
Sinful Angel Bab 140
Viona membiarkan Prita memesan makanan dan menghabiskan menu yang disajikan terlebih dahulu. Sedangkan dirinya memesan segelas jus jeruk, hanya sebagai pemanis meja di hadapannya agar tidak terlalu sepi.
Prita makan dengan lahap. Meneguk air putihnya hingga tandas kemudian menyeka mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah disediakan.
“Mau tambah?” tawar Viona sebab melihat Prita makan seperti orang kelaparan.
Prita lagi-lagi melambung, tawaran Viona diartikannya sebagai perhatian manis spesial untuknya. Membuatnya jumawa, merasa masih memiliki panggung dalam kehidupan mantan ibu mertuanya. Padahal, Viona menunjukkan kepedulian sebab tak bisa abai begitu pada kondisi si jabang bayi, terlebih lagi saat ini dia juga memiliki menantu yang sedang mengandung cucunya. Saat melihat perut buncit Prita, Viona teringat dengan kehamilan Tya.
“Tidak usah, Bunda. Aku sudah kenyang,” sahut Prita semringah sembari mengelus perutnya.
“Jadi, hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?” Viona mulai membuka percakapan ke arah yang lebih meruncing.
Prita membetulkan posisi duduknya. Mengambil ancang-ancang sebelum melancarkan amunisi provokasi.
“Tentang hal yang sangat penting. Mungkin ini mencengangkan dan sejujurnya aku tak sampai hati menyampaikannya pada Bunda. Bunda pasti sangat kecewa. Tapi, kurasa Bunda harus tahu tentang hal ini,” ucapnya dengan ekspresi turut kecewa yang dibuat-buat.
“Tentang apa?” Viona menelisik waspada.
“Ini tentang menantu baru Bunda. Tentang istri Bisma yang namanya Cintya itu,” tuturnya antusias.
“Tentang Tya? Memangnya ada apa dengannya?” Dari bahasa tubuh Prita, sedikit banyak Viona sudah dapat menebak ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
Prita menggeser kursinya mendekat pada Viona. Mulai mencerocos berapi-api membahas Tya saat diberi waktu dan tempat, hingga berujung pada bahasan kelam masa lalu Tya, menjelek-jelekkan Tya hingga ke dasar tanpa berkaca diri.
“Jadi begitu, Bunda. Mencengangkan bukan? Aku saja sampai tidak percaya dan aku mendapat informasi ini bukan dari sembarang orang. Aku sangat khawatir nama baik keluarga Bunda tercoreng saat menemukan fakta semacam ini. Ini tidak bisa dibiarkan Bunda, dia itu mantan wanita malam! Juga bisa jadi cuma tukang porot!” ujarnya berapi-api. Belum sadar dengan reaksi Viona yang tetap luwes dan kalem sejak dirinya bercerita dari awal hingga akhir.
Nada bicara Prita jelas tak suka Bisma berbahagia. Sebagai ibunya Bisma, Viona dengan mudah menangkap nada sumbang kedengkian kepada putra bungsunya itu. meski cerita Prita ditata seapik mungkin dan dibungkus pernyataan yang mengklaim hanya menyampaikan kekhawatiran akan image keluarganya.
Saking semangatnya ingin menghancurkan kebahagiaan Bisma dan Tya juga berambisi menggebu ingin membangun jalan instan memonopoli perusahaan baru sang mantan suami.
Prita sampai tidak fokus dengan ekspresi Viona yang tampak tenang-tenang saja bahkan pandangannya mulai membias penuh antisipasi. Padahal lumrahnya seharusnya mantan ibu mertua di hadapannya ini terlonjak kaget saat mendengar fakta masa lalu menantu barunya dari mulut Prita.
“Sudah selesai?” tanya Viona yang kini menegakkan punggung.
“Maksudnya selesai gimana, Bunda?” Prita menyahuti tak mengerti.
“Maksud Bunda, kamu sudah selesai bercerita atau masih ada yang ingin disampaikan?”
“Kalau sudah selesai, Bunda duluan ya. Masih ada yang harus dikerjakan.” Viona bangkit dari duduknya.
Prita dibuat terheran-heran. Bukan reaksi ini yang diharapkannya. Dia tahu seperti apa tegasnya sikap seorang Viona mengingat mantan ibu mertuanya ini bukanlah wanita biasa, seorang pemimpin dalam bisnis fashion besar yang digeluti secara pribadi sedari muda sekaligus komisaris perusahaan peninggalan orang tuanya. Namun, kali ini di luar ekspektasi, Viona tampak adem ayem saja.
“Lho, Bunda tunggu. Bunda paham kan dengan isi ceritaku? Bunda mendengarkannya dengan baik kan?” Prita yang ikut bangkit dari duduknya menahan lengan Viona.
