Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 120



Sinful Angel bab 120


Sore harinya Arkana datang membawa serta putrinya ke rumah sakit. Sore ini Brilly merengek ingin ikut mejenguk neneknya setelah sebelum-sebelumnya dilarang ikut ke rumah sakit demi kebaikan Brilly juga, mengingat daya tahan tubuh anak-anak dinilai tak sekuat orang dewasa, rentan tertular kuman penyakit.


“Tadi, bunda minta diantar ke kamarnya Bisma, ingin melihat keadaan Bisma secara langsung katanya. Tapi aku mencegahnya lantaran cemas dengan kondisi Bisma maupun Bunda yang masih sama-sama terguncang.” Nara berbisik pada sang suami yang duduk di sebelahnya. Meminta pendapat di saat Brilly tengah melepas kangen dengan neneknya.


Mereka berdua berbincang agak jauh dari tempat tidur Viona. Bertukar kata setelah Arkana memastikan Nara mengisi perut, membelikan makanan kesukaan istrinya saat di perjalanan ke rumah sakit. Arkana menatap Nara dalam-dalam. Meraih tangan istrinya untuk digenggam.


“Sebelum ke sini, tadi aku ke kamar Bisma dulu. Kulihat, dia sudah sedikit lebih tenang meskipun memang memprihatinkan. Bisma tampak rapuh dan hancur. Lebih rapuh dibandingkan dengan saat meletusnya pengkhianatan Prita dulu.” Arkana menghela napas panjang.


Nara pun sama prihatinnya akan kondisi sang adik. Mengusap wajah cantiknya yang tampak letih.“Kira-kira, apakah aman kalau mereka dipertemukan sekarang? Aku masih khawatir dengan kemungkinan ledakan emosi Bisma.”


“Aku rasa tak masalah membawa Bunda bertemu Bisma. Kita tahu pasti Bisma itu seperti apa. Sosok anak yang selalu berbakti dan sangat menyayangi Bundanya. Semarah apapun, aku yakin Bisma tidak akan meninggikan suaranya pada Bunda. Lagi pula reaksi penolakan Bunda terhadap Tya sebelumnya, ditilik dari sisi manapun merupakan reaksi yang wajar dari seorang ibu. Bunda butuh waktu dan butuh bukti dalam menilai ketulusan Tya. Bunda hanya sangat takut anak yang sangat disayanginya salah langkah,” jawab Arkana panjang lebar.


Nara mengangguk-angguk, mencerna setiap kalimat yang diucapkan suaminya.


“Aku paham. Bunda butuh proses untuk dapat memahami bahwa semua ini sebagai bagian dari suratan takdir. Bisma berakhir menikahi Tya juga merupakan garis takdir. Tapi memang terkadang prosesnya enggak semudah itu menerima kenyataan yang ditetapkan dalam perjalanan hidup kita kan? Realistisnya dan lumrahnya para ibu pada awalnya bisa jadi bereaksi sama seperti Bunda saat aku mencoba menempatkan diriku di posisi Bunda. Dengan kejadian ini, semoga menjadi jalan berakhirnya selisih paham antara Bunda dan Bisma. Juga menjadi jalan menjalin ikatan keluarga yang semakin erat setelah ini.”


Arkana mengelusi lengan istrinya dan mengulas senyum. “Aamiin, semoga setiap hati diberi kelembutan untuk dapat memahami makna dari kejadian ini. Kudengar sebelumnya, Tya sedang banyak belajar ingin memperdalam ilmu agama. Bisa saja, hal sulit ini terjadi sebagai bagian dari perjalanan yang harus dilaluinya dalam menapaki hijrahnya. Tidaklah seseorang diuji jika bukan karena Allah ingin hambanya semakin mendekat kepadanya, karena Allah menyayanginya,” tuturnya seraya mengukir bulan sabit di bibirnya yang dibingkai rapi kumis tipis.


Kalimat menenangkan Arkana memanglah selalu mampu menenangkan kalbunya. Semakin bijak di usia matangnya.


