
Sinful Angel Bab 38
Senyap menyergap ke seluruh penjuru kamar rawat inap yang ditempati Tya setelah Bisma menjelaskan secara detail alasan dari pemintaan tak lumrahnya, menambah kesunyian dalam keheningan bentang malam yang kian larut. Bukan karena tidak ada kehidupan di kamar tersebut, tetapi Tya dan Bisma tengah sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Terutama Tya, yang tampak seperti tengah merangkai kata dalam kepalanya.
“Itulah alasan saya memintamu menjadi istri saya sampai semua persoalan rumit saya ini usai. Bukan dalam artian sesungguhnya, tapi lebih pada simbiosis mutualisme. Jangan menampik, kondisimu sekarang sangat butuh bantuan dan saya pun begitu. Kita sama-sama sedang dirundung permasalah krusial, hanya saja berbeda letaknya.” Bisma kembali bersuara memecah sunyi dalam kamar, sedangkan Tya belum membuka kata lagi.
“Tidak ada salahnya bekerjasama sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalah masing-masing bukan? Selain itu, kamu harus mau berupaya untuk sembuh kembali. Caca pasti tidak suka mengetahui kamu menyia-nyiakan kesempatan bernapas di alam fana yang masih berpihak padamu hanya dilewati untuk berputus asa. Setiap kesempatan yang masih berpihak pada kita pastilah diiringi alasan di dalamnya, kesempatan untuk memperbaiki hidup ke depannya misalnya. Dan dalam proses penyembuhan ini kamu pasti butuh banyak dana terutama untuk tindakan operasi besar pada bagian lenganmu yang patah, yang disarankan dokter harus disegerakan. Saya pastikan bisa membantu dan memenuhi semua itu, dengan syarat kamu juga mau menolong persoalan rumit saya sebagai imbalannya.”
Tya yang beberapa saat terpaku menatap langit-langit, menoleh kembali pada Bisma. Nada bicara Bisma kentara sedang frustrasi akan permasalahan yang sedang dihadapi dan Tya bisa menangkap itu, pria bersahaja ini tidak sedang membual dalam setiap bait kata yang terucap.
Tya juga sangat sadar diri, mustahil Bisma memintanya jadi istri berlandaskan getar hati, sudah pasti semuanya untuk kepentingan problem solving masing-masing dan tak dipungkiri kalimat Bisma tentang simbiosis mutualisme sangat tepat. Dirinya yang hina diminta menjadi istri yang sesungguhnya oleh seorang pria baik-baik laksana pungguk merindukan bulan alias tidak mungkin. Kendati untuk sesaat tadi ketika seluruh alasan permintaan tak terduga itu dengan jujur terlontar lancar dari mulut Bisma, sepercik rasa asing menyusup dalam dada, seumpama perih tak kasat mata.
“Jadi, maksud Anda, saya hanya jadi istri pura-pura untuk sementara waktu sampai masalah Anda selesai sebagai imbalan atas materi dan waktu yang sudah Anda korbankan untuk saya dan almarhumah adik saya?” Tya bertanya pada Bisma yang sedang menatapnya lekat.
“Ya. Saya tidak setulus itu, Tya. Saya memang menuntut balasan atas semua yang telah saya lakukan buat kamu. Kalau kamu tidak bersedia, maka saya akan mencatatnya sebagai hutang yang harus kamu bayar dengan rupiah,” sahut Bisma yang sebetulnya agak tak yakin dengan ujung kalimatnya, merasa menjahati orang yang sedang tertimpa musibah. Namun, mau bagaimana lagi, situasinya pun terdesak darurat. Sehingga dia terpaksa menuntut dengan tekanan.
“Pikirkan saja dulu. Tapi, saya hanya bisa memberi kamu waktu sampai besok. Karena besok saya harus kembali ke Bandung,” sambung Bisma lagi saat respons Tya kembali menatap langit-langit tanpa kata. Bisma hendak bangkit, tetapi gerakannya terhenti teralihkan ucapan Tya.
“Saya bersedia, Pak.”
Jawaban Tya sukses membuat Bisma mengerjap sepersekian detik. “Mak-maksudnya kamu bersedia menerima tawaran saya?”
Bisma balik bertanya untuk memastikan bersama dadanya yang mendadak bergemuruh senang. Entah merasa senang lantaran jalan keluar sudah didapat atau karena hal lain dia pun tak dapat membedakan.
Bisma menahan senyumnya yang ingin terukir lebar saking leganya saat beban di dadanya luruh sekarang. Bisma mengangguk mengiyakan. “Hmm, pemikiran yang dewasa.”
“Jadi, setelah ini saya harus berpura-pura menjadi istri Anda di suasana tertentu. Begitukah maksud Anda, Pak?” tanya Tya ingin tahu lebih detail.
Bisma kembali duduk pada kursi yang tadi hendak ditinggalkannya. Menggaruk ujung hidung mancungnya.
“Kalau kamu hanya mendampingi saya di situasi tertentu, bukankah berisiko mengundang kecurigaan? Bagusnya, kamu berpura-pura sepanjang waktu. Sebenarnya, saya ingin kamu tinggal di rumah saya sebagaimana umumnya suami istri sampai situasi runyam saya ini mereda sepenuhnya,” terang Bisma, mengungkapkan pendapat.
Tya mengerutkan kening. “Yang Anda katakan memang masuk akal. Tapi, Pak, tinggal satu atap dengan Anda meski hanya untuk pura-pura dan tidak ada apapun yang terjadi di antara kita, bukankah sama berisikonya andai sandiwara kita terbongkar sebelum problem Anda usai? Anda ini pria baik-baik. Image Anda akan buruk di mata publik dan kita akan dicap pasangan kumpul kebo. Sebaiknya Anda pikirkan lagi dengan matang permintaan Anda pada saya. Lebih amannya untuk image Anda, saya hanya akan muncul di situasi yang diperlukan saja meskipun saran saya ini pun tidak sepenuhnya memupus kecurigaan khalayak terutama mantan istri Anda,” tutur Tya mengutarakan penelaahannya.
Bisma memijat pelipisnya yang berdenyut pusing. Pemikiran Tya memang benar. Dua-duanya sama berisiko. Lantas terbersit suatu ide tak biasa entah dari mana datangnya.
“Kalau begitu, kita harus menikah, Tya. Supaya tidak ada cacat yang bisa ditemukan dalam mengatasi masalah masing-masing terutama masalah gawat saya. Hanya saja saya akan menikahimu secara siri. Bagaimana menurutmu? Keberatan?” Bisma menunggu jawaban Tya dengan harap-harap cemas.
Bisma tidak menyadari kalimatnya barusan seperti memang diskenario oleh alam, yang menjejali kepalanya saat ini hanyalah mencari jalan keluar secepatnya buah dari terpeleset lidah yang berakhir memusingkan. Dan di sisi lain, Tya yang dituntut selalu realistis dalam melalui kerasnya hidup tanpa harta dan tahta, tak ragu menganggukkan kepala tanpa banyak berpikir. Merasa solusi Bisma merupakan yang paling tepat untuk mereka berdua.
“Saya tidak keberatan, Pak.”
Bersambung.