Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 79



Sinful Angel Bab 79


Sudah satu jam berjalan pesannya tak mendapat balasan. Pasti di Bandung sana Tya sudah tertidur mengingat waktu hampir tengah malam saat Bisma mengirim pesan berisikan modus ingin diperhatikan. Tergerus rasa lelahnya lama kelamaan mata Bisma terpejam juga, saat kedua kelopak netranya terkatup rapat jarum pendek jam menunjuk ke angka dua.


Di rumah Bisma, Tya rupanya tidur di sofa living room bukannya di kamar. Teh Erna terlihat tidur meringkuk di kasur lantai dekat sofa. Seperti biasa, Teh Erna akan menginap menemani Tya setiap kali Bisma dinas luar kota. Hanya saja berhubung nyonyanya ini tidak beranjak ke kamar sama sekali dah terlihat lesu, maka dari itu Teh Erna memilih menggelar kasur di living room. Khawatir terjadi sesuatu pada majikannya.


Mukena dan sajadah pun terlihat terlipat di dekat kepala Tya. Beberapa botol air mineral berjejer di meja. Sepertinya Tya memang tidak beranjak ke kamarnya sama sekali. Mengerami sofa melampiaskan kegalauan di jiwa polosnya yang baru merasakan yang namanya getar asmara.


Mang Eko sudah pasti juga ikut menginap seperti pesan tuannya. Meronda untuk memastikan keamanan rumah di malam hari. Walaupun semenjak tuannya menikah dia tak lagi bermalam setiap hari, hanya di saat Bisma meminta saja. Kamar Mang Eko berada di luar area bangunan utama sehingga tidak berbaur dengan para wanita. Bersebelahan dengan gazebo di lahan halaman belakang. Masih dalam wilayah pagar beton tinggi kediaman Bisma, sehingga jika terjadi hal berbahaya di dalam rumah, Mang Eko masih bisa mendengar teriakan orang di dalamnya.


Memasuki pukul tiga dini hari Tya terjaga dari tidurnya. Menggosok mata, ia lantas menggapai-gapaikan tangan mencari perangkat jemalanya, ingin melihat jam. Sembari menutup mulutnya yang menguap, Tya memokuskan mata ayamnya yang masih diselimuti kantuk.


“Emhh, jam tiga rupanya. Alhamdulillah, sudah mau pagi.” Tya beringsut bangun, menyandarkan punggung di sofa. Membacakan do’a bangun tidur yang dipelajarinya semenjak tinggal di sini. Memanfaatkan waktu senggang juga fasilitas ponsel dan jaringan Wifi untuk banyak menggali ilmu walaupun sedikit demi sedikit.


“Duh tengkukku kaku, pasti karena tidur enggak pakai bantal,” gumamnya. Tya mengusap tengkuknya. Mungkin efek dari ketiduran tak sengaja di sofa tanpa menggunakan bantal.


Hendak menaruh kembali ponselnya ke sisi sofa bermaksud beranjak ke kamar mandi di kamarnya untuk mengambil wudhu, gerakan tangan Tya terhenti saat matanya menangkap sesuatu pada bar notifikasi ponsel. Sebuah pesan masuk belum terbaca. Dibukanya pesan tersebut dengan cepat, saat membacanya jantung Tya yang baru saja agak tenang seketika diserang kecemasan menghebat.


“Aduh. Gimana ini?” cicitnya resah dengan hati tak menentu.


****


Usai salat subuh berjamaah, Bisma dan Hadi langsung bertolak menuju lahan perkebunan diantar mobil jeep mandor kebun untuk menyaksikan dan memberi penyuluhan terkait memanen yang baik dan benar kepada para pemetik teh.


Fajar menyingsing di ufuk timur, langit berpendar merah keemasan menyebar semangat dan harapan. Diawali dengan do’a bersama memohon keselamatan dan keberkahan yang dilanjutkan dengan sarapan bersama pula. Menyantap menu khas setempat, menu sederhana mengolah hasil bumi yang dipetik langsung oleh orang pribumi.


Setelahnya barulah kegiatan memanen dimulai. Semua pemetik teh bekerja penuh sukacita. Suatu kehormatan bagi mereka bisa dibimbing langsung oleh ahli di bidang ini, bisa berbaur langsung dengan sosok pemilik perkebunan yang ternyata selain cerdas bersahaja juga rupawan paripurna.