“Mas benar. Semoga Tya selalu dalam lindungan Allah di manapun berada. Semoga kacau balau ini segera bermuara pada perdamaian. Oh iya, Bunda juga sudah membaca surat yang ditinggalkan Tya untuk Bisma, surat yang aku tunjukan pada Mas tadi. Dan Mas tahu apa yang dikatakan Bunda padaku setelah membaca surat itu?” kata Nara sembari mengulas senyum.


“Memangnya Bunda bilang apa?” tukas Arkana penasaran.


“Bunda menghubungi koneksinya di seluruh Kota Bandung, meminta untuk mencarikan keberadaan Tya secepatnya. Bukankah itu artinya, Bunda sudah mulai menerima Tya?"


*****


Mang Eko undur diri dari kamar Bisma saat Viona yang memakai kursi roda didorong Nara dan Arkana masuk ke ruang perawatan Bisma.


Mang Eko memilih bergabung dengan Teh Erna di luar yang sedang menemani Brilly bermain. Tak lupa sebelum keluar, Mang Eko menyapa sang nyonya besar dan berbincang sebentar. Menjawab beberapa pertanyaan Viona terkait kondisi si putra bungsu.


Nara menempatkan kursi roda bundanya di salah satu sisi ranjang di mana Bisma berbaring, tepat berhadapan dengan meja nakas.


Viona menatap sendu pada putra gagahnya yang terlihat lemah dan pucat sekarang. Dia juga melirik nampan yang ada di atas nakas, isinya masih penuh, makanannya benar-benar belum tersentuh.


“Nara, Arka. Bunda ingin berdua dulu dengan Bisma. Bisa kalian keluar sebentar?” pintanya.


Nara dan Arkana saling bertukar pandang. Arkana mengangguk tipis pada istrinya setelah beberapa saat hanya bercakap-cakap melalui gulir mata.


“Baik, Bun. Kalau ada apa-apa, aku dan Mas Arka ada di depan pintu.”


Meskipun dengan langkah enggan sebab dihantui rasa khawatir, Nara meninggalkan bundanya yang sedang ingin berdua dengan si bungsu. Beruntung Arkana selalu menjadi penguatnya, menggenggam tangan Nara dan membisikkan kata-kata menenangkan, memeluk kegundahan istrinya.


“Mang Eko bilang, kamu belum makan sejak tadi siang dan sekarang sudah lewat jam makan malam. Kamu harus segera mengisi perutmu,” kata Viona.


Viona mengambil mangkuk berisi nasi tim daging yang untung saja saat dipegang mangkuknya masih menyisakan suhu hangat berkat plastik pelindung yang membungkus bagian luarnya. Menyendoknya dan menyodorkannya ke depan mulut Bisma.


“Ayo buka mulutmu, aaa,” kata Viona lagi tanpa nada tinggi. Hanya menyisakan intonasi seorang ibu yang membujuk anaknya untuk makan.


Bisma mematung untuk sejenak. Dia memang marah dan kecewa kepada bundanya, tetapi wanita di hadapannya ini juga merupakan sosok yang amat disayanginya dan Bisma tahu bundanya pun begitu. Hanya saja terkadang implementasi rasa sayang berbeda pengaplikasiannya antara orang tua dan anak.


Bisma perlahan membuka mulut, membiarkan sang bunda menyuapinya. Viona mengulas senyum tipis, lantas fokus menyuapi Bisma hingga nasi tim di mangkuk tersebut habis isinya.


“Minum juga obatmu.” Viona menyodorkan obat dan botol air mineral. Patuh tanpa banyak drama, Bisma menerima dan menelannya. Padahal sebelumnya di menolak makan dan minum obat, hanya obat-obatan yang disuntikkan melalui selang infus yang masuk ke tubuhnya.


Hamparan keheningan mengisi ruangan setelah kegiatan makan dan minum obat rampung. Baik Viona maupun Bisma keduanya membisu seribu bahasa.


