Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 99



Sinful Angel bab 99


Tya merasakan kepalanya pening dan berat. Saat membuka kedua mata, tatapannya langsung bersirobok dengan manik maskulin Bisma yang membiaskan kecemasan hebat. Duduk di sampingnya, membungkuk di atasnya.


"Syukurlah, akhirnya kamu siuman. Sayang, apa yang kamu rasakan?” Bisma mendesah lega. Membelai kepala Tya setengah memijatnya.


Pertanyaan Bisma terdengar mengambang di telinga Tya imbas dari kepalanya yang masih berdenyut sakit ditambah ruang pandangnya yang berkunang-kunang. Tya menggulirkan mata ke sekeliling. Ini bukan di rumah, melainkan di ruangan Bisma di kantor Agra Prime.


Kelopak mata Tya mengatup lagi untuk beberapa saat, berharap nyeri menusuk-nusuk di kepalanya berkurang. Mengatur napasnya sendiri dan barulah membuka matanya kembali.


“Aku kenapa, Mas?” Suara Tya serak dan lemah, meringis memegangi kepalanya saat mencoba bangkit dari posisi berbaringnya.


“Sudah, berbaring saja. Jangan duduk dulu,” Bisma mengecup kening Tya, meraba pipi istrinya yang masih pucat penuh sayang. “Beberapa saat lalu kamu tiba-tiba pingsan di lantai bawah. Ingat? Dokter sedang dalam perjalanan kemari dengan Poppy.”


“Hah? Pingsan?”


Bisma meraih tangan Tya, mengecupi punggung tangan halus istrinya berulang-ulang.


“Iya, Sayang. Kamu tiba-tiba limbung enggak sadarkan diri. Beruntung kamu terkulai di rangkulanku, enggak sampai terjatuh ke lantai. Maafin aku, kamu pasti kelelahan gara-gara ulahku semalam ditambah kurang tidur. Belum lagi hari ini kamu banyak ke sana kemari. Aku akan meminta dokter meresepkan vitamin yang lebih bagus dari yang kamu minum selama ini.”


Kening Tya berkerut dalam. Memutar ingatannya dituntun keterangan dari mulut Bisma barusan, akhirnya ia terkesiap saat teringat di lantai bawah tadi bertemu Markus sebelum sekelilingnya gelap dalam sekejap.


Markus adalah salah satu pelanggan pengguna jasa Jordan yang pernah dua kali membookingnya dulu, pelanggan yang mempunyai fetish menyimpang. Tya juga pernah menampar Markus akibat pernah melecehkannya di luar kesepakatan transaksi, di saat Tya sedang mendapat jatah liburnya dan hanya ditugaskan menjadi pramusaji di kelab Jordan.


Tya memang diamankan kacung Jordan di masa itu dari keisengan Markus karena si mucikari gila uang takkan membiarkan tambang emasnya disentuh sebelum deal disepakati dan bayaran diterima. Akan tetapi di balik layar, Tya tetap diganjar Jordan dengan hukuman yang membuat bulu kuduk merinding sebagai akibat telah menampar pengunjung kelab.


Markus pun pernah memaksa ingin menebus Tya dari Jordan untuk dijadikan wanita simpanan sebagai pemuas fetish anehnya juga karena ingin memberi pelajaran pada Tya yang pernah menamparnya.


Hanya saja Jordan tentu mengajukan nominal fantastis yang takkan disanggupi Markus yang kala itu masih menjabat sebagai general manager dari perusahaan mertua Markus. Lantaran Jordan tidak ingin kehilangan primadonanya yang sedang naik daun terlalu cepat, si tambang emasnya. Yang mirisnya si tambang emas hanya mendapatkan bayaran sesuap nasi dan tempat berteduh bak penjara sedangkan Jordan menari-nari dengan gepokan uang di atas penderitaan Tya yang dihinakan, mengatakan pada Tya bahwa semua itu untuk membayar biaya hidup Tya dari bayi hingga dewasa.


Tya masih berharap pertemuannya dengan Markus tadi hanyalah mimpi. Tak pernah menyangka akan bertemu dengan orang yang mengetahui masa lalunya dan kenapa harus terjadi di saat hidupnya diliputi kebahagiaan luar biasa yang pernah didapatkannya sepanjang hidup di muka Bumi.


Bisma memang sudah tahu apa profesinya dulu sehingga Tya tidak merasa terbebani. Akan tetapi, ibu mertuanya belum mengetahui hal ini dan sungguh Tya belum siap andai Viona mengetahuinya. Takut akan respons dan cara pandang Viona padanya tak lagi sama seperti sekarang.


Baru memikirkannya saja Tya langsung tertekan. Padahal dulu ia tak serapuh ini, entah apa penyebabnya akhir-akhir ini Tya merasa mentalnya tak sekuat dulu lagi. Kecamuk kecemasan di luar batas berputar-putar bak gasing di dalam otaknya. Berimbas pada wajah Tya yang kian memucat seputih kertas.


