
Sinful Angel Bab 106
Pagi ini Tya berdandan sangat cantik, menyembunyikan segala gundah dan wajah sembapnya di balik riasan. Berpura-pura tidak tahu perihal pertengkaran sang suami dengan ibu mertuanya. Seolah tak terjadi apa-apa.
Tya mengenakan setelan yang terbilang seksi saat membantu Bisma berpakaian. Memakai celana pendek satin dipadu atasan tanpa lengan, berwarna merah tua yang begitu kontras membalut kulit kuning langsatnya.
Tya sedang mengancingkan kemejanya slim fit hitam yang dipakai Bisma hari ini. Bisma sedikit menunduk, memindai istrinya yang semakin hari kian bersinar parasnya. Membuatnya kian memuja dan jatuh cinta. Parasnya indah dipandang, suaranya mendayu merdu di pendengaran. Menyejukkan hati di pagi hari, meluruhkan penat ketika pulang bekerja dan menggairahkan saat waktunya naik peraduan.
Bisma sudah pernah mengutarakan tidak ingin merepotkan Tya di pagi hari hanya karena masalah berpakaian karena dia pun bisa sendiri. Akan tetapi, Tya mengatakan bahwa ia ingin belajar menjadi istri berbakti, ingin menerapkan kaidah-kaidah rumah tangga yang didapatnya dari mendengarkan kajian ilmu bersama Khalisa.
“Cantiknya istriku pagi ini?” puji Bisma sesuai dengan kenyataan yang terlihat. Sorot matanya memuja. Mengecup pelipis Tya mesra.
“Jadi kemarin-kemarin aku enggak cantik nih?” Tya memajukan bibirnya protes, merajuk lucu sembari meraih dasi di atas kasur.
Bisma tertawa renyah, mencubit pipi Tya gemas. “Selalu cantik setiap saat. Kalau enggak, mana mungkin aku kepincut. Gimana hasil pemeriksaan kemarin? Apa kata Dokter Ambar?” tanya Bisma dengan kedua tangan melingkar di pinggang Tya intim.
Jemari Tya yang sedang bergulir lincah menyimpulkan dasi sempat terhenti sejenak saat mendengar pertanyaan sang suami. Menelan ludah sembari berpikir sebelum menjawab, lantas mengukir senyum cantiknya berkibar indah demi menyembunyikan segala gundah.
“Semuanya baik, Mas. Katanya aku cuma kelelahan dan kemungkinan itulah penyebab aku pingsan sewaktu di kantor,” sahutnya yang malah menjawab demikian.
“Teh Erna bilang kemarin kamu flu tapi enggak mau minum obat. Terus semalam, suhu tubuhmu agak hangat.” Bisma meraba kening Tya. Memeriksa lagi suhu tubuh sang istri.
“Oh itu, bukan kena flu. Tapi kemarin di perjalanan pulang dari rumah sakit aku lihat pemulung seumuran Caca. Jadinya aku nangis karena teringat Caca. Untuk itulah aku enggak mau minum obat karena bukan sakit flu,” tutur Tya beralasan, menjelaskan meyakinkan.
Tya mengusap dada bidang Bisma pada bagian dasi yang sudah terpasang. Memundurkan punggungnya sedikit, memastikan dasi dan kemeja yang dipakai Bisma sudah rapi sempurna.
“Ughh, gantengnya suamiku,” ujarnya memuji manis. Mendongak, mengerling lucu.
“Hei, jangan merayuku pagi-pagi begini. Kamu enggak merayuku pun sudah bikin aku tergoda. Apalagi begini.” Bisma mencubit hidung Tya, sementara si empunya terkekeh puas.
Jas dark grey senada dengan celana yang dipakai Bisma, dipakaikan Tya sebagai sentuhan akhir penyempurna penampilan suaminya. Tya berjinjit dan mengecup rahang Bisma yang dihiasi jambang halus setelah menyelesaikan tugasnya membantu Bisma berpakaian.
“Selesai,” cicitnya riang.
“Makasih, Cinta.” Bisma mengusap sayang rambut Tya.
“Mas, pagi ini aku belum bikin sarapan. Dari kemarin sore aroma nasinya enggak enak. Enggak tahu kenapa. Mungkin kualitas beras yang baru dibeli ini kurang bagus. Aku takut Mas sakit perut.”
Aroma nasi yang mengepul sejak kemarin tercium tak sedap di hidung Tya. Padahal penyebabnya bukan terletak pada kualitas beras, melainkan karena dirinya sedang dalam fase mengidam.
