refleks saat sedang membaui sumber keharuman yang disukai. Menenggelamkan diri di dekapan Bisma.


“Mas… aku butuh kamu, aku kangen….” lirih Tya lagi, meracau pelan dalam tidurnya. Masih terjebak di alam mimpinya.


Tak berselang lama, Tya kembali tenang, tenggelam dalam tidurnya. Bisma menghujani puncak kepala Tya dengan kecupan penuh kasih dan cinta. Mendekap Tya posesif.


“Tidurlah dengan tenang, Sayang. Aku akan selalu ada buat kamu. Dan kumohon, jangan pernah pergi dariku lagi.”


Bersambung.