Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 109



Sinful Angel Bab 109


Si Fortuner putih yang dikendarai Mang Eko dengan membawa Tya di dalamnya, di tengah-tengah perjalanan mengambil jalur berbeda dari tujuan awal.


Semula, Mang Eko hendak mengambil jalur ke rumah Khalisa sesuai pesan tuannya tadi pagi, mendadak berbelok ke arah berawanan saat sang nyonya memerintahkannya mengubah haluan.


“Kalau Neng Tya tidak jadi ke rumah temannya, terus ini kita mau ke mana?” Mang Eko yang duduk di belakang setir bertanya pada majikannya yang berada di jok tengah.


“Ke toko buah langganan kita, Mang. Saya mau beli buah-buahan,” sahut Tya yang terlihat sedang serius menunduk sembari mengotak-atik ponsel di tangannya. Menarikan jemarinya cepat, entah sedang mengetikkan apa.


Rangkaian ketikan hurup itu dikirimkannya pada Poppy. Tya mengirim pesan pada sekretaris suaminya untuk bertanya perihal Viona melalui Poppy dengan memakai alasan tak ingin mengganggu pekerjaan Bisma sementara ponsel ibu mertuanya pun tak bisa dihubungi. Tya sangat yakin Poppy pasti juga tahu perihal sakitnya Viona, karena hampir 75 persen informasi tentang sang suami beserta keluarganya sudah pasti Poppy ketahui.


Tya yakin seratus persen ibu mertuanya itu dirawat inap di rumah sakit. Menjelang Subuh tadi sengaja menguping pembicaraan Bisma dengan Nara di telepon, berpura-pura masih tertidur padahal ia sudah terbangun.


Di keheningan pagi buta yang masih senyap, telinganya dapat menangkap percakapan dengan sangat jelas, apalagi Bisma menelepon Nara di dekatnya sembari mengelus-elus kepalanya karena mengira Tya masih terlelap terbungkus nyenyak. Namun, Tya tak tahu di rumah sakit mana Viona dirawat, hanya sempat mendengar nomor kamarnya saja. Maka dari itulah ia bertanya kepada Poppy guna mencari informasi.


Balasan pesan dari Poppy mengembangkan seberkas senyum singkat di wajah Tya. Ketika meminta izin pergi keluar pada Bisma, Tya memang tidak berencana ke rumah Khalisa, melainkan hendak pergi menemui Viona. Sudah membulatkan tekad untuk bicara perlahan dari hati ke hati dengan ibu mertuanya yang pasti masih syok, sesuai dengan saran Ustadzah Farhana semalam.


“Rumah Sakit Satya Medika,” gumam Tya pelan saat membaca nama rumah sakit yang tertera dalam pesan balasan.


“Mang, bunda biasanya paling suka buah apa ya?” tanya Tya sebelum turun dari mobil yang sudah terparkir manis di pelataran sebuah toko yang menjual beraneka macam buah-buahan segar. Toko tampak ramai siang ini, sedang banyak pengunjung.


“Setahu saya, Nyonya Viona sukanya berbagai macam buah anggur. Memangnya ada apa, Neng?” tukas Mang Eko penasaran.


“Enggak ada apa-apa. Oh iya, Mang. Selesai membeli buah, kita pergi ke Rumah Sakit Satya Medika,” kata Tya sebelum menutup pintu dan melangkahkan kaki masuk ke dalam toko.


*****


Bisma, Poppy dan Hadi baru kembali ke kantor setelah melakukan pengecekan ke pabrik pengolahan teh yang kini diperluas dua kali lipat dari sebelumnya. Permintaan produk yang terus bertambah pesat tentu harus diimbangi dengan skala produksi yang ditingkatkan pula, berbanding lurus antara permintaan dengan jumlah kuantitas. Oleh karena itu perluasan pabrik pun mutlak diperlukan.


Seorang gadis usia dua puluhan yang bekerja di bagian cleaning servis Agra Prime bernama Nina, yang merupakan salah satu dari dua petugas kebersihan yang khusus membersihkan lantai 4 di mana ruangan presdir berada, tergopoh-gopoh mencegat Poppy begitu Poppy menginjakkan kaki di lobi kantor.


Walaupun dengan enggan dan sungkan, dia mengatakan memiliki hal penting yang ingin disampaikan kepada Poppy setelah Bos Agra Prime beserta Hadi berjalan lebih dulu menuju lift.


Bisma lebih dulu naik ke lantai empat ditemani Hadi, lanjut membahas topik terkait SOP serta syarat dan ketentuan terbaru yang akan diterapkan untuk produk-produk Agra Prime ke depannya, guna meningkatkan kualitas yang lebih baik lagi.


“Begini, Bu Poppy.” Petugas cleaning servis itu celingak-celinguk resah ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada orang lain lagi di sana.


“Iya, kenapa?” tanya Poppy cepat.


Nina merogoh saku bajunya, menyodorkan benda seukuran foto yang terbalut selembar tisu.


“Kemarin pagi sewaktu saya bersih-bersih, saya menemukan ini terselip di kaki meja kerja Bu Poppy dan langsung saya amankan, tidak ada satu orang pun yang tahu selain saya. Kemarin saya tidak sempat menemui Bu Poppy karena lagi banyak pekerjaan. Tapi Tenang saja, saya pastikan ini tetap jadi rahasia supaya tidak jadi bahan gosip di kantor ini. Sebagai sesama wanita, saya mencoba memahami posisi Bu Poppy,” bisiknya waspada sembari mengawasi sekitar.