“Bunda minta maaf.”


Ucapan pelan Viona memecah kesunyian. Bisma menarik napas panjang lantas menunduk, meraih tangan Viona, mencium punggung tangan bundanya.


“Bukan Bunda yang harus minta maaf, tapi aku. Ditelaah dengan kepala dingin, semua kejadian ini berasal dariku sebagai sumbernya. Akibat membiarkan diri tergerus marah dan sakit hati oleh Prita, aku banyak mengambil keputusan penting dalam hidupku tanpa berunding dengan Bunda terlebih dahulu.”


Viona menelan ludah. Sudut matanya memanas. “Bunda juga salah di sini. Gagal mengontrol emosi saat disuguhi kenyataan yang amat mengejutkan. Bunda tidak membenci Tya. Tapi untuk mampu menerima bahwa Tya yang manis ternyata memiliki masa lalu kelam bukan hal mudah buat Bunda. Tak munafik, Bunda butuh waktu untuk memahami, tapi lisan Bunda mendahului akal sehat saat berhadapan langsung dengan Tya. Dan buah rasa sesal harus Bunda telan sekarang.”


Helaan napas Bisma terdengar berat memenuhi ruangan. Kepalanya menggeleng pelan. Membawa tangan kanan sang bunda dan menaruhnya di ubun-ubun.


“Maafkan aku, Bunda. Maafkan segala dosa dan keliruku. Tanpa kusadari menoreh kecewa di hati Bunda. Aku paham, semua reaksi Bunda berangkat dari rasa sayang Bunda untukku. Kasih sayang yang tidak akan pernah sanggup kubalas bahkan dengan memberikan seluruh hidupku. Tapi, kumohon berikan restu Bunda untuk pernikahanku dengan Tya. Dengan wanita yang kucinta apa adanya. Dengan wanita yang tengah mengandung darah dagingku di rahimnya. Aku tidak meminta Bunda menerimanya dengan segera. Aku tahu pasti Bunda butuh banyak waktu untuk dapat menilai Tya secara keseluruhan. Tapi aku bisa memastikan bahwa Tya sosok yang tulus."


Bisma menjeda kalimatnya, sementara bola mata Viona mulai buram dipenuhi genangan air mata.


“Hanya saja, bersediakan Bunda memberikan ridho dan restu lebih cepat? Aku membutuhkannya, Bunda. Rasanya bagai berjalan di atas hamparan duri saat surgaku kecewa padaku. Tapi aku juga punya kewajiban sebagai suami dan ayah pada Tya juga anakku. Jika mereka terlantar di luar sana juga merupakan dosa besar buatku. Juga, dia lah sumber bahagiaku. Aku butuh ridho Bunda juga butuh Tya. Butuh keduanya,” Bisma bertutur lirih tersendat-sendat dengan bola mata mengkilap.


Di detik kemudian Viona mengusap sayang kepala Bisma. Keduanya sama-sama menangis.


“Maafkan Bunda, Nak. Telah membuatmu kehilangan sumber kebahagiaanmu," isaknya.


“Bunda, jangan menangis.” Bisma mengusap pipi bundanya yang basah oleh air mata. “Ayah pasti akan marah padaku karena telah membuat mata Bunda basah oleh air mata.”


Viona mengulas senyum di sela-sela tangisannya. Putranya tidak pernah berkurang baktinya padanya meski dalam kondisi seperti sekarang ini. Merasa bersalah telah merenggut sumber bahagia Bisma tanpa sengaja.


“Ridho dan restu yang kamu minta. Sekarang bunda berikan sepenuhnya padamu, Nak. Pegang kata-kata Bunda. Juga, Bunda sudah mengerahkan seluruh koneksi serta jasa terpercaya untuk mencari Tya, untuk membawa menantu dan cucu Bunda kembali.”


Air mata haru tumpah ruah. Bisma memeluk bundanya bersama derai terima kasih tak henti terucap dari lisan.


Bersambung.