
Sinful Angel Bab 40
Langit abu-abu berpadu hujan yang mengguyur Kota Kembang beberapa hari ke belakang, hari ini hanya muncul tipis-tipis tersingkirkan cuaca berawan. Hanya menghalangi binar mentari samar-samar saja di sore ini, menguarkan udara hangat tercipta yang menyambut kedatangan Tya di kota sejuta kenangan itu.
Rumah sakit bedah tulang terbaik di sini menjadi tujuan Bisma begitu ban mobilnya memijak Kota Bandung. Fokus mengemudi sementara Tya yang duduk di jok tengah bersama perawat baru saja terbangun setelah di tengah-tengah perjalanan tadi jatuh tertidur efek dari obat-obatan yang diminumnya.
Seperti biasa, fasilitas ruang rawat dan pengobatan terbaik diatur Bisma untuk Tya. Perawat yang bertugas merawat Tya dari rumah sakit di Jakarta Selatan yang sekarang ikut pasti mengira calon suami pasien ini sangat mencintai calon istrinya sehingga hanya yang terbaik yang diatur untuk Tya. Padahal kenyataannya tidak demikian, Bisma tumbuh besar dalam keluarga yang terbiasa memakai fasilitas terbaik dalam segala hal, apalagi urusan kesehatan, lebih pada habbit yang sudah mendarah daging.
Proses pemindahan Tya berlangsung cepat dan lancar. Kedua rumah sakit sudah berkoordinasi, sehingga tidak terjadi kendala berarti. Dan semua itu tentu tak luput dari kekuatan uang dalam melicinkan dan memudahkan prosesnya meski tak seluruhnya.
“Tya, saya tidak bisa lama-lama menemani kamu di sini. Banyak hal yang harus diurus terkait pernikahan siri kita. Nanti, akan ada Teh Erna yang menemani kamu. Salah satu mantan ART kepercayaan saya, sedang dalam perjalanan kemari. Dan pemeriksaan terkait persiapan pembedahan serta pemasangan pen di lengan kananmu yang patah akan dilakukan Senin siang besok.” kata Bisma sesaat setelah Tya memasuki ruang rawat, selepas para perawat dan dokter jaga yang bertugas undur diri.
“Baik, Pak. Anda yang lebih tahu harus bagaimana. Maaf, saya tidak bisa ikut membantu karena kondisi saya terluka, malah banyak merepotkan.” Tya menyahuti pelan, agak meringis merasakan denyut teramat nyeri di lengan kanannya yang terbalut perban dan gips. Napasnya pendek-pendek dalam usahanya meredam sakit membelit di bagian tubuhnya yang cedera parah dan kini tampak membengkak. Kedua matanya memejam, mulutnya terlipat erat dan pipi Tya memucat lebih.
“Sakit sekali kah? Perlu saya panggilkan dokter?” tanyanya cepat, mengawasi ekspresi Tya yang tengah mengerutkan kening begitu dalam.
Tya menarik dan membuang napas teratur untuk beberapa saat. Bisma tak menginterupsi meski Tya belum menjawab pertanyaannya, mengelusi bahu Tya konstan berharap membantu meringankan rasa sakit di tubuh Tya yang pasti tidak sederhana.
“Tidak perlu, Pak. Memang sering begini, hanya saja mungkin kali ini terasa lebih sakit efek dari perjalanan jauh. Sebentar lagi juga mereda, tadi perawat sudah menyuntikkan obat melalui infus,” sahut Tya yang kini kembali membuka mata. Bibirnya sangat pucat seperti tak dialiri darah. Keningnya berembun dihiasi titi-titik keringat dingin.
Mencabut beberapa lembar tisu, secara impulsif Bisma menyeka keringat di kening Tya hingga rambut. Memastikan si keringat dingin tersingkir seluruhnya. Bisma menyeka begitu serius, sedangkan Tya yang diperlakukan penuh perhatian dengan tetap sopan untuk pertama kalinya oleh seorang pria, mengerjap kikuk tanpa bisa menghindar. Mungkin Bisma tidak menyadari, reaksi refleksnya membuat detakan dibalik rongga dada Tya bergemuruh tak aman.
Bersambung