Sinful Angel

Sinful Angel
SA Bab 52



Sinful Angel Bab 52


Pukul sepuluh malam Bisma dan Tya baru kembali ke rumah. Temu kangen Tya dengan teman karibnya setelah lama tak jumpa yang dari pandangan Bisma terlihat selayaknya saudara itu, berlangsung cukup lama.


Bisma juga sempat berbincang tipis-tipis dengan suami dari Khalisa yang bernama Yudhistira itu selepas makan malam di sebuah restoran Jepang berkonsep all you can eat. Bertukar kata sekilas terkait profesi masing-masing. Bisma pun dibuat kagum saat mengetahui bahwa sosok pengacara perlente itu adalah Advokat Raksa Gantari, yang tim pengacara di sana dikenal lebih banyak membantu dan membela orang kecil yang sedang ditimpa masalah ketimbang mendampingi orang-orang berduit.


"Sebelum tidur, Jangan lupa minum obat pemulihanmu juga vitaminmu. Kondisi tubuhmu harus terjaga. Ingat, kita akan bepergian jauh," kata Bisma mengingatkan begitu mereka sudah berada di depan pintu kamar masing-masing.


Tya berdiri tertegun, melirik Bisma dengan bola mata jernihnya. Kalimat semacam itu memang sudah sering didengar Tya semenjak tinggal di sini. Akan tetapi, entah kenapa malam ini kata-kata tersebut terdengar seperti sebuah perhatian baginya. Menelusup ke sela-sela hati lembutnya yang selalu dipagari jeruji tahu diri.


Buru-buru Tya menepis angan tak diundang yang muncul di kepalanya. Ingin rasanya Tya memukul kepalanya saat ini.


"Iya, Mas. Kupastikan akan menjaga kondisiku sebaik mungkin. Dan aku ingin bilang makasih banyak, sudah mengijinkanku melepas rindu dengan teman lamaku, lebih tepatnya Khalisa itu sudah seperti keluargaku sendiri," ucap Tya seraya mengulas senyum penuh syukur.


Bisma mengangguk tipis. "No problem. beristirahatlah, aku masuk duluan."


"Silakan, Mas."


Bisma masuk lebih dulu ke ruang peraduannya. Tya, menyusul masuk ke kamarnya sendiri setelah pintu kamar Bisma tertutup kembali.


Tya mengganti bajunya dengan gaun tidur panjang berbahan kain rayon yang nyaman memeluk tubuh setelah bersih-bersih ala kadarnya saja, lagipula sekujur tubuhnya masih bersih, baru selesai melakukan perawatan spa beberapa jam lalu yang masih meninggalkan jejak aroma harumnya sangat kuat sampai sekarang.


Duduk di tepian ranjang, Tya membuka laci nakas tempat di mana obatnya tersimpan. Gerakannya terhenti saat hendak membuka kemasan obat, tatapannya jatuh ke arah jari manisnya, baru menyadari cincin yang hendak dikembalikannya pada Bisma di hati kecelakaan masih melingkar di sana.


Sementara itu di kamar sebelah. Bisma justru sedang menghujani sekujur tubuhnya dengan air dingin di kamar mandi. Keran pemutar shower diputar hingga habis, memilih kucuran air yang paling deras mengguyur ubun-ubun.


Tadi sore Bisma langsung berangkat pergi. Ketika pulang makan malam, badannya terasa lengket juga gerah karena belum sempat bersua dengan air sepulang bekerja. Sehingga dia memilih mandi dan keramas menggunakan air dingin malam-malam begini guna mengenyahkan keringat supaya tubuh segar kembali.


Selain karena hal itu, air dingin sengaja dipilih juga demi meredam sesuatu yang menggelitik insting purbanya. Terpantik begitu saja selama perjalanan pulang. Akibat dari aroma tubuh Tya selepas perawatan begitu harum menggoda, memabukkan indra hidunya.


Bisma masihlah pria normal. Terlebih lagi konon, di usia tiga puluhan para pria sedang beringas-beringasnya dalam urusan hasrat. Juga sebagaimana lumrahnya para pria yang memang diciptakan sebagai makhluk visual, Bisma juga suka dengan keindahan, kecantikan dan kelembutan perhiasan dunia. Terlebih lagi jika keindahan Tya yang mengganggunya tadi berpadu aroma memabukkan juga aura sensual.


Setiap hari bersinggungan dengan sosok Tya yang memiliki pesona memikat sejak pertama jumpa, tak dipungkiri Bisma terkadang dilanda desiran tak biasa. Diartikannya sebagai reaksi lumrah yang mungkin biasa dialami para pria dewasa sepertinya saat berdekatan dengan lawan jenis, bukan berkaitan dengan getar rumit yang melibatkan hati, mengingat hatinya sampai detik ini masih diselimuti jejak luka meski sudah mengering.


Beberapa saat lalu sesuatu dalam dirinya mengaum hampir tak terkendali. Maka dari itulah, Bisma memutuskan masuk ke kamar lebih dulu dan berlari tergesa menuju bilik mandi. Demi meredam sisi lain dirinya yang menggeliat menuntut.


"Hhh, segarnya," desah Bisma lega sembari menggosokkan handuk kecil di rambutnya yang setengah basah. Dia sudah selesai membasuh diri dan berganti baju.


Berdiri di depan cermin setelahnya, Bisma bermaksud mengeringkan rambut menggunakan hair dryer. Menghindari tidur dengan rambut basah yang bisa mengakibatkan sakit kepala saat terbangun besok.


Namun, gerakannya terhenti ketika tatapannya jatuh pada suatu objek yang memantul di cermin. Baru menyadari cincin warisan yang pernah dipakainya berbarengan dengan Tya sebelum berangkat ke pesta Prita, masih melingkar di jari manisnya.


Memutar dan menggulirkan cincin tersebut, Bisma lantas bergumam sembari menipiskan bibir. "Hei, kenapa aku baru menyadari sekarang kalau cincin ini masih betah melingkar di sini?"