
Sinful angel bab 141
Menjelang matahari terbenam, Radhika terlihat keluar dari apartemen Markus dengan wajah berseri-seri. Rambutnya klimis, basah khas orang yang baru saja mandi. Celananya masih tetap memakai yang sama seperti sebelumnya, hanya saja kemejanya berbeda. Sewaktu datang kemejanya hitam sedangkan sekarang jadi warna abu-abu.
Radhika memakai kemeja milik Markus dan kebetulan ukurannya sama. Lantaran kemeja yang dipakai sebelumnya ditempeli aroma-aroma menyengat serta terdapat jejak-jejak kado yang dibukanya penuh sukacita. Berbau aroma alkohol berpadu cairan lengket yang berceceran akibat terlalu menggebunya Radhika menggarap lahan si model seksi.
Jikalau nanti Prita bertanya kenapa kemejanya berubah, dia tinggal mencari seribu alasan. Otak penuh muslihatnya punya seribu macam ide busuk, sama sekali bukan hal yang sulit bagi Radhika. Terlebih lagi setelah bertukar peluh dengan Cyra, otaknya terasa bugar untuk merancang seribu satu alasan.
Dia melahap rakus kado yang disajikan Markus. Menikmati hidangan yang disediakan si tuan rumah sepuas-puasnya. Meski pada akhirnya dia tetap berakhir merogoh kocek pribadi untuk diberikan kepada Cyra dalam nominal yang tidak sedikit, sebagai uang tip atas ronde tambahan memuaskan yang dimintanya. Mereka juga bertukar nomor ponsel, saling menyimpan kontak masing-masing.
Setiap kali bergumul dengan Prita beberapa bulan terakhir ini, Radhika sering merasa loyo dan mudah sekali kalah di atas ranjang. Akan tetapi, pergulatan yang baru saja dilaluinya bersama Cyra menghadirkan sensasi yang sudah lama padam itu. Keperkasaannya meningkat, mencetuskan pemikiran lain di otak penuh nafsunya.
“Kalau Cyra kujadikan istri simpanan, kira-kira dia mau enggak ya? Akh… dia itu hebat. Bikin aku on terus,” gumamnya senyum-senyum sendiri menjijikkan, sementara kakinya berayun di basemen apartemen di mana unit pribadi Markus berada, menghampiri tempat di mana mobilnya diparkirkan sembari bersiul ceria.
“Sepertinya, aku juga butuh apartemen pribadi tersembunyi seperti hunian rahasia punya Pak Markus di sini. Unit yang tak diketahui oleh istri, khusus untuk dipakai bersenang-senang dengan bebas kayak Pak Markus,” gumamnya lagi sebelum menghidupkan mobil.
Sebelum tancap gas, dia merogoh saku celananya dan memeriksa barangkali ada pesan maupun panggilan dari Prita, tetapi sampai saat ini ponselnya sepi dan bar notifikasi pun bersih.
“Sebenarnya Prita ini sudah selesai dengan urusannya atau belum ya? Masa sudah sore begini dia masih belum ngasih kabar. Atau mungkin, Prita memang sengaja berlama-lama berbincang dengan Bu Viona?”
Radhika mengotak-atik ponselnya. Hanya mengotak-atik, bukannya menghubungi Prita.
Mengetuk-ngetukkan ponselnya ke sisi kemudi, dia bermonolog kemudian. “Mungkin Prita memang masih lama, gimana kalau kumanfaatkan waktu menunggu ini dengan memanggil Cyra ke parkiran saja ya? Sepertinya seru main di tempat sempit seperti bangku kemudi ini,” desisnya yang kembali dilanda desir gairah.
Radhika mengusap bangku kemudi lantas menunduk ke arah resletingnya sendiri yang ternyata di baliknya sudah penuh sesak lagi.
Membayangkan permainan Cyra menyulut sisi primitif Radhika mudah berkobar, benar-benar mengaburkan kewarasan. Bukannya gegas kembali ke butik VN, malah tergiur ingin mencicipi kehangatan terlarang yang mulai membuatnya tergila-tergila tak terkendali.
“Akh, masa bodo. Aku butuh main sekali lagi dengan Cyra sebelum pergi.”
Kendati tak yakin pesan berisi permintaan frontalnya dibalas, Radhika tetap menunggu balasan. Dan balasan yang masuk membuat mata jelalatannya berbinar, Cyra mengatakan dia akan turun dalam waktu sepuluh menit karena kebetulan Cyra pun hendak pulang.
