
Sinful Angel Bab 21
Bisma lanjut melajukan kendaraan dengan santai. Menyalakan musik lagu-lagu klasik juga membuka kaca jendela di sisi kiri dan kanan sampai setengahnya. Berpura-pura tidak tahu bahwa dia sedang dibuntuti oleh sedan Mercedes Benz hitam di belakangnya yang terkadang menyalip mendahului, mungkin supaya tidak terlalu kentara sedang mengikuti.
Tya bersandar mesra di bahu Bisma sembari memeluk buket bunga sepanjang perjalanan. Keduanya memasang senyum merekah. Tya terlihat mengobrol dengan Bisma yang sedang mengendalikan kemudi diselingi tawa manja bahagia. Entah apa yang sedang dibicarakan, yang jelas di mata di penguntit, pasangan itu terlihat berbincang asyik, membuatnya tak suka. Padahal, Bisma dan Tya hanya menggerakkan bibir random saja mengikuti syair lagu yang mengalun demi menyempurnakan sandiwara, bukan sedang bercakap-cakap.
“Sejak kapan Bisma jadi suka membeli bunga di momen-momen random begini dan memamerkan kemesraan dengan kaca jendela mobil terbuka? Wanita asing dari planet mana sebenarnya istrinya itu sih? Sampai-sampai bisa bikin Bisma mengubah kebiasaan! Seharusnya dia itu masih cinta mati sama aku!” Prita menggerutu tak terima selepas melihat sekilas kemesraan Bisma dengan Tya di dalam mobil saat sedannya berhasil menyalip. Memukul kesal jok di sebelahnya, melampiaskan luapan iri tak terima.
Fortuner putih Bisma berbelok ke sebuah restoran fast food terdekat. Memutuskan makan di sini saja sebab perut Tya sudah bergemuruh tak karuan. Walaupun Bisma tidak begitu menyukaimu junk food, tetapi malam ini pengecualian, yang penting tidak dimakan setiap saat. Membukakan pintu mobil untuk Tya dan menggandengnya masuk.
“Mau pesan apa?” tanya Bisma pada Tya tanpa melepas rangkulan. Seluruh resto berdinding kaca tembus pandang, mengharuskannya tetap berinteraksi intim dengan Tya sebab mantan istrinya ikut memarkirkan mobil di area parkir yang posisinya menjangkau ruang pandang ke seluruh isi resto.
“Apa saja boleh. Terserah Anda. Bagi saya, bisa makan saja sudah bersyukur banget, Pak. Yang penting perut lapar ini terisi, apalagi ditraktir begini. Saya serahkan pada yang mentraktir,” sahut Tya apa adanya. Terlihat senang melihat-lihat display makanan sembari menelan liur.
“Baiklah.”
Bisma memesan paket lengkap untuk dua orang. Tya makan lahap penuh sukacita. Sesekali Bisma menyuapinya dan Tya yang cepat tanggap situasi membuka mulutnya, membiarkan Bisma menyuapinya, bahkan mendekatkan wajah saat Bisma menyeka saus di ujung bibirnya. Tya pun gantian menyuapi Bisma, dan hal itu membuat si penonton yang duduk di dalam mobil kian meradang.
Selesai mengisi perut, Bisma dan Tya melanjutkan perjalanan menuju Hotel JW Mariott. Dari kaca spion, tampak si mobil hitam kembali mengikuti. Bukannya menyudahi, malah makin menjadi.
Ya, ampun. Mantan istrinya kayak kurang kerjaan saja! Pestanya sendiri malah dianggurin!
Tya mengomel dalam hati, geleng-geleng kepala, tak habis pikir.
Bisma memarkirkan mobil di basemen hotel di mana dia menginap. Kondisi basemen sunyi sepi. Hari pun sudah larut, hampir tengah.
Refleks, Tya menahan lengan Bisma yang hendak mendorong pintu mobil. Menghentikan sembari celingukan memerhatikan si sedan hitam penguntit yang juga ikut parkir tak jauh dari tempat Fortuner Bisma berada.
“Maaf, Pak. Saya tahu ini sangat-sangat lancang. Tapi, saya punya ide yang mungkin bisa menghentikan mantan istri Anda terus memata-matai. Minimal untuk saat ini, karena kelihatannya dia akan terus menguntit tak kenal waktu. Sepertinya kita butuh menjatuhkan sedikit syok terapi, seperti yang Anda bilang dia sedang mencari validasi dan kita harus memberikannya,” jelas Tya serius tanpa mengalihkan mata dari kaca jendela sedan hitam yang kini terbuka sedikit.
“Ide apa?” Bisma menimpali, penasaran dengan ide di kepala Tya.
“Ide saya ini mungkin agak mesum. Tapi saya yakin efeknya lebih luar biasa dibandingkan mempertontonkan sandiwara kemesraan.”
Kening Bisma terlipat dalamnya, masih tak mengerti. “Maksudnya bagaimana?”
“Pak, kita harus menggoyangkan mobil ini. Untuk membuat mantan istri Anda berasumsi menjurus. Anda bukan remaja di bawah umur. Saya yakin, Anda pasti paham maksud saya, Pak Bisma," jawab Tya menegaskan dan Bisma langsung paham apa ide yang dimaksud Tya.
Tanpa banyak kata, Bisma mengangguk setuju. Ide Tya termasuk brilian untuk memorak-porandakan keangkuhan mantan istrinya yang selalu merasa paling dipuja. Keduanya berusaha keras menggoyangkan mobil dari dalam. Orang di luar pasti mengira penumpang di dalamnya sedang berbuat hal-hal yang sangat intim, padahal Tya dan Bisma menggoyangkan jok mereka masing-masing supaya mobil berayun sempurna. Sesekali mereka berhenti, lantai melanjutkannya lagi hingga menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit.
“Saya rasa sudah cukup, Pak,” kata Tya. Napasnya ngos-ngosan, ternyata menggoyangkan mobil cukup melelahkan.
“Oke. Saya juga merasa ini sudah cukup. Sebaiknya sekarang kita turun dan segera naik ke kamar. Saya juga haus, butuh minum,” sahut Bisma sembari melirik mobil si mantan istri.
“Tunggu-tunggu, Pak. Sebaiknya Anda agak mengacak rambut, membuka kancing kemeja bagian atas serta mengeluarkan bagian kemeja yang terselip di pinggang, supaya lebih meyakinkan, Pak,” saran Tya, yang tanpa diperintah sedang menggosok lipstiknya di bibirnya sendiri supaya memudar, membuka resleting gaun di bagian depan sedikit turun, dan menyugar kedua sisi tatanan rambutnya supaya terburai sebagian seperti habis diremas-remas. .
Semula Bisma agak kikuk, tetapi saran Tya ada benarnya juga, mana mungkin dia turun dalam kondisi tetap rapi, bisa-bisa mengundang kecurigaan Prita.
Keduanya turun setelah yakin wujud mereka tak lagi rapi. Bergandengan tangan mesra menuju lift. Meninggalkan mobil hitam yang penumpangnya kini meradang memaki-maki si sopir tak bersalah, memerintahkan tancap gas dari sana.
Bersambung