Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 113



Sinful Angel Bab 113


Pagi ini Bisma terbangun dengan perasaan berbunga-bunga. Debaran jantungnya berdetak lebih merdu, laksana riak ombak yang saling berkejaran riang gembira.


Bisma sudah berpakaian rapi, dibantu Tya seperti biasa. Tya tetap merengek ingin melakukan rutinitas paginya itu meskipun Bisma memintanya bermalas-malasan.


“Sore ini aku akan pulang lebih cepat. Nanti kujemput, jangan lupa siap-siap.”


Tangan Bisma terulur mengusap sayang puncak kepala Tya yang terbungkus pashmina. Membingkai wajah cantik Tya begitu pas lagi manis.


“Siap, suamiku,” sahut Tya dengan senyum mengembang indah. Manik coklatnya bergulir menyusuri pahatan tampan di hadapannya dengan sorot mata teduhnya.


“Kenapa terpesona gitu ngelihatinnya? Ganteng ya?” ujar Bisma narsis, berkelakar.


Bibir semerah ceri itu melebarkan ukiran senyum cantiknya hingga deretan gigi rapinya mengintip. “Iya, ganteng jiwa raga.”


Tawa manis berderai dari keduanya. Nuansa interaksi hangat merebak ke seantero kamar. Daksa tinggi tegap Bisma membungkuk perlahan, mengelus perut rata Tya, mendekatkan wajahnya di sana.


“Kesayangan Papa, Papa berangkat kerja dulu ya, Nak. Baik-baik di dalam sana.” Bisma menciumi sayang perut Tya berkali-kali sebelum kemudian menegakkan tubuhnya dan mengecup mesra bibir ranum sang istri.


“Jangan banyak beraktivitas. Kabarnya di trimester pertama kehamilan itu harus dijaga dengan sangat ketat,” pesan Bisma mewanti-wanti.


“Iya, Bos bawel!” kekeh Tya yang kemudian memeluk Bisma erat-erat. Merebahkan kepala di dada bidang favoritnya cukup lama. Meresapi irama degup merdu sumber kehidupan pria tercintanya.


“Kenapa, hmm? Apakah semua wanita hamil begini? Ingin terus menempeli suaminya? Kalau benar begitu, kamu harus sering-sering kuhamili,” ujarnya berkelakar, mengundang tawa kecil Tya mengudara.


“Kamu tahu, rasanya bagai mimpi saat mendengar kamu mengandung anakku. Mimpi terindah yang pernah ada dalam hidupku," ungkap Bisma dengan nada haru, menjeda sejenak sebelum melanjutkannya kembali kalimatnya.


"Dulu, aku sempat dilanda rasa enggak percaya diri lantaran semasa pernikahan pertamaku tak kunjung dikaruniai keturunan. Prita bahkan pernah menuduhku mandul. Padahal dari pemeriksaan dokter, kesuburanku sama sekali enggak bermasalah. Tapi sekarang, semua pikiran mengganggu itu musnah. Aku sangat bersyukur, yang mengandung anakku adakah kamu. Wanita tangguh yang memiliki hati secantik bidadari. Makasih, Sayang. Aku sangat bahagia, sangat-sangat bahagia sekarang.”


Mendengar curahan hati Bisma yang begitu gembira, Tya harus mati-matian mengendalikan dorongan sebah di dada yang bergerombol tercekat di tenggorokannya. Menelan ludah guna melonggarkan siksaan yang seakan mengikat kencang setiap ruas rusuknya hingga terasa sesak dan nyeri.


“Aku pasti bakal kangen banget sama kamu, Mas,” cicit Tya sembari menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar sedap dari daksa pria yang telah bertahta di singgasana sanubari terindahnya.


Tawa renyah Bisma berderai. Balas melingkarkan kedua lengan. Menumpukan dagu di ubun-ubun Tya.


“Manjanya ibu hamil cantik ini. Aku juga sebenarnya enggak rela berpisah sama kamu walaupun cuma beberapa jam. Tapi kalau kamu kubawa-bawa ke kantor juga enggak mungkin, nanti kamu malah bosan dan stress. Mau dibuat senyaman apapun, yang namanya kantor tetap enggak akan bisa menyamai nyamannya rumah. Akh, belum apa-apa aku sudah kangen berat juga sama kalian,” tutur Bisma sembari menghidu permukaan jilbab yang dipakai Tya.


“Sudah waktunya berangkat kerja Pak Presdir,” kata Tya mengingatkan. Melonggarkan pelukan. Menunjuk jam yang tergantung di dinding.


Mereka berdua keluar dari kamar bergandengan mesra. Tya mengantar sampai ke garasi, mencium punggung tangan Bisma penuh takzim begitu lama, yang dibalas Bisma dengan kecupan sayang di keningnya.


“Papa berangkat. Dah Mama.”


Lambaian tangan Tya mengantar mobil Bisma melaju. Melangitkan do’a dalam jerit batinnya dengan mata berlinang yang diakhiri kalimat lirih menyayat hati.


Maafkan aku, Sayang.


