Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 82



Sinful Angel Bab 82


Tya mengerjap terkejut mendengar pengakuan Bisma. Menelan ludahnya susah payah membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering bak musim kemarau. Rongga dadanya terasa penuh, sebab detak sumber kehidupan di baliknya bertalu lebih cepat, tak beraturan, menggedor-gedor di dalam sana.


“Mak-maksudnya gi-gimana, Mas?” Tya tergagap. Otaknya mendadak blank mendengar rangkaian kata sakti yang meluncur bebas dari mulut Bisma.


"Maksud yang mana? Meriang atau I love you?" goda Bisma jahil, membuat lidah Tya kelu. "Maaf tentang meriang. Aku cuma ingin tahu reaksimu dan tak disangka kamu bahkan bersedia jauh-jauh menyusulku ke sini. Aku tersanjung." Bisma lagi-lagi tersenyum merekah menampakkan deretan rapi gigi putihnya.


"Yang... yang di ujung kalimat," sahut Tya agak malu.


Bisma bukannya menjawab. Dia mendaratkan kecup sekilas di bibir ranum di depannya dan merangkul pinggang ramping Tya semakin terperangkap di antara kedua lengannya. Bisma mengaitkan rambut Tya yang sebagian terurai lepas dari kunciran ke belakang telinga. Menatap Tya dengan sorot memuja yang pernah ada membuat yang ditatap tersihir mematung. Mengusap pucuk kepala Tya dengan lembut.


“Baiklah, kuperjelas. Aku enggak suka berbasa-basi. Bukan masanya lagi di usia kepala tigaku ini. Tya, aku cinta kamu, aku jatuh cinta sama kamu,” kata Bisma lagi tanpa ragu disusul kecupan berlabuh di kening Tya cukup lama. Bukan kecupan menggoda seperti tadi, melainkan kecupan sarat akan makna ketulusan hati.


Tya menggigit bibir. Desir menyejukkan tak biasa merambati nadi, mengalir indah tersampaikan hingga ke sanubari saat kata cinta dan laku mesra Bisma menghunjani. Kedua tangannya meremas botol minyak angin yang belum sempat dibuka tutupnya. Menunduk dalam dengan bibir terkatup rapat ketika Bisma menyudahi kecupan di kening.


Bisma menelengkan kepala. Ingin mengintip ekspresi wanita bersweater warna dusty pink yang duduk di pangkuannya sembari menundukkan kepala sangat dalam. Rona tersipu di wajah Tya berganti sendu.


“Kenapa? Ada yang salah? Mungkinkah rasa khawatirmu padaku bukan seperti perkiraannku? Apakah aku salah menyimpulkan?” cicit Bisma lagi, meluncurkan tanya beruntun menuntut.


“Bukan begitu,” lirih Tya sangat pelan seraya menggelengkan kepala, helaan napasnya terdengar berat.


“Kalau bukan terus kenapa, hmm?” Bisma sama sekali tidak kesimpulannya. Sangat yakin Tya pun memiliki rasa yang sama dengannya. Dia bukan bocah kemarin sore, pernah mencinta dan dicintai sebelumnya.


Meski enggan, Tya memberanikan diri membalas tatapan Bisma hingga mata mereka bersirobok dalam satu garis lurus. Membasahi bibirnya sembari menggulirkan bola mata jernihnya yang ternyata mengkilap basah.


Bisma terkesiap, menyapukan ibu jari pada jejak buliran kristal bening yang baru saja meluncur lagi di pipi Tya. “Ada apa? Kenapa menangis? Kamu keberatan dengan ungkapan rasa hatiku? Apakah aku membebanimu? Aku enggak memaksa kalau memang kamu tak punya rasa yang sama denganku, Tya. Rasaku adalah milikku, kamu sama sekali enggak berkewajiban untuk membalas.”


Tya menggeleng sembari terisak pelan. Menatap sendu dengan mata berlinang. Menyentuh punggung Bisma yang sedang membelai pipinya.


“Kamu mengira aku se red flag itu? Mudah mengucapkan kata cinta?”


“Sama sekali enggak. Tapi, Mas enggak lupa kan siapa Cintya Angela ini di masa lalu? Aku bukan wanita suci murni yang layak dicintai apalagi oleh sosok sepertimu. Mas terlalu baik buat aku, sedangkan aku terlalu buruk untukmu, aku cuma manusia hina penuh dosa.” Air mata Tya yang berkumpul di pelupuk kembali berjatuhan. Membasahi pipi mulusnya yang tak henti diseka lembut jemari Bisma.


“Memangnya standar baik dan tidaknya setiap orang itu diukur oleh apa? Justru orang yang merasa dirinya buruk penuh dosa adalah orang baik yang sesungguhnya. Karena orang baik tidak akan menilai dirinya sendiri baik. Hanya Sang Pencipta yang memiliki hak penuh menilai baik dan tidaknya manusia, yang mampu menyelami hingga ke dasar hati. Yang terpenting jangan pernah menyurutkan tekad dan niat untuk memperbaiki diri setiap harinya. Aku pun sama saja, banyak dosa. Baik yang disengaja maupun tidak. Bukan manusia sempurna. Kamu dan aku memiliki hak asasi yang sama sebagai sesama manusia.”


Bagi Tya, kalimat Bisma laksana semilir angin di kala senja menyapa. Sejuk segar berpadu kehangatan sang surya. “Jadi, apakah aku juga punya hak untuk menyatakan apa yang kurasakan di hatiku sekarang?”


“Tentu saja boleh. Memangnya apa yang kamu rasakan?"


“Kalau benar begitu, apakah aku juga boleh jatuh cinta pada Mas?” lirihnya ragu.


Bisma mengulum tawa bahagianya. Ungkapan hati Tya menyempurnakan getar rasa di jiwanya. “Sangat boleh. Itulah yang kuharapkan darimu, Istriku. Mungkin tanpa kita sadari, jalan kita berjodoh agak tak lumrah, tapi aku selalu yakin akan ketetapan garis kehidupan.”


Tya terisak haru. “Ya, istri. Aku adalah istrimu kan Mas? Dan kamu adalah suamiku?”


Bisma menyatukan sebelah telapak tangannya dengan Tya. Menyusupkan jari di setiap ruas jemari lentik Tya, membawanya untuk dikecup.


"Ya, aku adalah suamimu. Ingatlah itu baik-baik, jangan berani melupakannya walaupun hanya sedetik, Sayang.”


Suara serak Bisma tenggelam saat bibirnya kini membungkam mesra bibir Tya yang bergetar terbungkus tangis bahagia. Botol minyak angin di tangan Tya meluruh jatuh ke sisi tempat tidur saat si empunya dibawa rebah ke tengah ranjang.


Dikungkung dalam dekapan intim penuh cinta, Tya mengalungkan kedua lengan ke leher Bisma saat pria yang telah menyatakan desir merah jambu secara gamblang itu memperdalam ciuman. Bukan hanya sekadar menyatukan keranuman masing-masing, tetapi juga menautkan debaran rasa yang memulai saling merajut simpul hati, mengikrarkan cinta di sanubari.


Bersambung.