“Bahan gosip? Bahan gosip gimana maksudnya?” Poppy mengerjap tak paham.


Nina lagi-lagi celingukan sebelum menjawab. Mirip gelagat detektif amatiran yang tengah mengintai.


Nina tampak bingung melanjutkan kalimat.


“Tapi apa? Anu apa? Coba ngomong yang jelas, aku harus segera naik lagi ke lantai empat,” tegas Poppy karena Nina malah terlihat bimbang.


“Maaf, anu. Masih lajang tapi ha-hamil gitu. Itu… itu foto USG punya Bu Poppy kan?” lanjutnya dengan suara yang sangat-sangat pelan.


“Hah! Hamil?” Poppy memekik terkejut dan Nina pun ikut terperanjat kaget. “Enak saja, saya ini masih ting-ting!” Poppy memelotot tajam pada Nina.


“Haduh ampun, Bu. Jangan galak-galak. Saya cuma menebak-nebak. Karena di drakor yang saya tonton, foto yang begini tuh biasanya punya orang hamil. Lantas kalau bukan punya Bu Poppy, terus foto yang saya temukan terselip di bawah kaki meja itu punya siapa? Masalahnya perempuan yang bertugas di lantai empat itu cuma Bu Poppy,” jelasnya polos dan kesimpulan Nina memang masuk akal.


“USG?” gumam Poppy sembari menatap benda terbungkus tisu di tangannya.


Dengan cepat Poppy melucuti tisu tersebut. Melihat isinya dan benar saja itu adalah foto hitam putih yang biasanya diberikan dokter obgyn saat memeriksakan kandungan. Poppy pernah beberapa kali mengantar kakaknya memeriksakan kehamilan, jadi dia lumayan sering melihat foto semacam ini juga cukup paham.


“Nah lho, terus fotonya punya siapa ini? Kenapa bisa nyasar sampai ke lantai empat?” tanya Nina semakin bingung.


Diperhatikannya foto tersebut dengan saksama. Poppy memicingkan mata guna membaca hurup berukuran kecil yang tertera di salah satu sisi foto, setahu Poppy biasanya mencantumkan nama ibu hamil juga gestational age atau usia kehamilan dan nama ‘Cintya Angela’ tercantum di sana.


“Ternyata punya Bu Tya. Tapi tunggu, Pak Bisma tahu tentang ini belum ya? Kalau iya istrinya hamil, pasti beliau heboh dan posesif deh, mengingat sudah lama menanti momongan. Tapi ini kayak adem-adem saja,” tutur Poppy keheranan sembari membolak balik foto hitam putih tersebut.


“Oh, jadi ini punya Bu Bos? Tapi kenapa ada di bawah meja Bu Poppy?” Nina yang masih belum beranjak kembali bersuara.


“Nah, aku juga bingung? Atau bisa jadi Pak Bisma memang bekerja membawa-bawa foto ini tapi terjatuh ke bawah mejaku tanpa sadar.”


“Ya ampun, so sweet. Suami idaman,” ujar Nina baper sendiri.


Poppy menjitak dahi si gadis yang senyum-senyum seperti orang gila itu.


“Hei, cepat kembali bekerja! Foto ini akan kukembalikan lagi pada Pak Bisma. Makasih ya.”


Sesampainya di lantai empat, Poppy secepatnya mengetuk ruangan sang bos. Tak berselang lama pintu tinggi itu terbuka dan Hadi lah yang melebarkan daun pintu. Tanpa banyak kata Poppy masuk menghampiri meja sang bos untuk menyerahkan si selembar foto.


“Pak, petugas kebersihan menemukan benda ini di bawah meja saya kemarin. Ini pasti punya Bapak kan? Mungkin tanpa sadar Bapak menjatuhkannya.”


Poppy meletakkan si selembar foto hitam putih itu ke atas meja kerja Bisma. Bisma mengerutkan kening dengan raut wajah aneh.


"Punyaku? Aku tidak merasa punya benda semacam ini? Atas dasar apa kamu menyimpulkan begitu,” jawabnya seraya mengulurkan tangan untuk mengambil foto tersebut dengan gerakan malas.


“Saya sangat yakin benda ini sudah pasti punya Anda atau Bu Tya. Nama yang tercantum di foto ini pun sangat jelas atas nama istri Anda. Cintya Angela adalah nama lengkap Bu Tya dan foto ini ditemukan di bawah meja saya di mana yang naik ke sini hanya orang-orang tertentu saja. Tidak mungkin milik saya maupun Hadi karena ini adalah foto USG kehamilan,” jelas Poppy panjang lebar.


Semula Bisma agak kesal dengan kebawelan sekretarisnya yang memang selalu mendetail dalam menjelaskan setiap hal. Namun, saat mendengar ujung kalimat Poppy yang ditekankan nadanya, di detik itu juga Bisma terkesiap dan serta merta tersentak bangkit dari duduknya.


“Apa kamu bilang? Maksudnya Tya hamil?"


Bersambung.