
Sinful Angel Bab 100
Bisma masih berjongkok di dekat sofa di mana Tya akan diperiksa sedangkan Poppy sudah menunggu di ambang pintu. Meskipun istrinya itu mengizinkannya untuk pergi, kedua kakinya terasa kaku laksana dipaku ke tanah. Sungguh berat meninggalkan Tya, akibat buncahan rasa khawatir yang kali ini lebih menghebat menerjang kalbunya.
Paham dengan suaminya yang seakan tak rela pergi juga paham posisi Poppy yang terlihat resah sembari terus berkomunikasi melalui ponsel dengan Suri, Tya tidak ingin menjadi istri egois yang tidak pengertian. Kendati saat ini ia inginnya selalu didampingi, tetapi Bisma pun memiliki tanggung jawab besar sebagai presdir selain sebagai suami.
“Mas, ayo temui tamunya. Pasti ini janji penting kan, enggak enak kalau sampai tamunya menunggu lama.” Tya menyentuh lembut rahang Bisma. Netra teduhnya seolah ikut berkata pada Bisma agar jangan mencemaskannya dan bibir pucatnya mengukir senyum menenangkan.
“Pak, maaf sekali. Sebaiknya kita bergegas. Pak Cahyo dari perusahaan kemasan sudah menunggu lebih dari sepuluh menit dan andai kita membatalkan maka jadwal ulang hanya bisa dikondisikan di bulan depan. Besok beliau sudah harus terbang ke Maroko.”
Poppy mau tak mau menginterupsi walaupun dia paham posisi bosnya saat ini sedang dihadapkan dengan dilema persoalan yang sama-sama penting, antara menemani sang istri atau menemui mitra bisnisnya. Lantaran janji dengan presdir salah satu perusahaan kemasan terbaik di tanah air ini didapat susah payah dan merupakan suatu kehormatan presdirnya sendiri ingin datang langsung ke Agra Prime berkat popularitas perusahaan yang semakin hari menjadi sorotan.
Menghela napas nyaring, Bisma akhirnya berdiri seraya mengangguk pelan meskipun dengan hati tak rela.
“Aku pergi, Sayang.” Bisma mengusap sayang kepala Tya. Bergegas pergi meninggalkan ruangan kebesarannya itu dan punggungnya menghilang di balik pintu bersama Poppy mengekori.
“Saya mulai pemeriksaannya ya, Bu.”
Dokter Ambar mulai memeriksa sembari bertanya apa saja keluhan yang dirasakan tubuh Tya. Dokter Ambar lebih fokus memeriksa pada bagian tulang lengan Tya yang dipasang pen, sesuai dengan keahlian spesialisnya di bidang tersebut.
“Dari hasil pemeriksaan darurat ini, tidak ditemukan permasalahan akan kondisi pemulihan tulang yang patah. Namun keluhan yang Bu Tya rasakan sebaiknya diperiksa lebih lanjut di rumah sakit yang akan saya rekomendasikan. Saya bukan ahlinya di bidang terkait keluhan dadakan yang Anda rasakan, tapi mengacu pada kesimpulan lain di luar efek samping obat dan vitamin patah tulang. Pemicunya bisa karena kelelahan, stress berat atau bisa juga bisa dikarenakan indikasi hal lainnya.” Dokter Ambar menjelaskan pada Tya dengan serius.
“Kalau kondisi lengan saya baik, sepertinya keluhan lain saya tidak serius, Dok. Yang saya rasakan ini lebih mirip masuk angin saja. Tidak perlu sampai diperiksa lebih lanjut ke rumah sakit.” Tya menimpali mengutarakan pendapat. Merasa Dokter Ambar terlalu berlebihan.
“Tetap saja harus, Bu. Supaya saya juga bisa menyinkronkan obat serta vitamin pemulihan yang sesuai dan aman untuk ibu mulai sekarang. Saya menyarankan segera memeriksakan diri ke dokter spesialis obgyn, karena dari perkiraan saya Bu Tya sedang mengandung sekarang.”
*****
Jadwal pertemuan makan malam yang seharusnya dihadiri Bisma malam ini diundur menjadi malam akhir pekan besok. Bisma bernapas lega, lagipula diteruskan bekerja pun otaknya agak sulit berkonsentrasi, terus khawatir dengan kondisi Tya.