Bisma yang langsung disambut kesibukan pekerjaan dimulai pagi buta, terlupa dengan ponselnya yang tertinggal di kamar villa. 25 panggilan dan 25 pesan masuk tertera di layar ponselnya, kemudian tak lama mati kehabisan daya. Pesan berisikan saran-saran obat juga penanganan dini di saat panas dingin. Membuat sosok wanita yang berpiyama pink di rumahnya kalang kabut karena kini nomornya tak bisa dihubungi.


“Aduh, Teh. Gimana ini? Mas Bisma enggak angkat telepon atau membalas pesanku sejak tadi dan sekarang malah enggak bisa dihubungi sama sekali.” Tya mondar mandir, gelisah tak karuan sembari menggenggam ponselnya erat-erat.


“Teh, jangan-jangan Mas Bisma sakitnya parah? Jangan-jangan bukan cuma meriang masuk angin? Apakah sebelumnya Mas Bisma punya alergi dingin? Daerah puncak kan super dingin apalagi di dataran yang lebih tinggi dari pusat kotanya.” Tya mencerocos tanpa jeda. Berondongan pertanyaannya tak menyisakan ruang untuk Teh Erna menjawab.


“Neng, sebaiknya sekarang makan dulu. Baru nanti hubungi Den Bisma lagi. Ini sudah jam delapan pagi. Atau Neng Tya mau mandi dulu juga silakan. Sarapan kali ini ada nasi uduk buatan saya. Tempe mendoannya digoreng nanti pas Neng Tya mau makan, biar masih anget.” Teh Erna yang kebingungan entah harus menjawab dari mana memilih mengingatkan Tya untuk mengisi perut.


Tya menggeleng sembari menggigiti kukunya sendiri. “Aku enggak lapar, Teh,” tolaknya dengan nada khawatir yang terus mendayu dari setiap kalimat yang diucapkannya.


“Kalau gitu mandi dulu saja, Neng. Biar segeran. Mau berendam air hangat? Biar saya siapkan,” tawar Teh Erna telaten pada wanita muda yang sangat jelas sedang disiksa virus malarindu juga cemas sekaligus.


“Mas Bisma sampai enggak kuat balas pesan dan angkat telepon pasti karena meriangnya bukan meriang biasa. Teh Erna tahu enggak di mana lokasi tepatnya perkebunan baru Agra Prime? Aku mau menyusul ke sana saja. Diam di sini juga rasanya aku mati khawatir!” Topik yang ditanyakan dan jawaban sama sekali tidak sinkron. Benar kata Agnezmo, cinta itu kadang-kadang tak ada logika.


“Saya tidak tahu, Neng. Kalau yang di Pangalengan mah Mang Eko tahu lokasinya.”


Tya menghentikan ayunan kaki cosplay menyetrika, teringat akan sesuatu. Tak banyak kata, Tya mencari nomor seseorang yang terlintas di benaknya. Ia ingat nomor tersebut belum sempat disave. Pernah mengirim pesan padanya sewaktu menanyakan size gaun sewaktu Tya akan menghadiri seminar di Bali menemani Bisma. Yaitu nomor Poppy.


Poppy langsung mengangkat teleponnya. Tya mendesahkan napas lega. Tidak banyak basa-basi berseloroh meminta alamat lokasi perkebunan di Puncak sejelas-jelasnya. Tya juga mengatakan pada Poppy apa alasannya bertanya detail. Dan akhirnya Poppy pun memberi saran untuk berangkat menyusul ba’da Dzuhur saja supaya Poppy bisa ikut menemani sebagai penunjuk jalan.


Meski rasa tak sabar sangat sulit dikendalikan. Akhirnya Tya pun setuju. Dia akan berangkat disopiri Mang Eko dan ditemani Poppy juga. Tya melangkah lebar menuju kamarnya, hanya saja lengannya ditahan cepat oleh Teh Erna.


“Neng, mau ke mana?”


“Mau mandi, Teh. Abis ini mau sarapan terus beli obat-obatan ke apotek buat Mas Bisma”


“Kalau mau mandi salah masuknya, semua barang-barang Neng Tya termasuk peralatan mandi semuanya sudah dipindahkan ke kamar utama, kamar Den Bisma,” terang Teh Erna lugas.


“Hah, di-dipindahin, ke-kenapa?” tukas Tya mengerjap bingung.


“Lho, kan Neng Tya sendiri yang bilang boleh dipindahin,” ujar Teh Erna yang ikut keheranan sekarang.


Bersambung.