Tya meremas sisi baju yang dipakainya. Kini bukan hanya kepalanya yang berdenyut sakit, perutnya pun terasa mual dilanda stress hebat tak terduga. Tya berusaha bangun dengan cepat, menggapai-gapaikan tangannya meminta bantuan Bisma sebab sekujur tubuhnya masih terasa lemas. Bisma meraih punggung Tya perlahan hingga istrinya benar-benar duduk.


“Kenapa?” cecar Bisma panik saat melihat ekspresi Tya seperti tengah menahan kesakitan.


“Aku… aku ingin ke kamar mandi, Mas. Pingin muntah!” seru Tya, lantas membekap mulutnya erat-erat lantaran dorongan mual itu naik kian mendesak ke kerongkongan.


Bisma memerintahkan Suri menyuruh orang membawakan segelas air hangat dan membawakan minyak angin setelah Tya selesai dengan urusan muntahnya. Telaten, Bisma membujuk Tya minum meski istrinya itu menolak, juga mengoleskan minyak angin di punggung Tya.


“Poppy dan dokter terjebak macet, jadi kemungkinan agak telat sampai di sini. Sabar ya, Sayang.”


Bisma mencium puncak kepala Tya yang mengangguk di pelukannya. Bisma duduk bersandar di sofa dan Tya bersandar di dada bidangnya. Bisma sempat menyarankan berbaring lagi, tetapi Tya menolak dan malah memeluk Bisma erat-erat, katanya aroma Bisma enak, mampu mengurangi gejolak tak nyaman di lambungnya.


“Udah enakan?” tanya Bisma saat punggung Tya yang tadi kembang kempis begitu kentara tampak lebih tenang sekarang.


“Lumayan, Mas. Enggak terlalu mual berkat wangi badanmu,” jawab Tya terus terang, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Bisma yang ternyata ampuh menenangkan gejolak perutnya.


“Mas, jadi tadi aku pingsan di lantai bawah? Apakah… apakah Mas sedang mengenalkanku pada seseorang sebelum aku pingsan tadi? Atau mungkin cuma halusinasiku saja,” cicitnya resah penuh harap, ujung kata dalam kalimatnya adalah jeritan do’a, bukan sekadar rangkaian hurup.


“Iya benar, aku mengenalkanmu pada rekan bisnis baruku, direktur pemasok air mineral yang hendak bermitra dengan Agra Prime. Tapi kamu mendadak pingsan saat aku mengenalkanmu padanya. Aku amat terkejut dan cemas, mukamu sangat pucat dan tanganmu sangat dingin saat aku membopongmu ke ruanganku tadi.”


Pupus sudah harapan Tya. Inginnya kejadian yang dialaminya tadi tidaklah nyata, tetapi fakta berkata lain. Efeknya tenggorokan Tya kering kerontang dalam hitungan detik, guna menelan ludah pun terasa sulit. Tya memeluk Bisma lebih erat, ia butuh penawar akan keresahannya.


“Maaf ya, Mas. Aku jadi enggak enak sama Mas karena malah pingsan saat dikenalkan dengan mitra perusahaan,” lirih Tya serak.


Kepala Tya dipenuhi kecamuk tak menentu sekarang. Di satu sisi ia sangat bersyukur karena mendadak pingsan, jadinya tak harus berlama-lama berhadapan dengan Markus. Namun di sisi lain, ia merasa tidak becus menjadi istri yang seharusnya tetap tegar mendampingi suaminya apapun yang terjadi.


“Sudah, jangan dipikirkan. Pak Markus juga pasti maklum dan dia langsung berpamitan pulang karena urusan pembahasan pekerjaan untuk kali ini memang sudah selesai. Namanya sakit kan enggak bisa diprediksi. Istirahat saja sambil nunggu dokter datang.”


Dengan lantang Bisma menyerukan kata masuk saat Poppy mengetuk pintu kebesarannya. Seorang wanita umur lima puluhan berjas sneli putih mengikuti Poppy masuk ke ruangan presdir berdesain modern minimalis itu.


“Dokter Ambar, tolong periksa istri saya, tadi Tya tiba-tiba pingsan.”


Bisma memberi ruang pada dokter bernama Ambar itu untuk memeriksa Tya. Dokter Ambar adalah dokter penanggung jawab ketika Tya dirawat satu bulan penuh di rumah sakit pasca operasi patah tulang. Bisma memiliki perkiraan bahwa pingsannya Tya masih berkaitan dengan efek samping insiden kecelakaan.


Dokter tersebut mengangguk dan gegas mengeluarkan peralatan yang dibawanya, sedangkan Bisma terpaksa harus keluar dari ruangannya karena Poppy mendapat laporan dari Suri bahwa tamu penting lainnya sudah datang dan menanti di ruang tamu, sesuai jadwal yang telah diagendakan jauh-jauh hari.


“Sayang, maaf aku enggak bisa nemenin kamu. Aku harus menemui tamu,” kata Bisma dengan raut muka penuh sesal, enggan beranjak dari sisi istrinya.


Tya membalas genggaman hangat tangan Bisma sama eratnya. Berusaha mengukir senyum.


“Pergilah, Mas. Aku sudah baikan kok. Sudah ada Dokter Ambar di sini. Jangan khawatir.”


Bersambung.