Pukul lima sore Bisma bertolak pulang dari Agra Prime. Dia belum sempat bertemu dengan Dokter Ambar lagi karena dokter tersebut sudah pulang mengingat pertemuannya dengan Pak Cahyo lumayan menyita waktu.
Tya bersandar di bahu Bisma sementara suaminya itu mengemudi. Tya merebahkan kepala bermanja di sana dengan senyuman yang terus terukir.
“Gimana kata Dokter Ambar? Maaf, aku tadi kelamaan, jadi enggak sempat bertanya sama dokter,” kata Bisma, meraih jemari lentik Tya yang sejak tadi digenggamnya dan mengecupnya mesra.
“Semuanya baik, Mas. Aku cuma kecapean dan kayaknya campur masuk angin. Mungkin belum terbiasa naik mobil full AC terus-terusan,” kekeh Tya yang semakin merapatkan diri pada Bisma.
Ia pun meminta Dokter Ambar supaya jangan menyampaikannnya dulu pada Bisma. Tya ingin menjadi orang pertama yang memberitahukan kabar gembira ini pada sang suami, ingin memberi kejutan spesial.
“Syukurlah. Malam ini aku janji bakalan menahan diri dan libur dulu melucuti bajumu. Maaf, karena hampir tiap malam aku enggak bisa menahan diri dan berakhir bikin kamu kelelahan sampai masuk angin. Maafin aku, Sayang,” desah Bisma penuh sesal.
Senyum Tya merekah. Rongga dadanya meletup-letup hangat. Reaksi Bisma yang amat mencemaskannya bagaikan berondongan serangan kasih sayang yang membuatnya kian terjerembab debaran rasa pada pria ini. Sungguh, membuatnya merasa berarti.
“Tapi, kalau misalnya aku yang mau gimana, Mas?”
“Mau apanya?” imbuh Bisma yang sedang fokus melihat jalanan.
“Mau Mas enggak pakai baju,” bisik Tya menggoda ke telinga Bisma. Sengaja menyapukan napas hangatnya menerpa daun telinga Bisma. Mengedip-ngedipkan matanya lucu.
Bisma melirik sekilas dan kemudian tertawa renyah. Menggenggam erat jemari Tya menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengendalikan kemudi.
“Jangan nakal gitu, Sayang. Nanti aku kebablasan lagi. Bisa-bisa kamu enggak bakal sempat pakai baju sampai Subuh.”
“Tapi aku suka,” goda Tya lagi, mengerlingkan matanya iseng. Meraba-raba dada bidang Bisma yang disambut si tampan berhidung mancung itu dengan gigitan gemas di punggung tangan Tya.
“Aku bahkan lebih dari suka. Kecanduan malah. Tapi pokoknya malam ini kamu harus istirahat.”
“Mas, makan malam kali ini mau dimasakkin apa?” tanya Tya, menumpukan dagunya di bahu Bisma.
Semenjak pulang dari Puncak, urusan memasak selalu ditangani Tya sendiri dan hanya melibatkan Teh Erna untuk membantu. Tya ingin memiliki andil dalam rumah tangganya dengan Bisma, ingin suaminya memakan hasil olahan tangannya sendiri sebagai tanda cinta juga bakti.
“Enggak usah masak. Pokoknya beberapa hari ke depan kamu harus banyak-banyak istirahat. Kita delivery saja, pesan makanan yang kamu suka.”
“Benarkah? Aku boleh pesan seafood? Pesan cumi-cumi saus padang kayak enak. Terus pingin makan bakso Tjap Haji."
Dahi Bisma mengernyit agak keheranan, seingatnya Tya tidak terlalu menyukai cumi-cumi meskipun istrinya ini bukan tipe pemilih makanan.
'Cumi-cumi? Bukannya kamu kurang suka dengan cumi? Kamu bilang tentakelnya seram.”
“Kayaknya aku enggak ngerasa seram lagi deh, Mas. Enggak tahu kenapa lidahku mendadak berliur membayangkan makan cumi-cumi yang kenyal dimasak saus padang pedas.”
Bersambung.