*****


Mereka baru keluar dari ruang rapat di pukul sebelas siang ini. Sejak pagi jadwal Bisma sangat padat sehingga Bisma belum sempat memeriksa ponselnya sewaktu sampai di kantor pagi tadi. Akibat ketinggalan menginap semalaman, ponselnya kehabisan daya dan Bisma yang langsung disambut segudang pekerjaan, memilih meninggalkan gawai pribadinya itu diisi daya di ruangannya.


“Oke, kerja bagus, Poppy. Tapi aku belum membukanya, kemarin ponselku tertinggal di kantor.”


Bisma sudah sampai di depan pintu ruangannya. Dengan sigap Poppy mendorongkan pintu untuk bosnya.


“Sebaiknya rekaman CCTVnya segera diperiksa, Pak. Ternyata, beberapa hari yang lalu Bu Tya tertangkap kamera datang ke sini sore-sore. Tapi cuma berdiri di depan ruangan Bapak kemudian pergi lagi. Sewaktu saya keluar kantor untuk mewakili Anda memberikan sambutan sebagai salah satu sponsor acara yang dihelat walikota,” cerocos Poppy berupaya merangkai kata menjabarkan temuannya.


“Sore itu bertepatan dengan kedatangan mendadak bunda bukan?” Bisma bertanya dengan dahi terlipat. Mencoba mengingat-ingat.


“Benar, Pak. Makanya sore itu Anda mendadak meminta saya berangkat ke acara pak walikota untuk mewakili Anda. Maaf, saya permisi dulu, Pak. Saya masih harus membuat notulen hasil rapat secepatnya.”


Setelah Poppy undur diri, Bisma buru-buru menghidupkan ponselnya. Rentetan notifikasi mengeroyok masuk. Berdentang tiada henti.


Mengabaikan teks yang masuk ke aplikasi, Bisma memilih lebih dulu membuka email dan mengirimkan video rekaman CCTV ke macbooknya agar ruang pandang lebih leluasa. Memutar video tersebut dan lantas memicing saat mendapati dikatakan Poppy benar adanya.


"Tya ini datang ke kantor tapi kenapa enggak ngetuk atau masuk langsung saja dan malah berdiri di depan pintu?” gumamnya tak paham.


Detik demi detik melaju. Bisma fokus memaku pandang sembari mengingat-ingat. Perasaanya mulai tak menentu disusul berbagai macam spekulasi bermunculan di kepalanya.


Ponselnya berdering terinterupsi panggilan masuk dari Nara. Dengan cepat Bisma menggulir tombol hijau di layar dengan kedua mata tetap fokus ke layar macbooknya.


“Assalamualaikum. Halo, Kak? Maaf, kemarin sore aku enggak jadi mampir ke rumah sakit. Ada hal mendesak. Tapi nanti sore aku akan mengunjungi bunda lagi, sekalian ada kejutan.”


[“Kenapa dari kemarin kamu susah dihubungi? Kakak mengirimkan beberapa pesan bahkan meneleponmu berulang-ulang!”]


Nara menyemburkan cerocosan tanpa peringatan di seberang sana.


“Sorry, Kak. Kemarin aku pulang lebih awal dan handphoneku ketinggalan di kantor. Ini baru mau buka-buka pesan masuk." Bisma menjelaskan penyebab dirinya tak membuka ponsel sejak kemarin hingga siang ini.


[“Haish, teledor! Padahal kakak ingin mengonfirmasi hal darurat! Kakak mau tanya, memangnya kamu sudah memberitahu Tya perihal perseteruanmu dengan bunda juga tentang sakitnya bunda?”]


Serbuan kebingungan menerjang Bisma. “Enggak. Aku belum ngomong apa-apa sama Tya tentang kemurkaan bunda maupun sakitnya. Baru nanti sore aku berencana memberitahu Tya sekalian membawanya ketemu Bunda. Tya hamil, Kak. Semoga kabar gembira ini bisa meluluhkan dan meredam kemurkaan bunda padaku.”


["A-apa? Tya ha-hamil?”]


“Iya, Kak. Ini luar biasa bukan? Akhirnya aku akan jadi ayah. Tapi, sebenarnya hal darurat apa yang ingin Kakak konfirmasi padaku?"


["Kemarin siang, Tya mendadak datang ke sini jengukin bunda dan bicara empat mata sama bunda karena katanya ada hal penting yang mau disampaikan. Kakak enggak tahu mereka ngobrolin apa, karena sepertinya Tya ingin menyampaikan hal yang sangat serius, jadi Kakak memberi mereka ruang buat bicara. Cuma sewaktu Kakak balik lagi ke kamar, Tya sudah enggak ada. Kalau kamu belum ngomong sama Tya, lantas istrimu tahu dari mana bunda dirawat di rumah sakit?"]


Sontak Bisma bangkit dari duduknya dengan jantung yang mulai resah berdegup kencang. Mulai dihinggapi firasat tak enak menjalari seluruh nadinya. Bertambah tak menentu saat rekaman video menayangkan Tya yang balik kanan pergi setengah berlari.


Sekujur tubuhnya dibuat terhenyak saat dilihat baik-baik ternyata pintu ruangannya tak tertutup rapat sore itu, sewaktu bundanya mengamuk marah. Bisma terkesiap bukan main.


“Jangan-jangan sore itu Tya mendengar semua kemarahan Bunda?"


Bersambung.