Radhika mengirimkan nomor kendaraannya pada Cyra melalui pesan teks, dan tak butuh waktu lama si model berbody aduhai itu sudah mengetuk jendela mobilnya sembari tersenyum menggoda. Tanpa ragu langsung masuk dan duduk pada jok di sebelahnya.
“Masih belum kenyang ya, Pak Bos,” rayu Cyra manis, mengedipkan matanya genit, menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap lebih naik.
Radhika menelan ludahnya saat Cyra menyentuh dan mengelus-elus pahanya. Membasahi bibirnya yang berliur berulang kali disajikan pemandangan belahan dada rendah dan paha mulus.
Cyra terkekeh manja. “Boleh saja, Pak. Dengan senang hati. Tapi, bonusnya harus berbeda, jangan sama kayak tadi. Saya lagi kepengen beli tas Hermes model terbaru.”
“Sebutkan saja harganya berapa, nanti kutransfer ke nomor rekeningmu yang tadi.”
Mobil yang terparkir paling pojok itu kini bergoyang. Pria di dalamnya tengah mendes*h nikmat, sedangkan istrinya tengah luntang-lantung tak jelas mencari-carinya lantaran ponsel Prita mati kehabisan daya.
“Ini sebenarnya Mas Dhika pergi ke mana sih? Walaupun aku enggak bisa dihubungi seharusnya dia itu cepat-cepat menyusulku ke sini! Enggak tahu apa misi kali ini kacau balau. Dasar suami enggak guna!” teriak Prita kesal, rongga dadanya kembang kempis.
“Ini juga bayi kenapa malah nendang-nendang gak karuan dari tadi. Bukannya bantuin malah bikin susah! Panggil bapakmu ke sini kalau bisa!” Si bayi tak berdosa turut menjadi sasaran, sungguh kasihan.
****"
Sesampainya di rumah, Viona segera menghubungi Bisma. Menceritakan secara detail terkait kedatangan Prita berserta provokasi yang dibawa.
Bisma yang baru selesai menyuapi Tya makan malam, memilih untuk melanjutkan percakapan telepon di teras vila. Tidak ingin membuat suasana hati wanita tercintanya yang sedang mengandung menjadi buruk saat mengetahui topik yang sedang disampaikan bundanya di seberang telepon.
“Sayang, aku ke teras depan dulu ya. Di dalam sini sinyalnya agak jelek,” ucap Bisma yang kemudian menggeser kursi makannya.
“Siapa yang telepon?” imbuh Tya posesif, mengerjap curiga yang di mata Bisma malah terlihat lucu saat melihat Tya cemberut.
Ketika yang namanya cinta sudah bersemi di hati, maka otomatis cemburu beriringan merecoki, begitulah yang sedang terjadi pada Tya sekarang.
Bisma tertawa kecil, lantas menunjukkan layar ponselnya. “Ini Bunda yang telepon. Kalau kamu mau ngobrol dulu sama Bunda juga boleh.”
Bisma menyalakan loud speaker dan suara Viona terdengar menyapa hangat di seberang sana. Tya tersipu merona dan akhirnya mengizinkan Bisma ke teras setelah bertukar kata sejenak dengan ibu mertuanya.
“Mang Eko juga mengabarkan tadi siang. Prita dan Radhika datang ke rumahku entah ada urusan apa. Dari cerita Bunda sudah sangat jelas kentara, mereka memang jauh-jauh datang ke Bandung hanya untuk mencari masalah dengan kita.
[“Bunda rasa juga begitu. Maka dari itu, kita harus menambah kewaspadaan juga antisipasi. Entah cara licik apa yang akan mereka gunakan. Yang jelas kita jangan lengah. Tapi sebaiknya kita memberitahu Tya tentang masalah ini setelah kalian kembali ke rumah, jangan merusak suasana liburan perdananya.”]
“Iya, Bun. Sebaiknya begitu. Tentang meningkatkan kewaspadaan itu pasti. Aku pun tidak akan membiarkan duo benalu itu berulah dan mengusik hidupku untuk yang kedua kalinya.”
[“Itu harus. Untuk sekarang nikmati saja liburanmu. Jangan terganggu hal semacam ini. Jaga kesehatan, Nak. Juga jaga cucu bunda dan ibunya. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah.”]
Bersambung.