Viona mengangguk tipis. “Tentu saja Bunda paham dan mendengar dengan baik. Bunda belum pikun juga tidak tuli.”
“Tapi… tapi kenapa Bunda tidak marah?” cecar Prita amat kebingungan. Tatapannya bergulir penuh tanya.
Dengan perlahan Viona melepaskan genggaman Prita di tangannya.
“Prita, sebaiknya berhenti mencampuri urusan keluargaku. Belum cukupkah Bisma kamu khianati dan kamu buat bangkrut dulu? Kamu mengeruk serta menguasai perusahaan walaupun lewat jalur belakang, dengan cara licik menggunakan bantuan ayahmu. Bersyukurlah karena dulu urusan itu tidak kuperpanjang, karena bagiku putraku lebih berharga dari harta yang kamu rampas. Aku merasa lega akhirnya anakku lepas darimu meski banyak yang harus dikorbankan. Dan sebagai seorang ibu, kewarasan Bisma lebih utama. Saat itu aku lebih memilih menghibur anakku yang terpuruk dan berupaya mengobati luka yang kamu buat tanpa peduli dengan harta yang terlepas dari genggaman!” tegas Viona meluapkan emosi yang sudah lama bercokol dalam dada.
Dia sudah muak berbasa-basi. Bahkan sebutan untuk dirinya pun sudah berganti dari 'Bunda' menjadi 'aku'.
Sudut mata Viona menggenang saat teringat kembali bagaimana hancurnya Bisma dulu, masih untung putranya itu tetap terjaga kewarasannya setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri Prita bercinta dengan sahabatnya dekatnya.
“Ta-tapi Bunda, kalau gosip ini tersebar efek buruknya tentu saja berimbas pada nama baik keluarga Bunda. Kenapa malah mengungkit masa lalu?” sergah Prita tak terima kesalahannya dibahas di sini. Menggebu saat membahas cacat orang lain, tetapi tak ingat degan cacat diri sendiri. Sungguh lupa diri.
“Itu bukan urusanmu. Jika tersebar pun memang begitulah faktanya. Tapi aku percaya, pribadi baik Tya yang berasal dari hati bersih dan tulusnya akan berbinar dengan sendirinya, biarkan alam yang bekerja, alam lebih tahu mana yang baik dan tidak. Jangan pernah merecoki keluargaku lagi, terlebih lagi menyentuh kebahagiaan anak-anakku, baik itu Bisma dan Tya maupun Nara dan Arkana. Mungkin dulu aku memilih mengikhlaskan, tapi kalau sekarang kamu berulah lagi, aku takkan tinggal diam, Prita. Kamu pasti tahu betul pengaruhku seperti apa, bila perlu aku akan menggunakan seluruh kekuasaanku untuk melindungi anak-anakku dan cucu-cucuku. Camkan itu!”
Viona hendak balik kanan bermaksud untuk pergi. Tak berminat lagi berlama-lama di sini dengan matan menantunya yang sudah putus urat malunya.
Akan tetapi, lagi-lagi Prita mencekal lengannya, lebih kuat dari sebelumnya.
“Bunda… Bunda tidak boleh begini. Tya itu cuma mantan ******, tidak pantas jadi istri Bisma apalagi menjadi mantu Bunda!” teriak Prita histeris.
“Aku sudah tahu itu jauh sebelum kamu mengetahuinya. Juga, memangnya kamu ini siapa? Pantas dan tidaknya Tya menjadi menantuku juga istri dari putraku kamu sama sekali tidak punya hak mengutarakan ketidaksetujuan! Lagi pula lebih baik mantan ****** daripada mantan wanita terhormat!” bentak Viona yang sudah habis kesabaran.
“Kalau begitu, aku takkan segan lagi menyebarkan aib istri Bisma biar kalian dipermalukan khalayak! Kita lihat kesombongan Bunda sampai mana!” ancam Prita dengan dada tersengal, benar-benar sudah tidak waras.
“Sebarkan saja. Tapi jangan menyesali tindakanmu itu nantinya. Saat kamu berani melemparkan satu bom saja untuk menghancurkan keluargaku, maka aku akan membalas dengan sepuluh bom yang lebih dahsyat. Dan satu lagi, jangan panggil aku Bunda, aku muak mendengar kata itu keluar dari mulutmu! Panggil aku Nyonya Viona. Kita sudah tidak punya hubungan sedekat itu lagi, saudari Prita Arhdya!”
Viona menyentak lengannya kencang supaya terlepas dari cekalan Prita. Berderap cepat meninggalkan Prita yang menjerit-jerit tak terima akibat misi busuknya gagal total.
Bersambung.