
Sinful Angel Bab 17
“Prita, perkenalkan. Ini Cintya, Istriku.”
Terhenyak, ternganga dan terperanjat, itulah reaksi empat orang yang kini memelotot pada Bisma, bukan hanya Prita. Rona menjatuhkan rahang. Bola mata Vero nyaris meloncat saking kagetnya dengan pernyataan yang meluncur dari mulut temannya itu, sedangkan Tya mengerjap linglung dengan perubahan konsep kliennya malam ini yang terlalu mendadak.
Beberapa detik berlalu, Bisma ikut terkejut dengan kalimatnya sendiri. Lagi-lagi lidahnya terpeleset, sudah dua kali di hari yang sama. Mungkinkah efek terlalu lama memendam banyak beban di dada sendirian mengakibatkannya jadi gagal fokus, mudah darah tinggi dan lepas kendali?
Refleks otaknya menyuruhnya untuk segera meralat. Namun, itu sama saja dengan bunuh diri. Menjatuhkan image sendiri. Menguasai situasi hanya itu pilihan terbaik yang tersisa. Sudah terlanjur kepalang basah, lebih baik menceburkan diri sekalian.
“A-apa? I-istri?” Prita tergagap saking terkejut. Menatap Bisma juga Tya bergantian.
Dari sekian undangan yang pernah dikirimkannya baru kali ini Bisma datang menghadiri. Alih-alih berhasil memanas-manasi dan mengusik ketenangan Bisma, justru dirinya lah yang kini terbakar api yang disulutnya sendiri. Lama tak bertemu muka dengan Bisma dan tak terdengar kabar berita tentang kehidupan pribadinya, sekalinya bersua dengan si mantan suami justru kabar tak terduga lah dipersembahkan sebagai kado yang dibawa ke pestanya.
Bisma melirik pada Tya. Di balik sorot mata hangatnya, tersirat permohonan yang amat sangat pada Tya yang sedang menatapnya kebingungan. Jujur saja dadanya bergemuruh sangat khawatir, takut Tya tak bersedia mengikuti konsep dadakannya sebab melenceng terlalu jauh dari konsep awal yang sudah disepakati.
Mau ditaruh di mana mukanya andai Tya meralat mentah-mentah. Dipastikan hancur sudah harga dirinya yang tersisa, meluluhlantakkan puing-puing yang diinjak-injak Prita sebelumnya.
Tya memang merasa keberatan dengan pernyataan Bisma. Ini merupakan kali pertamanya menghadapi situasi di lapangan semacam ini. Semula Tya hendak berbisik pada Bisma untuk menyatakan keberatannya, tetapi membaca pesan permohonan yang membias di balik manik gelap Bisma membuat Tya tak tega, memilih memantapkan hati mengikuti permainan. Bersemoga tutur kata dan bahasa tubuhnya meyakinkan supaya tidak menimbulkan kecurigaan.
Akan tetapi, Tya tak terganggu. Demi menciptakan atmosfer meyakinkan, jemari Tya menyusuri semakin turun hingga mencapai telapak tangan Bisma, lantas menyelipkan jemari langsingnya di antara celah jemari Bisma, merangkumkan tangannya mesra, membawa sisi tubuhnya lebih merapat pada Bisma.
“Maaf. Saya lupa belum memperkenalkan diri. Perkenalkan, saya istrinya Mas Bisma,” kata Tya sembari mengangguk sopan, tersenyum merekah sangat cantik.
Bahu Bisma merosot. Menghela napas lega sehalus mungkin saat Tya mengikuti konsep dadakannya. Paham dengan maksud Tya yang merangkumkan jemari, Bisma balas menggenggam tangan Tya.
Adegan skinship intim itu tak luput dari perhatian Prita. Belum lagi cincin couple mewah yang tersemat di jari manis Tya dan si mantan suami membuatnya merasa kesal bukan kepalang.
“Wah, selamat atas pernikahan kalian.” Prita berbasa basi, menahan rasa dongkol lantaran niatannya tebar pesona pada Bisma yang dulu cinta mati padanya kini harus kandas. “Tapi, kapan kalian menikah? Kenapa tidak tersiar kabar tentang pernikahanmu, Bisma? Ini sangat aneh. Atau, mungkinkah dia ini cuma istri simpanan?” ujarnya dengan tatapan mencela pada Tya.
Bukannya marah, Bisma malah tersenyum. Membawa tangan Tya yang digenggamnya untuk dikecup mesra, dan laku lembut penuh penghargaan pria pada wanita itu sungguh membuat jantung Tya mendadak tak aman.
“Kami menikah belum lama. Tentang kenapa tak tersiar kabar keluar, karena aku hanya membagi momen bahagiaku dengan orang-orang yang penting saja, dan sepertinya kamu tidak termasuk di dalamnya, Prita.”
Bersambung.