“Enggak masalah. Lagian kamu belum boleh terlalu capek. Nanti kalau kamu pingsan lagi aku bakal merasa bersalah. Kita sarapan di luar bareng gimana? Mumpung masih pagi, nanti aku anter lagi kamu pulang sehabis sarapan.”
“Mmm, boleh deh. Mas mau sarapan apa?”
“Kamu maunya makan apa?” Bisma balik bertanya.
“Pinginnya sih makan sate jando yang di dekat Gedung Sate itu. Yang pernah kita makan minggu lalu. Tapi jam bukanya pukul sembilan pagi, Nanti Mas kesiangan ke kantor. Jadi, terserah Mas saja deh.”
Bisma melirik Cartier Ballon Bleu WSBB0039 Deployant Clasp yang melingkar gagah di pergelangan tangan kanannya. Dia juga membuka tas kerjanya di nakas dan melihat kindle gadgetnya yang berisi jadwal agenda kerja hari ini.
“Makan yang lain juga enggak apa-apa kok, Mas,” kata Tya kemudian. Ikut menghampiri Bisma yang sedang menggulirkan jari di layar kindle.
Menaruh kembali kindle ke dalam tas, Bisma merangkul Tya penuh sayang. “Ayo, kita makan Sate Jando. Kebetulan enggak ada jadwal penting pagi ini.”
Tya berjingkrak senang. “Asyik. Aku ganti baju dulu. Tunggu sebentar ya, Mas.”
Tya berlalu ke area wardrobe, memilih baju muslim yang akan dipakainya. Ia ingin tampil lebih cantik hari ini. Ingin jadi yang tercantik untuk Bisma selagi kesempatan masih memihaknya.
Ponsel di saku celana Bisma berdering. Bisma menarik diri agak menjauh ke dekat kaca tembus pandang yang gordennya dibuka lebar-lebar saat melihat nama 'Nara' muncul di layar. Melirik sejenak pada Tya yang sedang sibuk memilih baju.
“Assalamualaikum. Halo, Kak.”
Tya berpura-pura tak mendengar juga tak berusaha mendekat. Fokus berganti pakaian. Kendati begitu telinganya masih dapat mencuri dengar percakapan Bisma yang teramat pelan itu dan Tya tahu Bisma sedang bertukar kata dengan Nara.
Sudut mata Tya menangkap ekspresi dan refleks Bisma yang tampak frustrasi. Terlihat mengusap wajah kasar dan mengembuskan napas berat.
“Nanti sore aku ke rumah bunda lagi, aku akan berusaha bicara lagi dengan bunda, semoga bunda melunak. Kakak jangan lupa selalu kabari aku tentang kabar bunda ya.”
Tya tetap diam tak beranjak dari depan cermin di area wardrobe walaupun ia sudah selesai dengan urusan berganti pakaian. Menunggu sampai Bisma selesai menerima telepon sembari berpura-pura merapikan jilbabnya.
Saat melihat suaminya sudah menaruh lagi gadget ke saku celana, barulah Tya mengayunkan kaki mendekat, bergelayut manja di lengan Bisma.
“Ayo, Mas. Aku sudah siap.”
*****
“Gimana?” Arkana bertanya pada Nara yang keluar dari pintu kamar Viona. Dia ikut mampir ke rumah mertuanya sekaligus mengantarkan istrinya yang pagi ini ditelepon ART kediaman Viona karena majikannya jatuh sakit.
Nara menggelengkan kepalanya bingung. “Tetep enggak mau makan, Mas. Sudah aku bujuk kayak gimana pun, bunda menolak makan apalagi minum obat, padahal badannya demam.”
“Kenapa bunda mendadak sakit? Atau mungkin kelelahan sepulang dari Malaysia. Kita bujuk bunda pergi ke dokter saja ya,” usulnya.
Lagi-lagi Nara menggeleng. “Bukan karena itu, Mas. Tapi ini tentang Bisma. Bunda lagi marah besar sama Bisma,” tutur Nara berat.
Si pria berkumis tipis dan berhidung mancung itu membetulkan letak kacamatanya. Keningnya berkerut dalam.
“Lho, memangnya ada apa dengan Bisma? Kenapa bunda sampai marah besar?”
Nara memijat pangkal hidungnya. “Nanti kuceritakan. Sudah waktunya Mas berangkat ke kantor. Kemungkinan hari ini aku enggak berangkat ke butik. Biar kutelepon Tante Sita untuk mengurus pekerjaan VN hari ini.”
Bersambung.